{"id":30864,"date":"2025-10-27T09:00:40","date_gmt":"2025-10-27T02:00:40","guid":{"rendered":"https:\/\/news.ums.ac.id\/id\/?p=30864"},"modified":"2025-10-27T09:00:40","modified_gmt":"2025-10-27T02:00:40","slug":"tradisi-debat-jadal-dalam-sejarah-intelektual-islam","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/news.ums.ac.id\/id\/kabar-persyarikatan\/tradisi-debat-jadal-dalam-sejarah-intelektual-islam\/","title":{"rendered":"Tradisi Debat (Jadal) dalam Sejarah Intelektual Islam"},"content":{"rendered":"<p><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" class=\"alignnone size-full wp-image-30865\" src=\"https:\/\/news.ums.ac.id\/id\/wp-content\/uploads\/sites\/2\/2025\/10\/WhatsApp-Image-2024-01-23-at-13.59.48-750x536-1.jpeg\" alt=\"\" width=\"750\" height=\"536\" \/><\/p>\n<p>Berabad-abad sebelum berinteraksi dengan karya dialektika Aristoteles, umat Islam telah mempraktekkan budaya perdebatan. Mereka menggambarkan tradisi argumentatif ini dengan berbagai konsep, seperti al-hij\u0101\u2019 (satire) dan al-naq\u0101\u2019i\u1e0d (flytings\/kompetisi dalam puisi), muj\u0101dalah (polemik) dalam konteks Qur\u2019an, khil\u0101f (disagreement\/perbedaan pandangan), dan jadal (dialectical\/debat) dalam ilmu hukum dan teologi.<\/p>\n<p>Tulisan di bawah ini akan fokus ada jadal. Rujukan utamanya ialah tulisan Anggota Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah Mohammad Syifa Amin Widigdo yang berjudul \u201cAristotelian Dialectic, Medieval Jadal, and Medieval Scholastic Disputation\u201d. Artikel yang ditulis dosen Universitas Muhammadiyah Yogyakarta ini terdapat dalam The American Journal of Islamic Social Sciences volume 35 Nomer 4 yang terbit tahun 2018. Dalam tulisan ini, Syifa menguraikan aspek historis dari jadal dalam tradisi sejarah intelektual Islam.<\/p>\n<p>Pengaruh Aristoteles terhadap intelektual Muslim dimulai saat para sarjana, terutama teolog (mutakallim\u016bn), pertama kali menghadapi karya dialektika Aristoteles. Khalifah al-Mahd\u012b (w. 169\/785) memerintahkan untuk menerjemahan buku Aristoteles \u201cTopics\u201d pada tahun 165\/782. Ia juga meminta para teolog Muslim merespons argumen golongan heretik (pelaku bidah) dan skeptis (para filsuf) dengan mengintegrasikan dialektika (jadal) dalam praktik dan karya ilmiah mereka. Tujuannya hanya satu: membela akidah Islam.<\/p>\n<p>Ya\u1e25y\u0101 b. Mu\u1e25ammad b. Is\u1e25\u0101q b. R\u012bwand\u012b (w. 298\/910), atau lebih dikenal sebagai Ibn R\u012bwand\u012b, seorang teolog terkemuka, menulis risalah berjudul \u201c\u0100d\u0101b al-Jadal\u201d pada akhir abad ketiga atau awal abad keempat. Setelah itu, tulisan-tulisan jadal teologis lainnya muncul, baik untuk mengkritik atau membela Ibn R\u012bwand\u012b, seperti dalam kasus al-Ka\u02bfb\u012b al-Balkh\u012b (w. 319\/931) dan al-Asy\u02bfar\u012b (w. 319\/931). Tulisan-tulisan tersebut lebih fokus pada pengembangan teori jadal, dengan tujuan mencapai kebenaran, mengalahkan lawan, atau membela posisi teologis tertentu dari tantangan eksternal.<\/p>\n<p>Beberapa teolog yang menulis tentang jadal termasuk Ab\u016b Man\u1e63\u016br al-M\u0101tur\u012bd\u012b (w. 332-6\/944-8), Ibn Wahb al-K\u0101tib (sekitar 335\/946), al-Mu\u1e6dahhar b. \u1e6c\u0101hir al-Maqdis\u012b (sekitar 355\/966), Ab\u016b Bakr Mu\u1e25ammad Ibn Fur\u0101k (w. 406\/1015), Ibn \u1e24azm (w. 456\/1064), dan al-Kh\u0101tib al-Baghd\u0101d\u012b (w. 463\/1071). Periode ini mencerminkan perkembangan yang signifikan dalam penggunaan dan pemahaman jadal di kalangan intelektual Muslim, menandai tahap awal dalam formulasi teori jadal mereka sendiri.<\/p>\n<p>Pengembangan karya tentang jadal oleh para teolog Muslim, meskipun mencakup tujuan apologetik, memiliki klaim normatif bahwa jadal dapat mencapai kebenaran. Dalam hal ini, para teolog Islam berusaha membedakan tujuan dialektika mereka dari dialektika Aristoteles. Jika tujuan dialektika Aristoteles adalah untuk menunjukkan kontradiksi dalam penalaran lawan agar seseorang bisa memenangkan perdebatan; para sarjana Islam menyatakan bahwa tujuan mereka melalui pengembangan praktik dan teori jadal adalah untuk mencapai kebenaran.