ums.ac.id, SURAKARTA – Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) bersama Lazismu UMS kembali menunjukkan komitmennya dalam mendukung keberlanjutan pendidikan mahasiswa melalui pembukaan Program Beasiswa Kader Sang Surya.
Beasiswa Kader Sang Surya bertujuan membantu mahasiswa aktif UMS maksimal semester 8 yang mengalami kendala finansial akibat kehilangan orang tua sebagai penopang ekonomi utama. Program ini memberikan benefit berupa pembiayaan penuh pembayaran SPP hingga lulus, dengan persyaratan utama meliputi IPK minimal 2,75 serta aktif di Organisasi Otonom (Ortom) Muhammadiyah. Pendaftaran dan pengunggahan berkas persyaratan seperti surat keterangan kematian, KTP, KTM, KRS 2025-2026, transkrip nilai, serta bukti tagihan SPP dilakukan secara online melalui platform resmi My Lazismu.
Bagi mahasiswa yang memenuhi kriteria, batas pendaftaran adalah 5 Agustus 2026. Alur seleksi juga dapat dipantau langsung melalui laman Lazismu UMS. Seluruh proses pengajuan usulan bantuan ini terintegrasi secara digital, di mana pendaftar diimbau untuk mencermati linimasa pendaftaran serta melengkapi dokumen administratif dengan teliti agar tidak tertinggal dalam seleksi beasiswa penuh penopang studi di UMS ini.

Eksekutif Lazismu UMS, Sugeng Riyadi, S.Pd., menjelaskan bahwa beasiswa tersebut lahir sebagai bentuk kepedulian terhadap mahasiswa yang menghadapi perubahan kondisi ekonomi secara mendadak akibat musibah. Menurutnya, tidak sedikit mahasiswa yang berada di ambang putus kuliah setelah kehilangan sosok pencari nafkah di keluarga.
“Program Beasiswa Kader Sang Surya dihadirkan sebagai bentuk kepedulian nyata terhadap keberlangsungan studi mahasiswa yang mengalami krisis ekonomi mendadak. Kami ingin memastikan bahwa musibah yang dialami mahasiswa tidak menghentikan mimpi dan masa depan akademiknya,” ungkapnya, Sabtu, (1/8/2026).
Ia menambahkan, UMS dan Lazismu memandang bahwa pendidikan merupakan hak setiap mahasiswa, termasuk mereka yang berada dalam kondisi rentan secara ekonomi. Karena itu, Lazismu tidak hanya hadir sebagai lembaga penghimpun dan penyalur zakat, infak, dan sedekah, tetapi juga sebagai sistem pendukung yang memberikan kepastian bagi mahasiswa untuk menyelesaikan pendidikan.
“Kehilangan orang tua atau wali tentu menjadi pukulan yang sangat berat, baik secara psikologis maupun finansial. Melalui beasiswa ini kami ingin menjadi support system agar mereka tetap memiliki harapan dan semangat untuk menyelesaikan studi,” jelasnya.
Lebih dari sekadar bantuan biaya pendidikan, Beasiswa Kader Sang Surya juga dirancang untuk membentuk karakter penerimanya. Program ini diarahkan agar mahasiswa mampu menjadi pribadi yang tangguh, mandiri, berintegritas, memiliki empati sosial, sekaligus memiliki jiwa kepemimpinan yang kuat.
Sugeng menegaskan bahwa pembinaan karakter tersebut menjadi bagian penting karena para penerima beasiswa diproyeksikan sebagai kader Muhammadiyah yang mampu memberikan kontribusi bagi masyarakat.
“Kami ingin penerima beasiswa tidak berhenti sebagai penerima manfaat, tetapi juga tumbuh menjadi pribadi yang memiliki kepedulian sosial tinggi dan siap memberikan manfaat bagi orang lain,” ujarnya.
Sebagai bagian dari pembinaan, program ini mengintegrasikan kaderisasi Muhammadiyah melalui keterlibatan aktif mahasiswa dalam kegiatan kerelawanan Lazismu maupun organisasi otonom (Ortom) Muhammadiyah. Dengan demikian, mahasiswa diharapkan tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga matang dalam kepemimpinan dan pengabdian sosial.
Menurut Sugeng, skema tersebut menjadi upaya untuk mencetak generasi yang mampu melanjutkan estafet kepemimpinan dan dakwah Muhammadiyah di masa mendatang.
“Kami berharap mahasiswa belajar bahwa menjadi penerima bantuan bukanlah akhir. Mereka akan dibimbing untuk memiliki semangat berbagi melalui dedikasi waktu, tenaga, dan pemikiran bagi sesama,” katanya.
Ia juga mengajak mahasiswa UMS yang memenuhi persyaratan untuk memanfaatkan kesempatan tersebut sebaik mungkin. Baginya, beasiswa bukan sekadar fasilitas pembebasan biaya pendidikan, melainkan momentum untuk terus berprestasi dan mengembangkan potensi diri.
“Kesempatan ini harus dipandang sebagai pemacu semangat agar mahasiswa semakin berprestasi, aktif berorganisasi, dan membuktikan bahwa keterbatasan ekonomi bukan menjadi penghalang untuk meraih masa depan,” tuturnya.
Dalam proses seleksi, Lazismu UMS menerapkan beberapa tahapan guna memastikan bantuan tepat sasaran. Seleksi dimulai dari verifikasi administrasi yang meliputi dokumen kondisi ekonomi, bukti kehilangan orang tua atau wali, hingga rekam jejak akademik mahasiswa. Selanjutnya, calon penerima mengikuti tahap wawancara untuk menilai motivasi, komitmen belajar, keaktifan organisasi, serta kesiapan mengikuti program kaderisasi dan kerelawanan.
Ke depan, Lazismu UMS bersama UMS berkomitmen memperluas manfaat Program Beasiswa Kader Sang Surya. Pengembangan akan difokuskan pada perluasan kemitraan dengan donatur, alumni, dan berbagai mitra strategis guna meningkatkan jumlah penerima manfaat. Selain itu, program pembinaan juga akan diperkuat melalui pelatihan kapasitas, pendampingan karier, hingga pembekalan kewirausahaan agar para penerima beasiswa siap bersaing di tingkat global. (Adi/Humas)




