{"id":27751,"date":"2025-07-04T16:29:21","date_gmt":"2025-07-04T09:29:21","guid":{"rendered":"https:\/\/news.ums.ac.id\/id\/?p=27751"},"modified":"2025-07-04T16:29:53","modified_gmt":"2025-07-04T09:29:53","slug":"cerita-dosen-arsitektur-ums-gagas-kampoeng-batik-laweyan-sebagai-kawasan-wisata-edukasi-ramah-lingkungan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/news.ums.ac.id\/id\/berita\/cerita-dosen-arsitektur-ums-gagas-kampoeng-batik-laweyan-sebagai-kawasan-wisata-edukasi-ramah-lingkungan\/","title":{"rendered":"Cerita Dosen Arsitektur UMS Gagas Kampoeng Batik Laweyan sebagai Kawasan Wisata Edukasi Ramah Lingkungan"},"content":{"rendered":"<p><a href=\"https:\/\/www.ums.ac.id\/\">ums.ac.id, SURAKARTA<\/a> \u2013 Kampoeng Batik Laweyan dikenal sebagai salah satu kawasan batik tertua di Indonesia. Di balik geliat pelestarian kawasan ini, terdapat sosok Ir. Alpha Febela Priyatmono, M.T., dosen Arsitektur Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), yang juga menjabat sebagai Ketua Forum Pengembangan Kampoeng Batik Laweyan (FPKBL).<\/p>\n<p>Sejak tahun 2004, ia bersama komunitas setempat menggagas gerakan revitalisasi kawasan Laweyan yang sempat meredup sejak era 1970-an.<\/p>\n<p>\u201cKampung Laweyan memiliki sejarah panjang, bahkan 250 tahun lebih tua dari berdirinya Kota Solo dan Yogyakarta. Ini bukan sekadar kampung, tapi bagian dari cikal bakal Dinasti Mataram Islam,\u201d ungkap Alpha, membuka kisahnya, Jumat (4\/7).<\/p>\n<figure id=\"attachment_27754\" aria-describedby=\"caption-attachment-27754\" style=\"width: 1920px\" class=\"wp-caption alignnone\"><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" class=\"size-full wp-image-27754\" src=\"https:\/\/news.ums.ac.id\/id\/wp-content\/uploads\/sites\/2\/2025\/07\/fotoweb-2-12.jpg\" alt=\"Dosen Arsitektur UMS, Ir. Alpha Febela Priyatmono, M.T\" width=\"1920\" height=\"1080\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-27754\" class=\"wp-caption-text\">Dosen Arsitektur UMS, Ir. Alpha Febela Priyatmono, M.T<\/figcaption><\/figure>\n<p>Dari warisan budaya dan arsitektur Jawa kuno, kawasan ini dulunya merupakan pusat industri batik dan perdagangan yang memiliki pengaruh ekonomi signifikan di masa kolonial. Namun memasuki era modern, kejayaannya mulai memudar. Banyak rumah tradisional ditinggalkan, industri batik menurun drastis, dan identitas kawasan perlahan tergerus.<\/p>\n<p>Sebagai akademisi yang fokus pada desain perkotaan, Alpha menyadari pentingnya membangkitkan kembali semangat kewirausahaan lokal sekaligus melestarikan kawasan warisan budaya. Ia ditunjuk menjadi koordinator Kampung Batik Laweyan tahun 2004, meskipun pada saato itu dia bukan berasal pelaku batik aktif.<\/p>\n<p>\u201cSebagai arsitek, saya melihat bahwa membangkitkan kawasan ini bukan hanya dari sisi industri batiknya saja, tapi juga melalui pendekatan urban desain, menghidupkan kembali ruang, tata kota, dan nilai-nilai budaya yang melekat,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p>Alpha menjelaskan, karakter arsitektur Kampung Laweyan mencerminkan perpaduan antara rumah tradisional Jawa dengan pengaruh gaya arsitektur Eropa, seperti art deco pada masa kolonial. Tata ruang rumah-rumah lama masih mempertahankan elemen khas seperti pendopo, senthong, dan gandok.<\/p>\n<p>Dalam proses revitalisasi, FPKBL tidak hanya berfokus pada estetika kawasan, tetapi juga menjadikannya sebagai kawasan ramah lingkungan dan wisata edukatif berbasis budaya. Hal ini dilakukan dengan menggandeng berbagai pihak, termasuk WWF Indonesia, RSPO, dan Apical, untuk mengembangkan produk batik ramah lingkungan.