{"id":36872,"date":"2026-04-23T20:58:48","date_gmt":"2026-04-23T13:58:48","guid":{"rendered":"https:\/\/news.ums.ac.id\/id\/?p=36872"},"modified":"2026-04-23T20:58:48","modified_gmt":"2026-04-23T13:58:48","slug":"kejahatan-tanpa-niat-saat-sok-tahu-menghancurkan-hidup-orang-lain","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/news.ums.ac.id\/id\/opini\/kejahatan-tanpa-niat-saat-sok-tahu-menghancurkan-hidup-orang-lain\/","title":{"rendered":"Kejahatan Tanpa Niat: Saat &#8220;Sok Tahu&#8221; Menghancurkan Hidup Orang Lain"},"content":{"rendered":"<p class=\"s6\"><em><span class=\"s5\">Antara Niat dan Dampak: Sebuah Paradoks Moral<\/span><\/em><\/p>\n<p class=\"s8\"><span class=\"s7\">Konsep mens rea, atau pikiran jahat, dianggap sebagai komponen kejahatan dalam hukum kontemporer. Namun, realitas <a href=\"https:\/\/www.ums.ac.id\/\">sosial<\/a> sangat kompleks. Mereka yang merasa benar tetapi tidak tahu sering kali merupakan orang yang paling berbahaya bagi masyarakat<\/span><span class=\"s7\">.<\/span><\/p>\n<p class=\"s8\"><span class=\"s7\">Al-Qur&#8217;an tidak sekadar berbicara tentang niat, tetapi lebih dalam dari itu: tentang <\/span><span class=\"s9\">tanggung jawab epistemis<\/span><span class=\"s7\"> \u2014 kewajiban seseorang untuk mendasarkan tindakannya pada pengetahuan yang benar dan terverifikasi (<\/span><span class=\"s10\">Nurrohim, 2019<\/span><span class=\"s7\">). Dalam pandangan ini, bertindak berdasarkan asumsi yang belum terverifikasi bukanlah sekadar kekeliruan intelektual, ia adalah pelanggaran moral.<\/span><\/p>\n<h2 class=\"s6\"><span class=\"s5\">Al-Jahl dalam Al-Qur&#8217;an: Lebih dari Sekadar Kebodohan<\/span><\/h2>\n<p class=\"s8\"><span class=\"s7\">Kata Arab <\/span><span class=\"s10\">jahl<\/span><span class=\"s7\"> (<\/span><span class=\"s11\">\u062c\u0647\u0644<\/span><span class=\"s7\">) sering diterjemahkan sebagai &#8220;kebodohan,&#8221; tetapi pemahaman itu terlalu sempit. Kajian semantik Al-Qur&#8217;an mengungkap dimensi yang jauh lebih kaya. <\/span><span class=\"s10\">Jahl<\/span><span class=\"s7\"> dalam Al-Qur&#8217;an, menurut penafsiran kontemporer, tidak merujuk semata pada ketiadaan pengetahuan, melainkan pada <\/span><span class=\"s9\">sikap bertindak tanpa ilmu yang memadai<\/span><span class=\"s7\">, bahkan bisa terjadi pada orang yang berpendidikan tinggi sekalipun (<\/span><span class=\"s10\">Ummah, 2023<\/span><span class=\"s7\">).<\/span><\/p>\n<p class=\"s8\"><span class=\"s7\">Makna <\/span><span class=\"s10\">jahl<\/span><span class=\"s7\"> dalam Al-Qur&#8217;an menggunakan pendekatan tafsir bi al-ma&#8217;tsur, menekankan bahwa term ini dalam Al-Qur&#8217;an mencakup tiga dimensi: (a) ketidaktahuan intelektual, (b) penolakan terhadap kebenaran meskipun bukti sudah ada, dan (c) tindakan sembrono yang merusak tanpa pertimbangan memadai (<\/span><span class=\"s10\">Nurrohim, 2025<\/span><span class=\"s7\">). Dimensi ketiga inilah yang paling relevan dengan fenomena &#8220;sok tahu&#8221; di era digital.<\/span><\/p>\n<h2 class=\"s6\"><span class=\"s5\">Tabayyun: Kewajiban Epistemis yang Dilupakan<\/span><\/h2>\n<p class=\"s8\"><span class=\"s7\">Al-Qur&#8217;an memiliki banyak solusi. Ayat enam dalam surah Al-Hujurat adalah salah satu ayat paling efektif yang pernah ditulis. Ayat ini berisi bukan hanya nasihat moral yang abstrak, tetapi juga langkah-langkah praktis yang dapat diterapkan untuk menghentikan tindakan jahat tanpa niat<\/span><span class=\"s7\">.<\/span><\/p>\n<p class=\"s8\"><span class=\"s7\">Bi-jah\u0101lah adalah frasa kunci dalam ayat ini, yang berarti &#8220;karena kebodohan&#8221; atau &#8220;dalam keadaan tidak tahu&#8221;. Al-Qur&#8217;an dengan jelas menyatakan bahwa tindakan yang dilakukan dalam keadaan tidak tahu adalah yang paling mungkin menyebabkan kerusakan. Ini adalah pengakuan yang sangat canggih tentang psikologi manusia bahwa orang yang merasa paling yakin sering melakukan kesalahan paling fatal<\/span><span class=\"s7\">.