UMS Berdayakan Ibu-Ibu Kartasura, Sulap Minyak Jelantah Jadi Lilin Aromaterapi

ums.ac.id, SURAKARTA — Tim Pengabdian Masyarakat Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) sukses menginisiasi pembentukan Bank Sampah Paguyuban Perumahan sekaligus memberikan pelatihan inovatif menyulap limbah minyak goreng bekas (jelantah) menjadi lilin aromaterapi. Program pemberdayaan ini menyasar ibu-ibu rumah tangga di Perumahan Babussalam Grandcity, Kecamatan Kartasura, Kabupaten Sukoharjo (7/6/2026).

Langkah strategis ini diambil sebagai bentuk komitmen nyata civitas akademika UMS dan warga setempat dalam mewujudkan kawasan permukiman yang bersih, ramah lingkungan, sekaligus memiliki kemandirian ekonomi.

Ketua Tim Pengabdian UMS, Rezania Asyfiradayati, SKM., MPH., menyatakan bahwa program ini fokus pada penanganan limbah cair rumah tangga yang selama ini sering kali dibuang sembarangan dan mencemari saluran air bersih. Melalui edukasi yang tepat, limbah domestik tersebut terbukti dapat didaur ulang menjadi barang bernilai guna.

“Limbah minyak jelantah dapat dimanfaatkan sebagai bahan dalam pembuatan lilin aromaterapi. Dengan pengabdian ini, upaya untuk memanfaatkan kembali limbah yang selama ini hanya dibuang bisa menjadi lilin yang dapat dimanfaatkan pada masing-masing rumah, atau bahkan memberikan dampak ekonomi yang dapat dirasakan kembali oleh warga,” ujar Rezania, yang juga merupakan Dosen Program Studi Kesehatan Masyarakat UMS.

Dalam sesi pelatihan, para ibu rumah tangga diajak mempraktikkan langsung seluruh tahapan produksi. Proses dimulai dari penjernihan minyak jelantah menggunakan bahan-bahan alami, dilanjutkan dengan penyaringan, pencampuran bahan pengeras (stearin), pewarnaan, hingga pemberian essential oil dengan berbagai varian aroma terapeutik yang menenangkan.

Produk lilin aromaterapi yang dihasilkan tidak hanya berfungsi sebagai alat penerangan alternatif atau pengharum ruangan, tetapi juga memiliki potensi nilai jual yang tinggi di pasaran.

Kegiatan ini mendapatkan respons dan antusiasme yang luar biasa dari warga perumahan. Banyak di antara mereka yang baru menyadari bahwa limbah dapur yang awalnya dianggap merusak lingkungan, ternyata bisa diubah menjadi produk estetis yang menghasilkan keuntungan finansial.

“Pelatihan lilin jelantah menjadi ilmu yang sangat bermanfaat bagi kami. Dengan ini, warga berkomitmen untuk terus menjalankan program ini agar lingkungan perumahan bisa menjadi contoh perumahan yang mandiri dalam mengelola limbah,” ungkap salah seorang perwakilan warga setempat.

Melalui sinergi antara pembentukan Bank Sampah Paguyuban dan inovasi pemanfaatan lilin aromaterapi ini, Perumahan Babussalam Grandcity Kartasura kini siap bertransisi menjadi kawasan percontohan permukiman ramah lingkungan yang minim limbah (zero waste).

Bagikan informasi ini kepada temanmu

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

News UMS kini hadir di Saluran WhatsApp dengan klik Universitas Muhammadiyah Surakarta