<\/p>\n<p>Demi mencapai kebenaran, para teolog Muslim memodifikasi pertanyaan-pertanyaan dialektika Aristoteles, yaitu pertanyaan \u201cya\u201d atau \u201ctidak\u201d yang bersifat membatasi (erotema), menjadi pertanyaan yang lebih terbuka (pusma) yang memerlukan jawaban lebih panjang. Selain itu, mereka beralih dari pertanyaan logis yang menilai validitas logis lawan menjadi pertanyaan epistemik yang mencari pengetahuan dan buktinya. Dengan demikian, pendekatan ini mencerminkan upaya para sarjana Muslim untuk mencapai kebenaran substantif melalui penerapan jadal.<\/p>\n<p>Para sarjana Islam tidak sepakat bila jadal yang merupakan jalan mencari kebenaran menggunakan cara-cara yang nir-adab. Jadal yang memiliki motif-motif nir-etika ini biasanya tumbuh dalam genre teologis ketimbang hukum. Ab\u016b Bakr al-Qaff\u0101l al-Sy\u0101sy\u012b (w. 365\/976) lantas membedakan antara \u201cjadal terpuji\u201d yang tujuannya mencari kebenaran; dan \u201cjadal tercela\u201d yang hanya bertujuan untuk menang. \u201cJadal yang terpuji\u201d merupakan cara yang tepat dalam mencapai kebenaran yang substantif; sementara \u201cjadal yang tercela\u201d hanya akan berujung pada permusuhan yang kontraproduktif.<\/p>\n<p>Para ulama kemudian menulis buku tentang aturan \u201cjadal yang terpuji\u201d dalam konteks wacana hukum. Beberapa di antaranya al-Qaff\u0101l al-Sy\u0101sy\u012b (w. 365\/976), Ab\u016b al-\u1e24usayn al-\u1e62aymir\u012b (w. 436\/1044), Ibn \u1e24azm (w. 456\/1063), Ab\u016b al-Wal\u012bd al-B\u0101j\u012b (w. 474\/1081), Ab\u016b Bakr al-Khaff\u0101f (sekitar abad ke-4\/10), Ab\u016b Is\u1e25\u0101q al-Sy\u012br\u0101z\u012b (w. 476\/1083), Ab\u016b al-Waf\u0101\u2019 b. \u02bfAq\u012bl (w. 513\/1119). Pengembangan teori jadal pada periode ini mencapai puncaknya, menurut Wael B Hallaq, dengan kehadiran Imam al-\u1e24aramayn al-Juwayn\u012b (w. 478\/1085).<\/p>\n<p>Al-Juwayn\u012b bukan hanya seorang ahli fikih (faq\u012bh), tapi juga seorang teolog (mutakallim) yang menulis risalah-teologi berpengaruh seperti Kit\u0101b al-Irsy\u0101d dan al-Sy\u0101mil f\u012b u\u1e63\u016bl al-d\u012bn. Beliau mengikuti madzhab Sy\u0101fi\u02bf\u012b dalam fikih (hukum) dan madzhab Asy\u02bfar\u012b dalam kal\u0101m (teologi). Beliau merumuskan teori dialektika yang terorganisir secara sistematis dalam al-K\u0101f\u012byah f\u012b al-jadal, yang kemudian juga diterapkan dalam karya-karya kal\u0101m dan fikihnya. Dalam konteks ini, sebagai seorang faq\u012bh dan mutakallim, Imam al-\u1e24aramayn menggunakan \u201cjadal yang terpuji\u201d baik dalam pengaturan hukum maupun teologi.<\/p>\n<p>Al- Juwayn\u012b mendefinisikan jadal (baik dalam pembahasan fikih maupun teologi) sebagai \u201cjadal yang bertujuan mencari kebenaran dan mengungkap kebohongan, bercita-cita mendapatkan petunjuk ilahi, bersama mereka yang ingin kembali kepada kebenaran dari kebatilan.\u201d Kebenaran, kata Imam al-\u1e24aramayn, adalah al-tsub\u016bt (kepastian atau keyakinan). Tingkat al-tsub\u016bt yang dihasilkan dari proses jadal adalah \u201ckeyakinan yang lebih kuat\u201d (ghalabat al-\u1e93ann), yaitu adanya adanya kepastian epistemologis (qa\u1e6d\u02bf\u012b) dan kepastian psikologis (al-yaq\u012bn).<\/p>\n<p>Dengan kata lain, meskipun dialektika Aristoteles memiliki pengaruh terhadap para sarjana Islam pada Abad Pertengahan, namun mereka mampu memodifikasinya agar sesuai dengan kepentingan umat Islam. Mereka sukses mengembangkan gagasan \u201cjadal yang terpuji\u201d yang tidak bertujuan untuk mengalahkan pihak lawan secara retoris dengan maksud memperoleh ketenaran, kekayaan, atau prestise. Dalam Islam, tradisi jadal diarahkan pada usaha untuk memperoleh kebenaran. Dengan konteks ini, kebenaran yang diupayakan mencakup dimensi epistemik dan psikologis.