<\/span><\/p>\n<p class=\"s8\"><span class=\"s7\">Konsep tabayyun dalam Al-Hujurat 6 memiliki relevansi praktis yang sangat tinggi dalam konteks media sosial: dampak hoaks bukan sekadar ketidaknyamanan informatif, tetapi dapat &#8220;menimbulkan rasa panik, memicu kesalahpahaman, menyulut kebencian, dan memecah <\/span><span class=\"s7\">belah publik.&#8221; (<\/span><span class=\"s10\">Parhan, 2021<\/span><span class=\"s7\">) Ini adalah dampak kejahatan nyata yang terjadi tanpa niat kejahatan dari pelakunya.<\/span><\/p>\n<p class=\"s8\"><span class=\"s7\">Konsep tabayyun juga ditelaah dalam konteks etika komunikasi Al-Qur&#8217;an yang lebih luas. Etika komunikasi Al-Qur&#8217;an dan relevansinya dengan komunikasi modern, tabayyun ditempatkan sebagai satu dari prinsip-prinsip etis fundamental yang mendukung kesehatan sosial komunitas (<\/span><span class=\"s10\">Nurrohim, 2024<\/span><span class=\"s7\">). Ia bukan sekadar anjuran adab, melainkan fondasi epistemis yang membedakan masyarakat yang beradab dari yang tidak.<\/span><\/p>\n<h2 class=\"s6\"><span class=\"s5\">Hikmah Sebagai Antitesis &#8220;Sok Tahu&#8221;<\/span><\/h2>\n<p class=\"s8\"><span class=\"s7\">Jika <\/span><span class=\"s10\">jahl<\/span><span class=\"s7\"> adalah penyakitnya, Al-Qur&#8217;an menawarkan <\/span><span class=\"s10\">hikmah<\/span><span class=\"s7\"> sebagai obatnya. Konsep hikmah dalam Tafsir Al-Miz\u0101n karya Thabathab\u0101&#8217;i menemukan bahwa kata ini memiliki tiga dimensi makna yang saling mengikat: dimensi ontologis (hikmah sebagai anugerah Ilahi), dimensi epistemologis (pemahaman mendalam terhadap agama dan realitas), dan dimensi aksiologis (hikmah sebagai panduan tindakan kebaikan) (<\/span><span class=\"s10\">Nurrohim, 2019<\/span><span class=\"s7\">).<\/span><\/p>\n<p class=\"s8\"><span class=\"s7\">Dimensi epistemologis ini paling dekat dengan fenomena sok tahu. Dalam hal ini, hikmah bukan sekadar kecakapan atau hafalan; itu adalah kemampuan untuk menahan diri dari bertindak ketika Anda belum tahu cukup. Paradoksnya, orang yang bijak ditandai dengan kemampuan untuk mengatakan, &#8220;Saya tidak tahu&#8221; dalam situasi di mana mereka benar-benar tidak tahu.<\/span><\/p>\n<p class=\"s8\"><span class=\"s7\">Psikologi modern menyebut kualitas ini sebagai <\/span><span class=\"s10\">epistemic humility<\/span><span class=\"s7\">, kerendahan hati intelektual. Sebuah studi meta-analisis yang diterbitkan di <\/span><span class=\"s10\">Psychological Bulletin<\/span><span class=\"s7\">(<\/span><span class=\"s10\">Krumrei-Mancuso &amp; Rouse, 2021<\/span><span class=\"s7\">) menemukan bahwa individu dengan tingkat epistemic humility yang tinggi menunjukkan korelasi positif yang signifikan dengan kualitas pengambilan keputusan, integritas moral, dan harmoni interpersonal. Dengan kata lain, kemampuan untuk berkata &#8220;aku tidak yakin&#8221; bukan tanda kelemahan, ia adalah tanda kematangan intelektual dan moral.<\/span><\/p>\n<h2 class=\"s6\"><span class=\"s5\">Moderasi Beragama dan Etika Informasi<\/span><\/h2>\n<p class=\"s8\"><span class=\"s7\">Konsep moderasi Islam dalam tafsir an-Nur dan tafsir Kementerian Agama RI menemukan bahwa moderasi sejati mengandung dimensi epistemis yang kuat: ia menuntut seseorang untuk tidak berlebihan dalam keyakinan dan terbuka terhadap kemungkinan bahwa pemahamannya mungkin tidak lengkap (<\/span><span class=\"s10\">Nurrohim, 2024<\/span><span class=\"s7\">). Ini secara langsung berbanding terbalik dengan sikap &#8220;sok tahu&#8221; yang justru ditandai oleh keyakinan berlebihan terhadap pengetahuan yang tidak terverifikasi.