<\/p>\n<p>\u201cKami ingin menjadikan Laweyan sebagai smart kampoeng dengan misi eco-culture creative kampoeng. Tidak hanya batik yang berkelanjutan, tapi seluruh aspek lingkungan kawasan juga harus mendukung. Mulai dari penggunaan lilin berbahan dasar sawit, pemanfaatan energi surya, hingga penerapan wisata kreatif berbasis budaya,\u201d jelas Alpha.<\/p>\n<p>Tak hanya membangkitkan Laweyan, Alpha juga memperluas inisiatif ke kawasan-kawasan lain di sekitar Solo. Ia memperkenalkan konsep track wisata batik sebagai jalur pengembangan kawasan berbasis identitas budaya.<\/p>\n<p>Salah satu inisiatifnya adalah membangun workshop edukasi batik nila di kawasan Gonilan, dekat kampus UMS. Kawasan ini dikenal sebagai penghasil pewarna alami dari tanaman Indigofera. Kawasan ini digagas menjadi kampung kreatif sekaligus embrio Islamic village yang terintegrasi dengan nilai-nilai keberlanjutan dan budaya Islami.<\/p>\n<p>Tak berhenti di situ, ia juga menggagas pengembangan kawasan Widan sebagai kampung gerabah batik yang menggabungkan potensi kerajinan lokal dengan motif-motif batik khas.<\/p>\n<p>\u201cBagi kami, Laweyan bukan titik akhir. Ini adalah titik awal untuk membangkitkan kembali kekuatan ekonomi kreatif berbasis budaya lokal dan keislaman, yang bisa ditiru dan dikembangkan di tempat lain,\u201d tegasnya.<\/p>\n<p>Di lingkungan kampus, kolaborasi juga terus diperkuat. Pusat Studi Pengembangan Batik UMS telah berdiri dan dirancang menjadi pusat riset batik ramah lingkungan yang terhubung dengan masyarakat.<br \/>\nDalam visi besarnya, Alpha membawa gagasan \u201cBarokah Creative Tourism\u201d yaitu konsep pariwisata kreatif yang tidak hanya mengandalkan nilai komersial, tapi juga menghadirkan kebaikan dan keberkahan bagi masyarakat serta mendekatkan pada nilai-nilai spiritual.<\/p>\n<p>\u201cApapun yang kami lakukan, semoga tidak hanya membawa manfaat duniawi, tetapi juga menjadi jalan menuju keberkahan. Laweyan harus menjadi contoh pengembangan kawasan yang tidak hanya lestari dan kreatif, tetapi juga barokah,\u201d tutupnya penuh harap. (Fika\/Humas)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>ums.ac.id, SURAKARTA \u2013 Kampoeng Batik Laweyan dikenal sebagai salah satu kawasan batik tertua di Indonesia. Di balik geliat pelestarian kawasan ini, terdapat sosok Ir. Alpha Febela Priyatmono, M.T., dosen Arsitektur Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), yang juga menjabat sebagai Ketua Forum Pengembangan Kampoeng Batik Laweyan (FPKBL). Sejak tahun 2004, ia bersama komunitas setempat menggagas gerakan revitalisasi [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":8,"featured_media":27752,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[2,287],"tags":[136,279,9,11],"class_list":["post-27751","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-berita","category-kata-pakar","tag-ft","tag-kata-pakar","tag-opini","tag-terkini","entry","has-media"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v27.6 - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-wordpress\/ -->\n<title>Cerita Dosen Arsitektur UMS Gagas Kampoeng Batik Laweyan sebagai Kawasan Wisata Edukasi Ramah Lingkungan - Berita UMS<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/news.ums.ac.id\/id\/berita\/cerita-dosen-arsitektur-ums-gagas-kampoeng-batik-laweyan-sebagai-kawasan-wisata-edukasi-ramah-lingkungan\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Cerita Dosen Arsitektur UMS Gagas Kampoeng Batik Laweyan sebagai Kawasan Wisata Edukasi Ramah Lingkungan - Berita UMS\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"ums.ac.id, SURAKARTA \u2013 Kampoeng Batik Laweyan dikenal sebagai salah satu kawasan batik tertua di Indonesia. Di balik geliat pelestarian kawasan ini, terdapat sosok Ir. Alpha Febela Priyatmono, M.T., dosen Arsitektur Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), yang juga menjabat sebagai Ketua Forum Pengembangan Kampoeng Batik Laweyan (FPKBL). Sejak tahun 