<\/p>\n<p>Referensi:<\/p>\n<p>Mohammad Syifa Amin Widigdo, \u201cAristotelian Dialectic, Medieval Jadal, and Medieval Scholastic Disputation\u201d, dalam The American Journal of Islamic Social Sciences, Vol. 35 No. 4 (2018).<\/p>\n<p>Imam al-\u1e24aramayn al-Juwayn\u012b, al-K\u0101f\u012bya f\u012b al-Jadal, ed. Fawq\u012byah \u1e24usayn Ma\u1e25m\u016bd (Cairo: D\u0101r al-I\u1e25y\u0101\u2019 al-Kutub al-\u02bdArab\u012bya, 1979).<\/p>\n<p>Wael B. Hallaq, A History of Islamic Legal Theories: An Introduction to Sunn\u012b U\u1e63\u016bl Al-Fiqh (Cambridge: Cambridge University Press, 1997).<\/p>\n<p>Sumber: <a href=\"https:\/\/muhammadiyah.or.id\/2024\/01\/tradisi-debat-jadal-dalam-sejarah-intelektual-islam\/\">https:\/\/muhammadiyah.or.id\/2024\/01\/tradisi-debat-jadal-dalam-sejarah-intelektual-islam\/<\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Berabad-abad sebelum berinteraksi dengan karya dialektika Aristoteles, umat Islam telah mempraktekkan budaya perdebatan. Mereka menggambarkan tradisi argumentatif ini dengan berbagai konsep, seperti al-hij\u0101\u2019 (satire) dan al-naq\u0101\u2019i\u1e0d (flytings\/kompetisi dalam puisi), muj\u0101dalah (polemik) dalam konteks Qur\u2019an, khil\u0101f (disagreement\/perbedaan pandangan), dan jadal (dialectical\/debat) dalam ilmu hukum dan teologi. Tulisan di bawah ini akan fokus ada jadal. Rujukan utamanya [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":8,"featured_media":30865,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[256],"tags":[107],"class_list":["post-30864","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-kabar-persyarikatan","tag-muhammadiyah","entry","has-media"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v27.6 - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-wordpress\/ -->\n<title>Tradisi Debat (Jadal) dalam Sejarah Intelektual Islam - Berita UMS<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/news.ums.ac.id\/id\/kabar-persyarikatan\/tradisi-debat-jadal-dalam-sejarah-intelektual-islam\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Tradisi Debat (Jadal) dalam Sejarah Intelektual Islam - Berita UMS\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Berabad-abad sebelum berinteraksi dengan karya dialektika Aristoteles, umat Islam telah mempraktekkan budaya perdebatan. Mereka menggambarkan tradisi argumentatif ini dengan berbagai konsep, seperti al-hij\u0101\u2019 (satire) dan al-naq\u0101\u2019i\u1e0d (flytings\/kompetisi dalam puisi), muj\u0101dalah (polemik) dalam konteks Qur\u2019an, khil\u0101f (disagreement\/perbedaan pandangan), dan jadal (dialectical\/debat) dalam ilmu hukum dan teologi. Tulisan di bawah ini akan fokus ada jadal. Rujukan utamanya [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/news.ums.ac.id\/id\/kabar-persyarikatan\/tradisi-debat-jadal-dalam-sejarah-intelektual-islam\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Berita UMS\" \/>\n<meta property=\"article:publisher\" content=\"https:\/\/www.facebook.com\/umsofficialid\/?locale=id_ID\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2025-10-27T02:00:40+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/news.ums.ac.id\/id\/wp-content\/uploads\/sites\/2\/2025\/10\/WhatsApp-Image-2024-01-23-at-13.59.48-750x536-1.jpeg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"750\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"536\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Humas UMS\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Ditulis oleh\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"Humas UMS\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Estimasi waktu membaca\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"5 menit\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/news.ums.ac.id\\\/id\\\/kabar-persyarikatan\\\/tradisi-debat-jadal-dalam-sejarah-intelektual-islam\\\/#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/news.ums.ac.id\\\/id\\\/kabar-persyarikatan\\\/tradisi-debat-jadal-dalam-sejarah-intelektual-islam\\\/\"},\"author\":{\"name\":\"Humas