<\/span><\/p>\n<p class=\"s8\"><span class=\"s7\">Dalam surah Al-Hujurat, etika sosial Al-Qur&#8217;an terdiri dari larangan merendahkan (ayat 11), memata-matai (ayat 12), dan tabayyun (ayat 6). Sistem ini menunjukkan bahwa kerusakan sosial biasanya dimulai dari kebiasaan kecil yang tidak terkontrol, seperti suka membicarakan orang lain, terlalu cepat mengambil kesimpulan, dan terlalu percaya pada asumsi sendiri<\/span><span class=\"s7\">.<\/span><\/p>\n<p class=\"s8\"><span class=\"s7\">Ujaran kebencian di era digital adalah manifestasi paling berbahaya dari absennya tabayyun dan hikmah dalam komunikasi dan hampir semuanya dilakukan oleh orang yang merasa sedang menyebarkan &#8220;kebenaran.&#8221; (<\/span><span class=\"s10\">Lubis, 2023<\/span><span class=\"s7\">).<\/span><\/p>\n<h2 class=\"s6\"><span class=\"s5\">Psikologi Konfirmasi: Sains di Balik &#8220;Sok Tahu&#8221;<\/span><\/h2>\n<p class=\"s8\"><span class=\"s7\">Bagaimana bisa begitu banyak orang cerdas terjebak dalam pola sok tahu? Psikologi kognitif telah menemukan dengan tepat mekanismenya. Bias pengakuan, yaitu kecenderungan untuk mencari informasi yang mengonfirmasi keyakinan yang sudah ada, membuat kita secara selektif mengambil berita yang &#8220;masuk akal&#8221; menurut perspektif dunia kita tanpa benar-benar memverifikasinya<\/span><span class=\"s7\">.<\/span><\/p>\n<p class=\"s8\"><span class=\"s7\">Masalah utama penyebaran misinformasi bukan ketidakmampuan berpikir kritis, melainkan <\/span><span class=\"s7\">kegagalan untuk mengaktifkan<\/span><span class=\"s7\"> kemampuan berpikir kritis itu ketika menerima informasi yang menarik secara emosional (<\/span><span class=\"s10\">Pennycook, 2021<\/span><span class=\"s7\">). Ini persis yang Al-Qur&#8217;an peringatkan dengan frasa &#8220;janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui&#8221; karena kita cenderung <\/span><span class=\"s10\">mengikuti<\/span><span class=\"s7\"> apa yang menarik emosi kita, bahkan tanpa menyadarinya.<\/span><\/p>\n<h2 class=\"s6\"><span class=\"s5\">Episteme dan Akuntabilitas di Era Pasca-Kebenaran<\/span><\/h2>\n<p class=\"s8\"><span class=\"s7\">Kita hidup di era paradoks di mana kepercayaan pada kebenaran semakin rapuh, sementara akses informasi belum pernah semudah ini. Dalam situasi seperti ini, &#8220;sok tahu&#8221; bukan sekadar kelemahan pribadi; itu adalah bencana kultural yang memerlukan respons intelektual dan spiritual yang serius<\/span><span class=\"s7\">.<\/span><\/p>\n<p class=\"s8\"><span class=\"s7\">Al-Qur&#8217;an memberikan dasar yang kuat untuk menangani situasi ini. Tab<\/span><span class=\"s7\">a<\/span><span class=\"s7\">yyun adalah caranya. Kualitas yang dimaksud adalah hikmah. Mas&#8217;\u016bliyyah al-qawl, prinsip yang menggerakkan keduanya, adalah tanggung jawab atas setiap kata. Dan kesadaran bahwa kita akan dimintai pertanggungjawaban bukan hanya atas tindakan tetapi juga atas cara kita mengolah pengetahuan kita adalah dasar untuk mengubah cara kita berbicara dan bertindak<\/span><span class=\"s7\">.<\/span><\/p>\n<p class=\"s8\"><span class=\"s7\">Seorang ibu di kota kecil itu gagal memperbaiki reputasi anaknya. Karena tidak ada bukti niat jahat, penyebar pesan tidak pernah dihukum. Namun, Al-Qur&#8217;an sudah tahu ribuan tahun sebelum psikologi kognitif bahwa kejahatan yang paling sulit dilawan bukan yang berasal dari hati yang jahat, tetapi dari mulut yang terlalu yakin<\/span><span class=\"s7\">.