ICDENTS FKG UMS 2026 Bahas Revolusi Kedokteran Gigi dengan Paradigma Regenerative Dentistry

Pemaparan materi terkait pemanfaat teknologi AI di bidang ortodonti oleh Associate Professor Dr. Asma Al Husna Abang Abdullah dari USIM
Pemaparan materi terkait pemanfaat teknologi AI di bidang ortodonti oleh Associate Professor Dr. Asma Al Husna Abang Abdullah dari USIM

ums.ac.id, SURAKARTA – Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) kembali menegaskan komitmennya dalam pengembangan ilmu kedokteran gigi melalui penyelenggaraan International Conference On Dentistry Education, Novel Technologies and Sciences (ICDENTS) 2026, Rabu (8/7/2026). Mengusung tema “Innovating Dentistry: Artificial Intelligence, Regenerative and Green Dentistry for Global Oral Health”, konferensi internasional ini diikuti lebih dari 200 peserta serta mempresentasikan 16 artikel ilmiah.

Ketua Panitia ICDENTS 2026, drg. Nur Ariska Nugrahani, M.Imun., menjelaskan bahwa konferensi tersebut menjadi wadah bagi akademisi, klinisi, peneliti, dan mahasiswa untuk bertukar gagasan sekaligus memperkuat kolaborasi internasional dalam menghadapi perkembangan dunia kedokteran gigi.

“Konferensi ini bertujuan merefleksikan praktik klinis, mengembangkan kolaborasi, serta mendorong inovasi di bidang kedokteran gigi. Kami ingin membangun jembatan antara sains dan praktik, sekaligus menghubungkan inisiatif lokal dengan dampak global,” ujarnya.

Ia menambahkan, kemajuan teknologi harus tetap berpijak pada nilai kemanusiaan.

“Kedokteran gigi bukan hanya tentang sains dan teknologi, tetapi juga tentang manusia. Setiap inovasi harus mampu meningkatkan kualitas hidup pasien dan menghadirkan layanan kesehatan yang lebih setara,” ungkapnya.

Sementara itu, Wakil Rektor I UMS Prof. Ihwan Susila, Ph.D., menilai perkembangan teknologi akal imitasi (AI) telah membawa perubahan nyata dalam praktik kedokteran gigi.

Menurutnya, AI tidak lagi menjadi konsep masa depan, melainkan telah membantu dokter gigi dalam interpretasi radiografi, prediksi penyakit, pengambilan keputusan klinis, hingga mendukung proses pendidikan calon dokter gigi.

Di sisi lain, ia menyoroti perkembangan regenerative dentistry yang membuka peluang baru dalam penyembuhan jaringan melalui pemanfaatan stem cell, rekayasa jaringan (tissue engineering), dan biomaterial.

“Konferensi ini lahir dari keyakinan bahwa tantangan terbesar dalam kesehatan gigi dan mulut tidak dapat diselesaikan sendiri. Dibutuhkan kolaborasi lintas negara, lintas disiplin, dan lintas generasi,” kata Ihwan.

Salah satu pembicara internasional dari Universiti Sains Islam Malaysia (USIM) Associate Professor Dr. Asma Al Husna Abang Abdullah memaparkan bagaimana AI mulai merevolusi bidang ortodonti. Menurutnya, terdapat tiga manfaat utama AI, yakni meningkatkan akurasi diagnosis, memperluas akses pelayanan kesehatan gigi, dan mendukung peningkatan kesehatan gigi masyarakat secara global.

Pemaparan Dr. Zaleha Binti Shafiei, Ph.D., dari Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM)
Pemaparan Dr. Zaleha Binti Shafiei, Ph.D., dari Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM)

Ia menjelaskan, AI kini mampu melakukan analisis sefalometri secara otomatis hanya dalam hitungan detik melalui platform digital.

Teknologi AI juga dapat menganalisis data tiga dimensi (3D) yang kita miliki, mengevaluasi posisi gigi dan jaringan lunak, memprediksi risiko root resorption sebelum perawatan dimulai, hingga mensimulasikan berbagai alternatif rencana perawatan bagi pasien.

“Tetapi ortodontis masih yang mengambil keputusannya,” tegasnya.

Sementara itu, Dr. Zaleha Binti Shafiei, Ph.D., dari Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM), memaparkan mengenai perubahan paradigma menuju regenerative dentistry, yaitu pendekatan kedokteran gigi yang tidak lagi hanya berfokus memperbaiki kerusakan menggunakan material buatan, tetapi berupaya mengembalikan fungsi jaringan gigi secara biologis.

Ia menjelaskan bahwa perkembangan teknologi digital seperti Cone Beam Computed Tomography (CBCT) dan 3D bioprinting memungkinkan pembuatan scaffold atau kerangka jaringan yang dirancang khusus sesuai kondisi setiap pasien. Teknologi tersebut membuat proses regenerasi tulang dan jaringan gigi menjadi lebih presisi.
“Fokusnya bukan lagi hanya memperbaiki gigi yang rusak dengan bahan buatan, tetapi mengembalikan fungsi jaringan gigi secara biologis melalui teknologi modern dan pendekatan regeneratif,” jelasnya.

Dekan FKG UMS sekaligus pemateri dalam seminar, Dr. drg. Noor Hafida Widyastuti, Sp.KG., turut menyoroti perkembangan material bioaktif yang kini menjadi salah satu fondasi penting dalam regenerative dentistry.

Dr. drg. Noor Hafida Widyastuti, Sp.KG. saat memaparkan materi tentang regenerative dentistry
Dr. drg. Noor Hafida Widyastuti, Sp.KG. saat memaparkan materi tentang regenerative dentistry

Menurutnya, era baru kedokteran gigi menuntut material restorasi tidak hanya bersifat pasif sebagai pengganti jaringan yang hilang, tetapi mampu berinteraksi secara biologis dengan jaringan tubuh untuk merangsang proses penyembuhan alami.

Ia menjelaskan bahwa material bioaktif memiliki tiga karakteristik utama, yaitu mampu melepaskan ion terapeutik, membentuk lapisan kalsium fosfat, serta menginduksi diferensiasi dan proliferasi sel. Kombinasi ketiga proses tersebut berperan penting dalam mempercepat regenerasi jaringan dan meningkatkan keberhasilan perawatan klinis.

“Sebagai klinisi, kita harus mampu memilih material secara tepat dengan mempertimbangkan kebutuhan mekanis sekaligus kecepatan ikatan material terhadap jaringan sehingga proses regenerasi dapat berlangsung optimal,” pungkas Noor Hafida. (Maysali/Humas)

Bagikan informasi ini kepada temanmu

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

News UMS kini hadir di Saluran WhatsApp dengan klik Universitas Muhammadiyah Surakarta