UMS\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/news.ums.ac.id\\\/id\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/685558eb10f5715113bc9a1fccfd82c7\"},\"headline\":\"Tradisi Debat (Jadal) dalam Sejarah Intelektual Islam\",\"datePublished\":\"2025-10-27T02:00:40+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/news.ums.ac.id\\\/id\\\/kabar-persyarikatan\\\/tradisi-debat-jadal-dalam-sejarah-intelektual-islam\\\/\"},\"wordCount\":932,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/news.ums.ac.id\\\/id\\\/#organization\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/news.ums.ac.id\\\/id\\\/kabar-persyarikatan\\\/tradisi-debat-jadal-dalam-sejarah-intelektual-islam\\\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/news.ums.ac.id\\\/id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/sites\\\/2\\\/2025\\\/10\\\/WhatsApp-Image-2024-01-23-at-13.59.48-750x536-1.jpeg\",\"keywords\":[\"Muhammadiyah\"],\"articleSection\":[\"Kabar Persyarikatan\"],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/news.ums.ac.id\\\/id\\\/kabar-persyarikatan\\\/tradisi-debat-jadal-dalam-sejarah-intelektual-islam\\\/\",\"url\":\"https:\\\/\\\/news.ums.ac.id\\\/id\\\/kabar-persyarikatan\\\/tradisi-debat-jadal-dalam-sejarah-intelektual-islam\\\/\",\"name\":\"Tradisi Debat (Jadal) dalam Sejarah Intelektual Islam - Berita UMS\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/news.ums.ac.id\\\/id\\\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/news.ums.ac.id\\\/id\\\/kabar-persyarikatan\\\/tradisi-debat-jadal-dalam-sejarah-intelektual-islam\\\/#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/news.ums.ac.id\\\/id\\\/kabar-persyarikatan\\\/tradisi-debat-jadal-dalam-sejarah-intelektual-islam\\\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/news.ums.ac.id\\\/id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/sites\\\/2\\\/2025\\\/10\\\/WhatsApp-Image-2024-01-23-at-13.59.48-750x536-1.jpeg\",\"datePublished\":\"2025-10-27T02:00:40+00:00\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/news.ums.ac.id\\\/id\\\/kabar-persyarikatan\\\/tradisi-debat-jadal-dalam-sejarah-intelektual-islam\\\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/news.ums.ac.id\\\/id\\\/kabar-persyarikatan\\\/tradisi-debat-jadal-dalam-sejarah-intelektual-islam\\\/\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/news.ums.ac.id\\\/id\\\/kabar-persyarikatan\\\/tradisi-debat-jadal-dalam-sejarah-intelektual-islam\\\/#primaryimage\",\"url\":\"https:\\\/\\\/news.ums.ac.id\\\/id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/sites\\\/2\\\/2025\\\/10\\\/WhatsApp-Image-2024-01-23-at-13.59.48-750x536-1.jpeg\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/news.ums.ac.id\\\/id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/sites\\\/2\\\/2025\\\/10\\\/WhatsApp-Image-2024-01-23-at-13.59.48-750x536-1.jpeg\",\"width\":750,\"height\":536},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/news.ums.ac.id\\\/id\\\/kabar-persyarikatan\\\/tradisi-debat-jadal-dalam-sejarah-intelektual-islam\\\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\\\/\\\/news.ums.ac.id\\\/id\\\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Tradisi Debat (Jadal) dalam Sejarah Intelektual Islam\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/news.ums.ac.id\\\/id\\\/#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/news.ums.ac.id\\\/id\\\/\",\"name\":\"Berita UMS\",\"description\":\"Mencerahkan Unggul Mendunia\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/news.ums.ac.id\\\/id\\\/#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/news.ums.ac.id\\\/id\\\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"Organization\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/news.ums.ac.id\\\/id\\\/#organization\",\"name\":\"Berita UMS\",\"url\":\"https:\\\/\\\/news.ums.ac.id\\\/id\\\/\",\"logo\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/news.ums.ac.id\\\/id\\\/#\\\/schema\\\/logo\\\/image\\\/\",\"url\":\"https:\\\/\\\/news.ums.ac.id\\\/id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/sites\\\/2\\\/2021\\\/08\\\/logo-news-ums-v2.