<\/span><\/p>\n<hr \/>\n<p>Nama : Aqdam Aufa Qisthi<br \/>\nNIM: G100240063<br \/>\nFakultas Agama Islam<br \/>\nUniversitas Muhammadiyah Surakarta<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Antara Niat dan Dampak: Sebuah Paradoks Moral Konsep mens rea, atau pikiran jahat, dianggap sebagai komponen kejahatan dalam hukum kontemporer. Namun, realitas sosial sangat kompleks. Mereka yang merasa benar tetapi tidak tahu sering kali merupakan orang yang paling berbahaya bagi masyarakat. Al-Qur&#8217;an tidak sekadar berbicara tentang niat, tetapi lebih dalam dari itu: tentang tanggung jawab [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":8,"featured_media":36874,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[10],"tags":[100,9],"class_list":["post-36872","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-opini","tag-fai","tag-opini","entry","has-media"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v27.6 - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-wordpress\/ -->\n<title>Kejahatan Tanpa Niat: Saat &quot;Sok Tahu&quot; Menghancurkan Hidup Orang Lain - Berita UMS<\/title>\n<meta name=\"description\" content=\"Konsep mens rea, atau pikiran jahat, dianggap sebagai komponen kejahatan dalam hukum kontemporer. Namun, realitas sosial sangat kompleks. Mereka yang merasa benar tetapi tidak tahu sering kali merupakan orang yang paling berbahaya bagi masyarakat.\" \/>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/news.ums.ac.id\/id\/opini\/kejahatan-tanpa-niat-saat-sok-tahu-menghancurkan-hidup-orang-lain\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Kejahatan Tanpa Niat: Saat &quot;Sok Tahu&quot; Menghancurkan Hidup Orang Lain - Berita UMS\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Konsep mens rea, atau pikiran jahat, dianggap sebagai komponen kejahatan dalam hukum kontemporer. Namun, realitas sosial sangat kompleks. Mereka yang merasa benar tetapi tidak tahu sering kali merupakan orang yang paling berbahaya bagi masyarakat.\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/news.ums.ac.id\/id\/opini\/kejahatan-tanpa-niat-saat-sok-tahu-menghancurkan-hidup-orang-lain\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Berita UMS\" \/>\n<meta property=\"article:publisher\" content=\"https:\/\/www.facebook.com\/umsofficialid\/?locale=id_ID\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2026-04-23T13:58:48+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/news.ums.ac.id\/id\/wp-content\/uploads\/sites\/2\/2026\/04\/news.ums_.ac_.id_.jpeg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"1920\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"1080\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Humas UMS\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Ditulis oleh\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"Humas UMS\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Estimasi waktu membaca\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"6 menit\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/news.ums.ac.id\\\/id\\\/opini\\\/kejahatan-tanpa-niat-saat-sok-tahu-menghancurkan-hidup-orang-lain\\\/#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/news.ums.ac.id\\\/id\\\/opini\\\/kejahatan-tanpa-niat-saat-sok-tahu-menghancurkan-hidup-orang-lain\\\/\"},\"author\":{\"name\":\"Humas UMS\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/news.ums.ac.id\\\/id\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/685558eb10f5715113bc9a1fccfd82c7\"},\"headline\":\"Kejahatan Tanpa Niat: Saat &#8220;Sok Tahu&#8221; Menghancurkan Hidup Orang Lain\",\"datePublished\":\"2026-04-23T13:58:48+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/news.ums.ac.id\\\/id\\\/opini\\\/kejahatan-tanpa-niat-saat-sok-tahu-menghancurkan-hidup-orang-lain\\\/\"},\"wordCount\":982,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/news.ums.ac.id\\\/id\\\/#organization\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/news.ums.ac.id\\\/id\\\/opini\\\/kejahatan-tanpa-niat-saat-sok-tahu-menghancurkan-hidup-orang-lain\\\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/news.ums.ac.id\\\/id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/sites\\\/2\\\/2026\\\/04\\\/news.ums_.ac_.id_.jpeg\",\"keywords\":[\"Fakultas Agama