ums.ac.id, SURAKARTA – Tim Pemberdayaan Ekonomi Masjid (TPEM) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) menggelar Pelatihan Pemberdayaan Ekonomi Masjid bertajuk “Penguatan Manajemen Masjid untuk Pemberdayaan Ekonomi Umat” di Ruang Pertemuan Pesantren Mahasiswa (PESMA), Minggu (26/7/2026). Kegiatan ini menjadi upaya TPEM UMS dalam memperkuat kapasitas pengelola masjid agar tidak hanya berfungsi sebagai pusat ibadah, tetapi juga sebagai pusat pemberdayaan ekonomi masyarakat.
Pelatihan menghadirkan sejumlah narasumber yang membahas strategi pengembangan ekonomi masjid dari berbagai perspektif, mulai dari inovasi kewirausahaan, arsitektur ekonomi masjid, hingga optimalisasi zakat, infak, sedekah (ZIS), dan wakaf produktif.
Pada sesi pertama, Prof. Dr. Dra. Christina Whidya Utami, M.M., CLC., CPM mengangkat materi bertajuk Peran Inovasi dan Kewirausahaan dalam Pemberdayaan Ekonomi Masjid. Ia menegaskan bahwa masjid sejak awal merupakan pusat peradaban yang memiliki peran strategis dalam membangun kesejahteraan umat.
“Masjid adalah pusat peradaban. Ketika masjid mampu melahirkan sosial entrepreneur, dampaknya akan dirasakan langsung oleh masyarakat dan jamaah,” ujarnya.
Menurutnya, gerakan filantropi masjid perlu dikembangkan secara komprehensif, mencakup aspek ekonomi, sistem kelembagaan, dan penguatan teologi. Ia menambahkan bahwa pengembangan masjid preneur menjadi salah satu kunci agar masjid mampu menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat.

Materi kedua disampaikan oleh Imronudin, S.E., M.Si., Ph.D dengan tema Cetak Biru Arsitektur Ekonomi Masjid. Ia menjelaskan konsep masjid paripurna yang memadukan fungsi spiritual dan fungsi sosial-ekonomi.
“Masjid paripurna bukan hanya menjadi pusat ibadah, tetapi juga menjadi pusat pemberdayaan ekonomi umat melalui aktivitas muamalah,” jelasnya.
Ia juga menekankan pentingnya peningkatan literasi ekonomi syariah di tengah masyarakat. Menurutnya, literasi syariah tidak cukup hanya mengenal nama lembaga keuangan syariah, tetapi juga memahami prinsip-prinsip ekonomi Islam dan mampu menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Sementara itu, Imron Rosyadi, S.E., M.Si. dalam materi Peran Literasi Digital dan Optimalisasi ZIS dan Wakaf Produktif dalam Pemberdayaan Ekonomi Umat menyoroti pentingnya tata kelola zakat yang profesional sebagai instrumen pemberdayaan masyarakat.
Ia menyampaikan bahwa pengelolaan zakat yang optimal akan memperkuat kontribusi masjid dalam meningkatkan kesejahteraan umat.

“Pengelolaan zakat harus maksimal karena dengan itulah masjid bisa memberikan dampak nyata bagi masyarakat,” ungkapnya.
Ia juga mendorong agar profesi amil zakat menjadi pilihan yang diminati generasi muda, khususnya kalangan remaja masjid.
“Amil zakat harus menjadi pekerjaan yang menarik bagi pemuda karena itulah pendapatan yang suci sekaligus mensucikan,” tambahnya.

Menutup rangkaian kegiatan, Prof. Kussudyarsana, S.E., M.Si., Ph.D., menyampaikan apresiasi kepada seluruh peserta yang telah mengikuti pelatihan. Ia berharap ilmu yang diperoleh tidak berhenti pada kegiatan sehari, tetapi dapat diwujudkan dalam program-program nyata di lingkungan masjid masing-masing.
“Semoga kegiatan ini benar-benar memberikan manfaat. Bapak dan Ibu sudah datang dari berbagai daerah, tentu akan sangat disayangkan jika ilmu yang diperoleh tidak diterapkan,” ujarnya.
Untuk menjaga komunikasi dan memperkuat jejaring antar peserta, panitia juga membentuk grup WhatsApp sebagai media berbagi pengalaman dan tindak lanjut program pemberdayaan ekonomi masjid.
“Harapan kami, kegiatan ini tidak berhenti di sini saja, tetapi terus berlanjut melalui kolaborasi dan implementasi dari apa yang telah dipelajari bersama hari ini,” pungkasnya. (Adi/Humas)