2004, ia bersama komunitas setempat menggagas gerakan revitalisasi [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/news.ums.ac.id\/id\/berita\/cerita-dosen-arsitektur-ums-gagas-kampoeng-batik-laweyan-sebagai-kawasan-wisata-edukasi-ramah-lingkungan\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Berita UMS\" \/>\n<meta property=\"article:publisher\" content=\"https:\/\/www.facebook.com\/umsofficialid\/?locale=id_ID\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2025-07-04T09:29:21+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2025-07-04T09:29:53+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/news.ums.ac.id\/id\/wp-content\/uploads\/sites\/2\/2025\/07\/fotoweb-11.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"1920\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"1080\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Humas UMS\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Ditulis oleh\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"Humas UMS\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Estimasi waktu membaca\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"3 menit\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/news.ums.ac.id\\\/id\\\/berita\\\/cerita-dosen-arsitektur-ums-gagas-kampoeng-batik-laweyan-sebagai-kawasan-wisata-edukasi-ramah-lingkungan\\\/#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/news.ums.ac.id\\\/id\\\/berita\\\/cerita-dosen-arsitektur-ums-gagas-kampoeng-batik-laweyan-sebagai-kawasan-wisata-edukasi-ramah-lingkungan\\\/\"},\"author\":{\"name\":\"Humas UMS\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/news.ums.ac.id\\\/id\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/685558eb10f5715113bc9a1fccfd82c7\"},\"headline\":\"Cerita Dosen Arsitektur UMS Gagas Kampoeng Batik Laweyan sebagai Kawasan Wisata Edukasi Ramah Lingkungan\",\"datePublished\":\"2025-07-04T09:29:21+00:00\",\"dateModified\":\"2025-07-04T09:29:53+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/news.ums.ac.id\\\/id\\\/berita\\\/cerita-dosen-arsitektur-ums-gagas-kampoeng-batik-laweyan-sebagai-kawasan-wisata-edukasi-ramah-lingkungan\\\/\"},\"wordCount\":577,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/news.ums.ac.id\\\/id\\\/#organization\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/news.ums.ac.id\\\/id\\\/berita\\\/cerita-dosen-arsitektur-ums-gagas-kampoeng-batik-laweyan-sebagai-kawasan-wisata-edukasi-ramah-lingkungan\\\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/news.ums.ac.id\\\/id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/sites\\\/2\\\/2025\\\/07\\\/fotoweb-11.jpg\",\"keywords\":[\"Fakultas Teknik\",\"Kata Pakar\",\"Opini\",\"Terkini\"],\"articleSection\":[\"Berita\",\"Kata Pakar\"],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/news.ums.ac.id\\\/id\\\/berita\\\/cerita-dosen-arsitektur-ums-gagas-kampoeng-batik-laweyan-sebagai-kawasan-wisata-edukasi-ramah-lingkungan\\\/\",\"url\":\"https:\\\/\\\/news.ums.ac.id\\\/id\\\/berita\\\/cerita-dosen-arsitektur-ums-gagas-kampoeng-batik-laweyan-sebagai-kawasan-wisata-edukasi-ramah-lingkungan\\\/\",\"name\":\"Cerita Dosen Arsitektur UMS Gagas Kampoeng Batik Laweyan sebagai Kawasan Wisata Edukasi Ramah Lingkungan - Berita