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/news.ums.ac.id\\\/id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/sites\\\/2\\\/2021\\\/08\\\/logo-news-ums-v2.jpg\",\"width\":1920,\"height\":1080,\"caption\":\"Berita UMS\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/news.ums.ac.id\\\/id\\\/#\\\/schema\\\/logo\\\/image\\\/\"},\"sameAs\":[\"https:\\\/\\\/www.facebook.com\\\/umsofficialid\\\/?locale=id_ID\"]},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/news.ums.ac.id\\\/id\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/685558eb10f5715113bc9a1fccfd82c7\",\"name\":\"Humas UMS\",\"sameAs\":[\"http:\\\/\\\/news.ums.ac.id\"],\"url\":\"https:\\\/\\\/news.ums.ac.id\\\/id\\\/author\\\/adn466\\\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Tradisi Debat (Jadal) dalam Sejarah Intelektual Islam - Berita UMS","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/news.ums.ac.id\/id\/kabar-persyarikatan\/tradisi-debat-jadal-dalam-sejarah-intelektual-islam\/","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"Tradisi Debat (Jadal) dalam Sejarah Intelektual Islam - Berita UMS","og_description":"Berabad-abad sebelum berinteraksi dengan karya dialektika Aristoteles, umat Islam telah mempraktekkan budaya perdebatan. Mereka menggambarkan tradisi argumentatif ini dengan berbagai konsep, seperti al-hij\u0101\u2019 (satire) dan al-naq\u0101\u2019i\u1e0d (flytings\/kompetisi dalam puisi), muj\u0101dalah (polemik) dalam konteks Qur\u2019an, khil\u0101f (disagreement\/perbedaan pandangan), dan jadal (dialectical\/debat) dalam ilmu hukum dan teologi. Tulisan di bawah ini akan fokus ada jadal. Rujukan utamanya [&hellip;]","og_url":"https:\/\/news.ums.ac.id\/id\/kabar-persyarikatan\/tradisi-debat-jadal-dalam-sejarah-intelektual-islam\/","og_site_name":"Berita UMS","article_publisher":"https:\/\/www.facebook.com\/umsofficialid\/?locale=id_ID","article_published_time":"2025-10-27T02:00:40+00:00","og_image":[{"width":750,"height":536,"url":"https:\/\/news.ums.ac.id\/id\/wp-content\/uploads\/sites\/2\/2025\/10\/WhatsApp-Image-2024-01-23-at-13.59.48-750x536-1.jpeg","type":"image\/jpeg"}],"author":"Humas UMS","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Ditulis oleh":"Humas UMS","Estimasi waktu membaca":"5 menit"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/news.ums.ac.id\/id\/kabar-persyarikatan\/tradisi-debat-jadal-dalam-sejarah-intelektual-islam\/#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/news.ums.ac.id\/id\/kabar-persyarikatan\/tradisi-debat-jadal-dalam-sejarah-intelektual-islam\/"},"author":{"name":"Humas UMS","@id":"https:\/\/news.ums.ac.id\/id\/#\/schema\/person\/685558eb10f5715113bc9a1fccfd82c7"},"headline":"Tradisi Debat (Jadal) dalam Sejarah Intelektual Islam","datePublished":"2025-10-27T02:00:40+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/news.ums.ac.id\/id\/kabar-persyarikatan\/tradisi-debat-jadal-dalam-sejarah-intelektual-islam\/"},"wordCount":932,"publisher":{"@id":"https:\/\/news.ums.ac.id\/id\/#organization"},"image":{"@id":"https:\/\/news.ums.ac.id\/id\/kabar-persyarikatan\/tradisi-debat-jadal-dalam-sejarah-intelektual-islam\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/news.ums.ac.id\/id\/wp-content\/uploads\/sites\/2\/2025\/10\/WhatsApp-Image-2024-01-23-at-13.59.48-750x536-1.jpeg","keywords":["Muhammadiyah"],"articleSection":["Kabar Persyarikatan"],"inLanguage":"id"},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/news.ums.ac.id\/id\/kabar-persyarikatan\/tradisi-debat-jadal-dalam-sejarah-intelektual-islam\/","url":"https:\/\/news.ums.ac.id\/id\/kabar-persyarikatan\/tradisi-debat-jadal-dalam-sejarah-intelektual-islam\/","name":"Tradisi Debat (Jadal) dalam Sejarah Intelektual Islam - Berita