ums.ac.id, SURAKARTA – Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) menempati peringkat ketiga perguruan tinggi swasta (PTS) Indonesia bidang hukum dalam pemeringkatan SCImago Institutions Rankings (SIR) 2026. Capaian tersebut dinilai menjadi gambaran dari produktivitas riset, publikasi, inovasi, serta dampak sosial dibidang hukum.
Dalam pemeringkatan SCImago 2026, UMS berada di peringkat ke-20 dari 39 institusi yang tercatat dalam pemeringkatan bidang Law di Indonesia. Posisi tersebut menjadikan UMS sebagai PTS peringkat ketiga nasional setelah Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) dan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Secara global, UMS berada di peringkat ke-595 bidang Law.
Guru Besar UMS Prof. Dr. Absori, S.H., M.Hum., menilai posisi tersebut merupakan capaian yang wajar mengingat aktivitas riset dan publikasi UMS yang dinilai cukup kuat. Menurutnya, pemeringkatan SCImago tidak hanya melihat jumlah penelitian, tetapi juga aspek inovasi dan dampak sosial yang dihasilkan.

“Kalau peringkat ketiga untuk PTS sebenarnya wajar. Produktivitas riset kita bagus, publikasinya bagus, dan dampaknya juga bagus. Karena SCImago itu parameternya melihat riset, inovasi, dan dampak sosial,” ujar Absori, Sabtu (5/9/2026).
Di tahun sebelumnya, posisi UMS dalam pemeringkatan SCImago bidang hukum bertengger di peringkat empat untuk PTS secara nasional. Sedangkan pada tahun 2025, posisi UMS menguat di peringkat tiga. Menurut Absori, perubahan posisi dalam pemeringkatan menjadi gambaran bahwa capaian riset perguruan tinggi dapat bergerak dari waktu ke waktu. Karena itu, konsistensi publikasi, kualitas riset, dan penguatan ekosistem penelitian perlu dilakukan secara berkelanjutan.
Ke depan, Absori menilai penguatan ekosistem riset perlu dilakukan melalui kolaborasi lintas generasi. Dosen senior, dosen muda, dan mahasiswa perlu memiliki ruang kolaborasi untuk menghasilkan penelitian yang berkelanjutan sekaligus memperkuat luaran berupa publikasi dan jejaring akademik.
“Yang perlu didorong adalah kolaborasi dengan senior, junior, dan mahasiswa. Kalau risetnya berjalan bersama, kita bisa menghasilkan luaran, publikasi internasional, dan membangun reputasi,” tuturnya.
Menurutnya, regenerasi keterlibatan dosen muda menjadi salah satu kunci menjaga keberlanjutan produktivitas riset. Pengalaman dosen senior dapat ditularkan melalui pendampingan penelitian, publikasi, maupun keterlibatan dalam jejaring internasional.
Absori juga menekankan pentingnya jejaring akademik dalam memperluas peluang kolaborasi dan publikasi. Menurutnya, hubungan yang terbangun dengan peneliti maupun jurnal internasional dapat membantu dosen mengenali perkembangan tema riset sekaligus membuka ruang kerja sama yang lebih luas.
Ia berharap penguatan riset dapat berjalan secara sistematis, dengan penelitian sebagai sumber utama dan publikasi sebagai salah satu luaran yang kemudian diperkuat melalui jejaring serta dampak penelitian. Ekosistem tersebut dinilai dapat menjadi bagian dari upaya UMS menjaga konsistensi produktivitas riset dan memperkuat reputasi akademiknya di tingkat nasional maupun internasional. (ARP/Humas)