UMS\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/news.ums.ac.id\\\/id\\\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/news.ums.ac.id\\\/id\\\/berita\\\/cerita-dosen-arsitektur-ums-gagas-kampoeng-batik-laweyan-sebagai-kawasan-wisata-edukasi-ramah-lingkungan\\\/#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/news.ums.ac.id\\\/id\\\/berita\\\/cerita-dosen-arsitektur-ums-gagas-kampoeng-batik-laweyan-sebagai-kawasan-wisata-edukasi-ramah-lingkungan\\\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/news.ums.ac.id\\\/id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/sites\\\/2\\\/2025\\\/07\\\/fotoweb-11.jpg\",\"datePublished\":\"2025-07-04T09:29:21+00:00\",\"dateModified\":\"2025-07-04T09:29:53+00:00\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/news.ums.ac.id\\\/id\\\/berita\\\/cerita-dosen-arsitektur-ums-gagas-kampoeng-batik-laweyan-sebagai-kawasan-wisata-edukasi-ramah-lingkungan\\\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/news.ums.ac.id\\\/id\\\/berita\\\/cerita-dosen-arsitektur-ums-gagas-kampoeng-batik-laweyan-sebagai-kawasan-wisata-edukasi-ramah-lingkungan\\\/\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/news.ums.ac.id\\\/id\\\/berita\\\/cerita-dosen-arsitektur-ums-gagas-kampoeng-batik-laweyan-sebagai-kawasan-wisata-edukasi-ramah-lingkungan\\\/#primaryimage\",\"url\":\"https:\\\/\\\/news.ums.ac.id\\\/id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/sites\\\/2\\\/2025\\\/07\\\/fotoweb-11.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/news.ums.ac.id\\\/id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/sites\\\/2\\\/2025\\\/07\\\/fotoweb-11.jpg\",\"width\":1920,\"height\":1080,\"caption\":\"Hasil Karya Peserta Pelatihan Membatik di Kampoeng Batik Laweyan\"},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/news.ums.ac.id\\\/id\\\/berita\\\/cerita-dosen-arsitektur-ums-gagas-kampoeng-batik-laweyan-sebagai-kawasan-wisata-edukasi-ramah-lingkungan\\\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\\\/\\\/news.ums.ac.id\\\/id\\\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Cerita Dosen Arsitektur UMS Gagas Kampoeng Batik Laweyan sebagai Kawasan Wisata Edukasi Ramah Lingkungan\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/news.ums.ac.id\\\/id\\\/#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/news.ums.ac.id\\\/id\\\/\",\"name\":\"Berita UMS\",\"description\":\"Mencerahkan Unggul Mendunia\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/news.ums.ac.id\\\/id\\\/#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/news.ums.ac.id\\\/id\\\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"Organization\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/news.ums.ac.id\\\/id\\\/#organization\",\"name\":\"Berita UMS\",\"url\":\"https:\\\/\\\/news.ums.ac.id\\\/id\\\/\",\"logo\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/news.ums.ac.id\\\/id\\\/#\\\/schema\\\/logo\\\/image\\\/\",\"url\":\"https:\\\/\\\/news.ums.ac.id\\\/id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/sites\\\/2\\\/2021\\\/08\\\/logo-news-ums-v2.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/news.ums.ac.id\\\/id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/sites\\\/2\\\/2021\\\/08\\\/logo-news-ums-v2.jpg\",\"width\":1920,\"height\":1080,\"caption\":\"Berita UMS\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/news.ums.ac.id\\\/id\\\/#\\\/schema\\\/logo\\\/image\\\/\"},\"sameAs\":[\"https:\\\/\\\/www.facebook.com\\\/umsofficialid\\\/?locale=id_ID\"]},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/news.ums.ac.id\\\/id\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/685558eb10f5715113bc9a1fccfd82c7\",\"name\":\"Humas UMS\",\"sameAs\":[\"http:\\\/\\\/news.ums.ac.id\"],\"url\":\"https:\\\/\\\/news.ums.ac.id\\\/id\\\/author\\\/adn466\\\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Cerita Dosen Arsitektur UMS Gagas Kampoeng Batik Laweyan sebagai Kawasan Wisata Edukasi Ramah Lingkungan - Berita UMS","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/news.ums.ac.id\/id\/berita\/cerita-dosen-arsitektur-ums-gagas-kampoeng-batik-laweyan-sebagai-kawasan-wisata-edukasi-ramah-lingkungan\/","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"Cerita Dosen Arsitektur UMS Gagas Kampoeng Batik Laweyan sebagai Kawasan Wisata Edukasi Ramah