UMS","isPartOf":{"@id":"https:\/\/news.ums.ac.id\/id\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/news.ums.ac.id\/id\/kabar-persyarikatan\/tradisi-debat-jadal-dalam-sejarah-intelektual-islam\/#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/news.ums.ac.id\/id\/kabar-persyarikatan\/tradisi-debat-jadal-dalam-sejarah-intelektual-islam\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/news.ums.ac.id\/id\/wp-content\/uploads\/sites\/2\/2025\/10\/WhatsApp-Image-2024-01-23-at-13.59.48-750x536-1.jpeg","datePublished":"2025-10-27T02:00:40+00:00","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/news.ums.ac.id\/id\/kabar-persyarikatan\/tradisi-debat-jadal-dalam-sejarah-intelektual-islam\/#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/news.ums.ac.id\/id\/kabar-persyarikatan\/tradisi-debat-jadal-dalam-sejarah-intelektual-islam\/"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/news.ums.ac.id\/id\/kabar-persyarikatan\/tradisi-debat-jadal-dalam-sejarah-intelektual-islam\/#primaryimage","url":"https:\/\/news.ums.ac.id\/id\/wp-content\/uploads\/sites\/2\/2025\/10\/WhatsApp-Image-2024-01-23-at-13.59.48-750x536-1.jpeg","contentUrl":"https:\/\/news.ums.ac.id\/id\/wp-content\/uploads\/sites\/2\/2025\/10\/WhatsApp-Image-2024-01-23-at-13.59.48-750x536-1.jpeg","width":750,"height":536},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/news.ums.ac.id\/id\/kabar-persyarikatan\/tradisi-debat-jadal-dalam-sejarah-intelektual-islam\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/news.ums.ac.id\/id\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Tradisi Debat (Jadal) dalam Sejarah Intelektual Islam"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/news.ums.ac.id\/id\/#website","url":"https:\/\/news.ums.ac.id\/id\/","name":"Berita UMS","description":"Mencerahkan Unggul Mendunia","publisher":{"@id":"https:\/\/news.ums.ac.id\/id\/#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/news.ums.ac.id\/id\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"id"},{"@type":"Organization","@id":"https:\/\/news.ums.ac.id\/id\/#organization","name":"Berita UMS","url":"https:\/\/news.ums.ac.id\/id\/","logo":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/news.ums.ac.id\/id\/#\/schema\/logo\/image\/","url":"https:\/\/news.ums.ac.id\/id\/wp-content\/uploads\/sites\/2\/2021\/08\/logo-news-ums-v2.jpg","contentUrl":"https:\/\/news.ums.ac.id\/id\/wp-content\/uploads\/sites\/2\/2021\/08\/logo-news-ums-v2.jpg","width":1920,"height":1080,"caption":"Berita UMS"},"image":{"@id":"https:\/\/news.ums.ac.id\/id\/#\/schema\/logo\/image\/"},"sameAs":["https:\/\/www.facebook.com\/umsofficialid\/?locale=id_ID"]},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/news.ums.ac.id\/id\/#\/schema\/person\/685558eb10f5715113bc9a1fccfd82c7","name":"Humas UMS","sameAs":["http:\/\/news.ums.ac.id"],"url":"https:\/\/news.ums.ac.id\/id\/author\/adn466\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/news.ums.ac.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/30864","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/news.ums.ac.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/news.ums.ac.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/news.ums.ac.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/8"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/news.ums.ac.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=30864"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/news.ums.ac.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/30864\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":30866,"href":"https:\/\/news.ums.ac.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/30864\/revisions\/30866"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/news.ums.ac.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/30865"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/news.ums.ac.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=30864"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/news.ums.ac.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=30864"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/news.ums.ac.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=30864"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}