Islam\",\"Opini\"],\"articleSection\":[\"Opini\"],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/news.ums.ac.id\\\/id\\\/opini\\\/kejahatan-tanpa-niat-saat-sok-tahu-menghancurkan-hidup-orang-lain\\\/\",\"url\":\"https:\\\/\\\/news.ums.ac.id\\\/id\\\/opini\\\/kejahatan-tanpa-niat-saat-sok-tahu-menghancurkan-hidup-orang-lain\\\/\",\"name\":\"Kejahatan Tanpa Niat: Saat \\\"Sok Tahu\\\" Menghancurkan Hidup Orang Lain - Berita UMS\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/news.ums.ac.id\\\/id\\\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/news.ums.ac.id\\\/id\\\/opini\\\/kejahatan-tanpa-niat-saat-sok-tahu-menghancurkan-hidup-orang-lain\\\/#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/news.ums.ac.id\\\/id\\\/opini\\\/kejahatan-tanpa-niat-saat-sok-tahu-menghancurkan-hidup-orang-lain\\\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/news.ums.ac.id\\\/id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/sites\\\/2\\\/2026\\\/04\\\/news.ums_.ac_.id_.jpeg\",\"datePublished\":\"2026-04-23T13:58:48+00:00\",\"description\":\"Konsep mens rea, atau pikiran jahat, dianggap sebagai komponen kejahatan dalam hukum kontemporer. Namun, realitas sosial sangat kompleks. Mereka yang merasa benar tetapi tidak tahu sering kali merupakan orang yang paling berbahaya bagi masyarakat.\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/news.ums.ac.id\\\/id\\\/opini\\\/kejahatan-tanpa-niat-saat-sok-tahu-menghancurkan-hidup-orang-lain\\\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/news.ums.ac.id\\\/id\\\/opini\\\/kejahatan-tanpa-niat-saat-sok-tahu-menghancurkan-hidup-orang-lain\\\/\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/news.ums.ac.id\\\/id\\\/opini\\\/kejahatan-tanpa-niat-saat-sok-tahu-menghancurkan-hidup-orang-lain\\\/#primaryimage\",\"url\":\"https:\\\/\\\/news.ums.ac.id\\\/id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/sites\\\/2\\\/2026\\\/04\\\/news.ums_.ac_.id_.jpeg\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/news.ums.ac.id\\\/id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/sites\\\/2\\\/2026\\\/04\\\/news.ums_.ac_.id_.jpeg\",\"width\":1920,\"height\":1080,\"caption\":\"Ilustrasi (Foto: Canva)\"},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/news.ums.ac.id\\\/id\\\/opini\\\/kejahatan-tanpa-niat-saat-sok-tahu-menghancurkan-hidup-orang-lain\\\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\\\/\\\/news.ums.ac.id\\\/id\\\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Kejahatan Tanpa Niat: Saat &#8220;Sok Tahu&#8221; Menghancurkan Hidup Orang Lain\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/news.ums.ac.id\\\/id\\\/#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/news.ums.ac.id\\\/id\\\/\",\"name\":\"Berita UMS\",\"description\":\"Mencerahkan Unggul Mendunia\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/news.ums.ac.id\\\/id\\\/#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/news.ums.ac.id\\\/id\\\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"Organization\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/news.ums.ac.id\\\/id\\\/#organization\",\"name\":\"Berita UMS\",\"url\":\"https:\\\/\\\/news.ums.ac.id\\\/id\\\/\",\"logo\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/news.ums.ac.id\\\/id\\\/#\\\/schema\\\/logo\\\/image\\\/\",\"url\":\"https:\\\/\\\/news.ums.ac.id\\\/id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/sites\\\/2\\\/2021\\\/08\\\/logo-news-ums-v2.