Lingkungan - Berita UMS","og_description":"ums.ac.id, SURAKARTA \u2013 Kampoeng Batik Laweyan dikenal sebagai salah satu kawasan batik tertua di Indonesia. Di balik geliat pelestarian kawasan ini, terdapat sosok Ir. Alpha Febela Priyatmono, M.T., dosen Arsitektur Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), yang juga menjabat sebagai Ketua Forum Pengembangan Kampoeng Batik Laweyan (FPKBL). Sejak tahun 2004, ia bersama komunitas setempat menggagas gerakan revitalisasi [&hellip;]","og_url":"https:\/\/news.ums.ac.id\/id\/berita\/cerita-dosen-arsitektur-ums-gagas-kampoeng-batik-laweyan-sebagai-kawasan-wisata-edukasi-ramah-lingkungan\/","og_site_name":"Berita UMS","article_publisher":"https:\/\/www.facebook.com\/umsofficialid\/?locale=id_ID","article_published_time":"2025-07-04T09:29:21+00:00","article_modified_time":"2025-07-04T09:29:53+00:00","og_image":[{"width":1920,"height":1080,"url":"https:\/\/news.ums.ac.id\/id\/wp-content\/uploads\/sites\/2\/2025\/07\/fotoweb-11.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"Humas UMS","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Ditulis oleh":"Humas UMS","Estimasi waktu membaca":"3 menit"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/news.ums.ac.id\/id\/berita\/cerita-dosen-arsitektur-ums-gagas-kampoeng-batik-laweyan-sebagai-kawasan-wisata-edukasi-ramah-lingkungan\/#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/news.ums.ac.id\/id\/berita\/cerita-dosen-arsitektur-ums-gagas-kampoeng-batik-laweyan-sebagai-kawasan-wisata-edukasi-ramah-lingkungan\/"},"author":{"name":"Humas UMS","@id":"https:\/\/news.ums.ac.id\/id\/#\/schema\/person\/685558eb10f5715113bc9a1fccfd82c7"},"headline":"Cerita Dosen Arsitektur UMS Gagas Kampoeng Batik Laweyan sebagai Kawasan Wisata Edukasi Ramah Lingkungan","datePublished":"2025-07-04T09:29:21+00:00","dateModified":"2025-07-04T09:29:53+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/news.ums.ac.id\/id\/berita\/cerita-dosen-arsitektur-ums-gagas-kampoeng-batik-laweyan-sebagai-kawasan-wisata-edukasi-ramah-lingkungan\/"},"wordCount":577,"publisher":{"@id":"https:\/\/news.ums.ac.id\/id\/#organization"},"image":{"@id":"https:\/\/news.ums.ac.id\/id\/berita\/cerita-dosen-arsitektur-ums-gagas-kampoeng-batik-laweyan-sebagai-kawasan-wisata-edukasi-ramah-lingkungan\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/news.ums.ac.id\/id\/wp-content\/uploads\/sites\/2\/2025\/07\/fotoweb-11.jpg","keywords":["Fakultas Teknik","Kata Pakar","Opini","Terkini"],"articleSection":["Berita","Kata Pakar"],"inLanguage":"id"},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/news.ums.ac.id\/id\/berita\/cerita-dosen-arsitektur-ums-gagas-kampoeng-batik-laweyan-sebagai-kawasan-wisata-edukasi-ramah-lingkungan\/","url":"https:\/\/news.ums.ac.id\/id\/berita\/cerita-dosen-arsitektur-ums-gagas-kampoeng-batik-laweyan-sebagai-kawasan-wisata-edukasi-ramah-lingkungan\/","name":"Cerita Dosen Arsitektur UMS Gagas Kampoeng Batik Laweyan sebagai Kawasan Wisata Edukasi Ramah Lingkungan - Berita UMS","isPartOf":{"@id":"https:\/\/news.ums.ac.id\/id\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/news.ums.ac.id\/id\/berita\/cerita-dosen-arsitektur-ums-gagas-kampoeng-batik-laweyan-sebagai-kawasan-wisata-edukasi-ramah-lingkungan\/#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/news.ums.ac.id\/id\/berita\/cerita-dosen-arsitektur-ums-gagas-kampoeng-batik-laweyan-sebagai-kawasan-wisata-edukasi-ramah-lingkungan\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/news.ums.ac.id\/id\/wp-content\/uploads\/sites\/2\/2025\/07\/fotoweb-11.jpg","datePublished":"2025-07-04T09:29:21+00:00","dateModified":"2025-07-04T09:29:53+00:00","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/news.ums.ac.id\/id\/berita\/cerita-dosen-arsitektur-ums-gagas-kampoeng-batik-laweyan-sebagai-kawasan-wisata-edukasi-ramah-lingkungan\/#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/news.ums.ac.id\/id\/berita\/cerita-dosen-arsitektur-ums-gagas-kampoeng-batik-laweyan-sebagai-kawasan-wisata-edukasi-ramah-lingkungan\/"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/news.ums.ac.id\/id\/berita\/cerita-dosen-arsitektur-ums-gagas-kampoeng-batik-laweyan-sebagai-kawasan-wisata-edukasi-ramah-lingkungan\/#primaryimage","url":"https:\/\/news.ums.ac.id\/id\/wp-content\/uploads\/sites\/2\/2025\/07\/fotoweb-11.jpg","contentUrl":"https:\/\/news.ums.ac.id\/id\/wp-content\/uploads\/sites\/2\/2025\/07\/fotoweb-11.jpg","width":1920,"height":1080,"caption":"Hasil Karya Peserta Pelatihan Membatik di Kampoeng Batik Laweyan"},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/news.ums.ac.id\/id\/berita\/cerita-dosen-arsitektur-ums-gagas-kampoeng-batik-laweyan-sebagai-kawasan-wisata-edukasi-ramah-lingkungan\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/news.ums.ac.id\/id\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Cerita Dosen Arsitektur UMS Gagas Kampoeng Batik Laweyan sebagai Kawasan Wisata Edukasi Ramah Lingkungan"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/news.ums.ac.id\/id\/#website","url":"https:\/\/news.ums.ac.id\/id\/","name":"Berita UMS","description":"Mencerahkan Unggul Mendunia","publisher":{"@id":"https:\/\/news.ums.ac.id\/id\/#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/news.ums.ac.id\/id\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"id"},{"@type":"Organization","@id":"https:\/\/news.ums.ac.id\/id\/#organization","name":"Berita UMS","url":"https:\/\/news.ums.ac.id\/id\/","logo":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/news.ums.ac.id\/id\/#\/schema\/logo\/image\/","url":"https:\/\/news.ums.ac.id\/id\/wp-content\/uploads\/sites\/2\/2021\/08\/logo-news-ums-v2.jpg","contentUrl":"https:\/\/news.ums.ac.id\/id\/wp-content\/uploads\/sites\/2\/2021\/08\/logo-news-ums-v2.jpg","width":1920,"height":1080,"caption":"Berita UMS"},"image":{"@id":"https:\/\/news.ums.ac.id\/id\/#\/schema\/logo\/image\/"},"sameAs":["https:\/\/www.facebook.com\/umsofficialid\/?locale=id_ID"]},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/news.ums.ac.id\/id\/#\/schema\/person\/685558eb10f5715113bc9a1fccfd82c7","name":"Humas UMS","sameAs":["http:\/\/news.ums.ac.id"],"url":"https:\/\/news.ums.ac.id\/id\/author\/adn466\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/news.ums.ac.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/27751","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/news.ums.ac.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/news.ums.ac.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/news.ums.ac.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/8"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/news.ums.ac.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=27751"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/news.ums.ac.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/27751\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":27755,"href":"https:\/\/news.ums.ac.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/27751\/revisions\/27755"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/news.ums.ac.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/27752"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/news.ums.ac.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=27751"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/news.ums.ac.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=27751"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/news.ums.ac.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=27751"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}