ums.ac.id, SURAKARTA – Komitmen Tim Program Kreativitas Mahasiswa bidang Pengabdian Masyarakat (PKM-PM) HealSpace Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) dalam memberdayakan masyarakat inklusif terus berlanjut. Usai memberikan pemaparan tentang vermikompos, tim HealSpace memberikan Pelatihan Vermikompos 2 dengan mengajak para teman disabilitas praktik langsung.
Komunitas Disabilitas Karya Manunggal sebagai mitra program terjun langsung dalam aksi praktik lapangan guna memberikan pengalaman sensorik dan keterampilan teknis secara nyata. Dalam tahapan ini, para peserta disabilitas mental diajarkan langkah-langkah teknis pembuatan pupuk organik vermikompos secara runtut.
Ketua Tim PKM-PM HealSpace UMS, Abqory Anis Subekti, menegaskan bahwa pendekatan inklusif learning by doing (belajar dengan melakukan) ini terbukti sangat efektif memicu partisipasi aktif peserta.
“Kami sengaja mendesain pelatihan ini agar semua peserta, baik dengan disabilitas mental maupun fisik, bisa terlibat aktif dari awal sampai akhir. Ketika mereka berhasil menyusun media vermikompos dan memasukkan benih sendiri, ada senyum kebanggaan dan rasa percaya diri yang muncul. Itulah inti dari penguatan psikologis yang ingin kami capai melalui program HealSpace ini,” terangnya, Senin (20/7/2026).
Kegiatan pelatihan sendiri diselenggarakan di rumah salah satu mitra, Bu Yani, di Desa Sambi, Kecamatan Sambi, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, Minggu (14/6/2026). Pemilihan rumah Bu Yani sebagai lokasi pelatihan bertujuan untuk menciptakan atmosfer belajar yang ramah, berbasis keluarga, dan mudah diakses oleh lingkungan sekitar.
Didampingi secara intensif oleh mahasiswa, para peserta mempraktikkan cara menyiapkan wadah atau reaktor, mengatur kelembapan media tanam, memasukkan bahan organik berupa sisa sayuran, hingga melepaskan cacing tanah sebagai agen pengurai. Aktivitas fisik yang melibatkan sentuhan dengan media tanah dan cacing ini dirancang khusus untuk menstimulasi motorik halus serta memberikan efek ketenangan (terapeutik) yang esensial bagi stabilitas psikologis mereka.
Tidak hanya mandek pada pengolahan pupuk organik, tim PKM-PM HealSpace UMS juga memperluas cakupan pelatihan dengan mengajarkan tata cara menyemai benih tanaman. Langkah ini merupakan bagian integral dari sistem terapi hortikultura yang utuh.
Para peserta diajarkan cara memasukkan tanah ke dalam polybag kecil, membuat lubang tanam yang ideal, hingga meletakkan benih sayuran dengan hati-hati. Melalui metode ini, teman-teman disabilitas mental diberikan ruang untuk memahami siklus hidup tanaman sejak dini, yang diharapkan dapat menumbuhkan rasa tanggung jawab dan kepedulian melalui aktivitas merawat tanaman setiap harinya.
Yani, selaku tuan rumah sekaligus orang tua dari anak penyandang disabilitas, menyampaikan rasa syukur dan terima kasihnya atas kehadiran tim mahasiswa UMS. Menurutnya, kegiatan berbasis praktik seperti ini sangat jarang didapatkan oleh anak-anak mereka.
“Saya sangat senang rumah kami bisa dijadikan tempat pelatihan. Anak-anak menjadi punya kegiatan yang bermanfaat, mereka terlihat sangat senang bisa memegang tanah dan belajar menanam bersama kakak-kakak mahasiswa. Ini sangat membantu perkembangan mental dan keceriaan mereka,” ungkap Yani.
Senada dengan hal itu, dosen pembimbing program, Siti Azizah Susilawati, S.Si., M.P., Ph.D., menilai bahwa pelaksanaan praktik di lingkungan domestik warga merupakan langkah cerdas untuk mendekatkan teknologi tepat guna Smart-Wicking dan vermikompos langsung ke realitas kehidupan mitra. Sinergi ini diharapkan menjadi modal kuat untuk memastikan program tetap berlanjut secara mandiri oleh masyarakat setempat bahkan setelah masa pengabdian mahasiswa selesai. (Maysali/Humas)