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/news.ums.ac.id\\\/id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/sites\\\/2\\\/2021\\\/08\\\/logo-news-ums-v2.jpg\",\"width\":1920,\"height\":1080,\"caption\":\"Berita UMS\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/news.ums.ac.id\\\/id\\\/#\\\/schema\\\/logo\\\/image\\\/\"},\"sameAs\":[\"https:\\\/\\\/www.facebook.com\\\/umsofficialid\\\/?locale=id_ID\"]},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/news.ums.ac.id\\\/id\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/685558eb10f5715113bc9a1fccfd82c7\",\"name\":\"Humas UMS\",\"sameAs\":[\"http:\\\/\\\/news.ums.ac.id\"],\"url\":\"https:\\\/\\\/news.ums.ac.id\\\/id\\\/author\\\/adn466\\\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Kejahatan Tanpa Niat: Saat \"Sok Tahu\" Menghancurkan Hidup Orang Lain - Berita UMS","description":"Konsep mens rea, atau pikiran jahat, dianggap sebagai komponen kejahatan dalam hukum kontemporer. Namun, realitas sosial sangat kompleks. Mereka yang merasa benar tetapi tidak tahu sering kali merupakan orang yang paling berbahaya bagi masyarakat.","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/news.ums.ac.id\/id\/opini\/kejahatan-tanpa-niat-saat-sok-tahu-menghancurkan-hidup-orang-lain\/","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"Kejahatan Tanpa Niat: Saat \"Sok Tahu\" Menghancurkan Hidup Orang Lain - Berita UMS","og_description":"Konsep mens rea, atau pikiran jahat, dianggap sebagai komponen kejahatan dalam hukum kontemporer. Namun, realitas sosial sangat kompleks. Mereka yang merasa benar tetapi tidak tahu sering kali merupakan orang yang paling berbahaya bagi masyarakat.","og_url":"https:\/\/news.ums.ac.id\/id\/opini\/kejahatan-tanpa-niat-saat-sok-tahu-menghancurkan-hidup-orang-lain\/","og_site_name":"Berita UMS","article_publisher":"https:\/\/www.facebook.com\/umsofficialid\/?locale=id_ID","article_published_time":"2026-04-23T13:58:48+00:00","og_image":[{"width":1920,"height":1080,"url":"https:\/\/news.ums.ac.id\/id\/wp-content\/uploads\/sites\/2\/2026\/04\/news.ums_.ac_.id_.jpeg","type":"image\/jpeg"}],"author":"Humas UMS","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Ditulis oleh":"Humas UMS","Estimasi waktu membaca":"6 menit"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/news.ums.ac.id\/id\/opini\/kejahatan-tanpa-niat-saat-sok-tahu-menghancurkan-hidup-orang-lain\/#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/news.ums.ac.id\/id\/opini\/kejahatan-tanpa-niat-saat-sok-tahu-menghancurkan-hidup-orang-lain\/"},"author":{"name":"Humas UMS","@id":"https:\/\/news.ums.ac.id\/id\/#\/schema\/person\/685558eb10f5715113bc9a1fccfd82c7"},"headline":"Kejahatan Tanpa Niat: Saat &#8220;Sok Tahu&#8221; Menghancurkan Hidup Orang Lain","datePublished":"2026-04-23T13:58:48+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/news.ums.ac.id\/id\/opini\/kejahatan-tanpa-niat-saat-sok-tahu-menghancurkan-hidup-orang-lain\/"},"wordCount":982,"publisher":{"@id":"https:\/\/news.ums.ac.id\/id\/#organization"},"image":{"@id":"https:\/\/news.ums.ac.id\/id\/opini\/kejahatan-tanpa-niat-saat-sok-tahu-menghancurkan-hidup-orang-lain\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/news.ums.ac.id\/id\/wp-content\/uploads\/sites\/2\/2026\/04\/news.ums_.ac_.id_.jpeg","keywords":["Fakultas Agama Islam","Opini"],"articleSection":["Opini"],"inLanguage":"id"},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/news.ums.ac.id\/id\/opini\/kejahatan-tanpa-niat-saat-sok-tahu-menghancurkan-hidup-orang-lain\/","url":"https:\/\/news.ums.ac.id\/id\/opini\/kejahatan-tanpa-niat-saat-sok-tahu-menghancurkan-hidup-orang-lain\/","name":"Kejahatan Tanpa Niat: Saat \"Sok Tahu\" Menghancurkan Hidup Orang Lain - Berita UMS","isPartOf":{"@id":"https:\/\/news.ums.ac.id\/id\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/news.ums.ac.id\/id\/opini\/kejahatan-tanpa-niat-saat-sok-tahu-menghancurkan-hidup-orang-lain\/#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/news.ums.ac.id\/id\/opini\/kejahatan-tanpa-niat-saat-sok-tahu-menghancurkan-hidup-orang-lain\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/news.ums.ac.id\/id\/wp-content\/uploads\/sites\/2\/2026\/04\/news.ums_.ac_.id_.jpeg","datePublished":"2026-04-23T13:58:48+00:00","description":"Konsep