ums.ac.id, SURAKARTA – Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) kembali memperluas kontribusinya di kancah internasional melalui program Pengabdian kepada Masyarakat Kemitraan Internasional (PkM-KI) bekerja sama dengan Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM) Jepang, PRIM Chiba, PRIM Fukuoka, dan PPI Chiba. Program yang berlangsung secara bertahap sejak Mei hingga Juli 2026, ini merupakan wujud komitmen UMS memberikan edukasi kesehatan kepada mahasiswa dan pekerja Indonesia yang tengah menempuh studi maupun bekerja di Negeri Sakura.
Mengusung tema “Promosi Kesehatan Terintegrasi bagi Pelajar dan Pekerja Indonesia di Jepang”, kegiatan ini diketuai oleh Tanjung Anitasari Indah Kusumaningrum, S.K.M., M.Kes., dan melibatkan sejumlah dosen lintas program studi di UMS, yaitu Program Studi Kesehatan Masyarakat, Ilmu Gizi, dan Pendidikan Dokter.
Program dirancang melalui dua metode, luring di Prefektur Chiba dan daring, dengan cakupan materi meliputi kesehatan reproduksi, keamanan pangan, pencegahan stres, peningkatan aktivitas fisik, hingga keselamatan dan kesehatan kerja (K3) guna mencegah fatigue dan risiko gangguan muskuloskeletal.
Ketua tim PkM-KI, Tanjung Anitasari Indah Kusumaningrum, S.K.M., M.Kes, menuturkan bahwa kondisi jauh dari keluarga, tekanan akademik, perbedaan budaya, serta tuntutan pekerjaan membuat mahasiswa dan pekerja Indonesia di Jepang membutuhkan lebih dari sekadar informasi kesehatan.

“Melalui PKM-KI ini kami berharap dapat menghadirkan ruang yang aman untuk saling berbagi pengalaman sekaligus memperkuat kemampuan mereka dalam menjaga kesehatan diri,” ujar Tanjung, Senin (3/8/2026).
Sebanyak 8 mahasiswa Program Studi Kesehatan Masyarakat UMS turut dilibatkan secara aktif dalam program ini, yakni Bramantia Yunaz Valdherama, Rasendriya Hutomo, Valencia Orlin Apta Callista, Rafidah Nasywa Zharifah, Maulidha Nesya Carella Tinofa, Intan Lailatur Rohmah, Ilmi Nuraini, dan Muhammad Ariyan.
Para mahasiswa tidak hanya bertugas sebagai panitia, tetapi juga menyusun materi, memberikan edukasi, memfasilitasi diskusi kelompok, hingga mengevaluasi jalannya program yang diharapkan dapat meningkatkan kemampuan komunikasi, kolaborasi, kepemimpinan, serta perencanaan program yang nantinya menjadi bekal saat memasuki dunia kerja.
Pada sesi luring yang digelar di Chiba Islamic Culture Centre, dua dosen Program Studi Kesehatan Masyarakat UMS, Sheena Ramadhia Asmara Dhani, S.K.M., M.KKK dan Prof. Dr. Yuli Kusumawati, M.Kes, bersama mahasiswa Rasendriya Hutomo dan Bramantia Yunaz Valdherama, menyampaikan materi tentang stres dan burnout beserta cara pencegahannya. Peserta tampak antusias mengikuti sesi yang dikemas secara interaktif melalui metode role play dan diskusi kelompok berdasarkan permasalahan nyata yang mereka hadapi selama tinggal di Jepang.
Sheena Ramadhia Asmara Dhani, S.K.M., M.KKK., menyampaikan bahwa banyak mahasiswa dan pekerja Indonesia di Jepang harus menjalani aktivitas yang padat setiap hari. Maka dari itu, perlu pengetahuan dan keterampilan agar dapat menjaga kesehatan fisik maupun mental.
“Banyak mahasiswa dan pekerja Indonesia di Jepang harus menjalani aktivitas yang padat setiap hari. Kegiatan belajar dan bekerja yang dilakukan secara berulang atau dalam posisi tubuh yang kurang ergonomis juga meningkatkan risiko gangguan muskuloskeletal. Karena itu, kami ingin membekali mereka dengan pengetahuan dan keterampilan agar dapat menjaga kesehatan fisik maupun mental,” ujarnya.
Sementara itu, sesi daring turut didukung oleh Zulia Setiyaningrum, S.Gz., M.Gizi, dosen Program Studi Ilmu Gizi UMS, dan dr. Rochmadina Suci Bestari, M.Sc, dosen Program Studi Pendidikan Dokter UMS, yang membahas praktik ergonomi yang benar dalam menjaga kesehatan fisik dan mental. Melalui rangkaian kegiatan ini, peserta tidak hanya memperoleh informasi kesehatan, tetapi juga dilatih untuk menjadi peer supporter.
Dukungan terhadap program ini juga disampaikan oleh perwakilan PCIM Jepang, Tendra Istanabi, S.T., M.URT.
“Tema yang diangkat sangat relevan dengan kondisi mahasiswa dan pekerja Indonesia di Jepang. Kesibukan menjalani aktivitas sehari-hari sering kali membuat mereka kurang memperhatikan kesehatan, sehingga edukasi yang praktis dan mudah diterapkan menjadi kebutuhan yang penting,” katanya, sembari mengapresiasi kolaborasi UMS dan PCIM Jepang yang turut membangun jejaring dukungan antarwarga Indonesia di Jepang.
Sebagai tindak lanjut, tim PKM-KI dan PCIM Jepang menggelar pertemuan evaluasi secara daring untuk membahas keberlanjutan program. Kedua pihak sepakat bahwa promosi kesehatan akan terus dilanjutkan melalui berbagai media digital agar manfaatnya dapat menjangkau lebih banyak mahasiswa dan pekerja Indonesia di berbagai wilayah Jepang.
Melalui kolaborasi ini, UMS berharap PKM-KI tidak hanya menjadi kegiatan pengabdian masyarakat yang bersifat sementara, tetapi menjadi awal dari program promosi kesehatan berkelanjutan. Sinergi antara perguruan tinggi dan organisasi masyarakat Indonesia di luar negeri ini diharapkan mampu memperkuat kualitas hidup diaspora Indonesia sekaligus memperluas kontribusi UMS dalam mendukung kesehatan masyarakat di tingkat global. (Afida/Adi/Humas)




