Dorong Internasionalisasi Kampus, UMS Gelar Capacity Building

Director of Access Programs, Continuing and Professional Education, University of California, Davis, Jacob Hosier, M.A. saat mengisi materi workshop.
Director of Access Programs, Continuing and Professional Education, University of California, Davis, Jacob Hosier, M.A. saat mengisi materi workshop.

ums.ac.id, SURAKARTA – Komitmen untuk menjadi kampus unggulan global terus dilakukan Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS). Ikhtiar tersebut dilakukan dengan menggelar lokakarya “Capacity Building Workshop for Internationalization: Dream Big, Think Global, Act Now”, di Ruang Seminar, Gedung Induk Siti Walidah, UMS, Senin (21/4).

Kepala Biro Kerja Sama dan Urusan Internasional (BKUI) UMS Andy Dwi Bayu Bawono, S.E., M.Si., Ph.D. mengatakan workshop tersebut bertujuan untuk memberikan pemahaman visi internasionalisasi kampus kepada jajaran fakultas dan program studi di UMS.

“Kami ingin membuat UMS lebih mengarah pada dunia internasional. Kami menginginkan seluruh civitas academica UMS untuk ikut memahami internasionalisasi,” ujar Andi.

Workshop tersebut merupakan hasil inisiasi Education USA dan Kedutaan Besar Amerika Serikat di Jakarta, bekerja sama dengan UMS dan Universitas Muhammadiyah Kalimantan Timur (UMKT).

Para peserta Capacity Building Workshop for Internationalization: Dream Big, Think Global, Act Now.
Para peserta Capacity Building Workshop for Internationalization: Dream Big, Think Global, Act Now.

Sebagai informasi, Education USA merupakan bagian dari Kementerian Luar Negeri AS yang bertugas mempromosikan studi lanjutan dan kerja sama riset di Negeri Paman Sam. Education USA berperan aktif dalam menjembatani kolaborasi kampus di Indonesia dengan Amerika Serikat.

Andi menyebut UMS telah memasang target, yakni pertukaran mahasiswa Indonesia dan Amerika Serikat, meningkatkan jumlah mahasiswa dan dosen asing untuk mengajar di UMS, mengirimkan dosen UMS untuk mengajar di luar negeri, hingga melaksanakan kolaborasi riset dan publikasi.

“Apalagi UMS ini kampus islami, sehingga kami ingin mengundang tokoh-tokoh di luar negeri yang berminat untuk belajar religious studies di UMS,” tegasnya.

Dua pemateri yang hadir dalam workshop tersebut adalah Director of Access Programs, Continuing and Professional Education, University of California, Davis, Jacob Hosier, M.A. dan Ketua Program Studi Magister Teknik Geomatika, Universitas Gadjah Mada, I Made Andi Arsana, Ph.D.

Di sesi pertama, Jacob Hosier memaparkan pentingnya memahami kebiasaan mahasiswa Amerika Serikat yang melanjutkan studi di luar negeri pula. Pemahaman karakter tersebut akan mendorong perguruan tinggi di Indonesia, khususnya UMS untuk menggaet mahasiswa Amerika Serikat untuk belajar di Indonesia.

“Mahasiswa Amerika Serikat ingin merasakan pengalaman baru, seperti belajar bahasa, cara hidup masyarakat lokal, dan meningkatkan perkembangan diri,” tutur Jacob.

Sementara di sesi kedua, I Made Andi Arsana membeberkan sejumlah tantangan internasionalisasi yang dihadapi perguruan tinggi Indonesia. Mulai dari keberadaan kelas internasional, hingga alokasi anggaran untuk mengikuti pertukaran ke luar negeri.

Ketua Program Studi Magister Teknik Geomatika, Universitas Gadjah Mada, I Made Andi Arsana, Ph.D.
Ketua Program Studi Magister Teknik Geomatika, Universitas Gadjah Mada, I Made Andi Arsana, Ph.D.

Pria yang akrab disapa Andi itu menyebut salah satu strategi untuk internasionalisasi adalah dengan cara resiprokal atau berbalasan. Kerja sama tersebut harus dilandasi dengan komitmen saling membutuhkan.

“Mahasiswa asing yang ke Indonesia akan dibiayai kampus tujuan, begitu pula mahasiswa Indonesia yang berangkat ke luar negeri akan dibiayai kampus tujuan. Ini win-win solution-nya,” jelas Andi.

Workshop yang digelar selama 7 jam itu mendapat sambutan positif jajaran dosen di UMS. Peserta workshop yang juga dosen Prodi Farmasi UMS, Peni Indrayudha, S.F., M.Biotech., Apt., Ph.D., mengaku mendapat banyak pemahaman baru mengenai strategi mendatangkan mahasiswa maupun dosen dari luar negeri untuk berkolaborasi di UMS.

Menurut Peni, untuk menggaet mahasiswa dan dosen asing, prodi di UMS harus membuat program yang khas dan unik. Misalnya prodi Farmasi yang bisa memperkenalkan jamu dan obat-obatan herbal kepada mahasiswa dan dosen asing. Ia berharap UMS semakin bersinar di kancah global.

“Semoga kerja sama internasional UMS semakin mendapat dukungan dari program studi di UMS, sehingga perankingan UMS benar-benar berdampak,” pungkas Peni. (Gede/Humas)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

News UMS kini hadir di Saluran WhatsApp dengan klik Universitas Muhammadiyah Surakarta