mens rea, atau pikiran jahat, dianggap sebagai komponen kejahatan dalam hukum kontemporer. Namun, realitas sosial sangat kompleks. Mereka yang merasa benar tetapi tidak tahu sering kali merupakan orang yang paling berbahaya bagi masyarakat.","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/news.ums.ac.id\/id\/opini\/kejahatan-tanpa-niat-saat-sok-tahu-menghancurkan-hidup-orang-lain\/#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/news.ums.ac.id\/id\/opini\/kejahatan-tanpa-niat-saat-sok-tahu-menghancurkan-hidup-orang-lain\/"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/news.ums.ac.id\/id\/opini\/kejahatan-tanpa-niat-saat-sok-tahu-menghancurkan-hidup-orang-lain\/#primaryimage","url":"https:\/\/news.ums.ac.id\/id\/wp-content\/uploads\/sites\/2\/2026\/04\/news.ums_.ac_.id_.jpeg","contentUrl":"https:\/\/news.ums.ac.id\/id\/wp-content\/uploads\/sites\/2\/2026\/04\/news.ums_.ac_.id_.jpeg","width":1920,"height":1080,"caption":"Ilustrasi (Foto: Canva)"},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/news.ums.ac.id\/id\/opini\/kejahatan-tanpa-niat-saat-sok-tahu-menghancurkan-hidup-orang-lain\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/news.ums.ac.id\/id\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Kejahatan Tanpa Niat: Saat &#8220;Sok Tahu&#8221; Menghancurkan Hidup Orang Lain"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/news.ums.ac.id\/id\/#website","url":"https:\/\/news.ums.ac.id\/id\/","name":"Berita UMS","description":"Mencerahkan Unggul Mendunia","publisher":{"@id":"https:\/\/news.ums.ac.id\/id\/#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/news.ums.ac.id\/id\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"id"},{"@type":"Organization","@id":"https:\/\/news.ums.ac.id\/id\/#organization","name":"Berita UMS","url":"https:\/\/news.ums.ac.id\/id\/","logo":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/news.ums.ac.id\/id\/#\/schema\/logo\/image\/","url":"https:\/\/news.ums.ac.id\/id\/wp-content\/uploads\/sites\/2\/2021\/08\/logo-news-ums-v2.jpg","contentUrl":"https:\/\/news.ums.ac.id\/id\/wp-content\/uploads\/sites\/2\/2021\/08\/logo-news-ums-v2.jpg","width":1920,"height":1080,"caption":"Berita UMS"},"image":{"@id":"https:\/\/news.ums.ac.id\/id\/#\/schema\/logo\/image\/"},"sameAs":["https:\/\/www.facebook.com\/umsofficialid\/?locale=id_ID"]},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/news.ums.ac.id\/id\/#\/schema\/person\/685558eb10f5715113bc9a1fccfd82c7","name":"Humas UMS","sameAs":["http:\/\/news.ums.ac.id"],"url":"https:\/\/news.ums.ac.id\/id\/author\/adn466\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/news.ums.ac.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/36872","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/news.ums.ac.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/news.ums.ac.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/news.ums.ac.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/8"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/news.ums.ac.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=36872"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/news.ums.ac.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/36872\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":36873,"href":"https:\/\/news.ums.ac.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/36872\/revisions\/36873"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/news.ums.ac.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/36874"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/news.ums.ac.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=36872"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/news.ums.ac.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=36872"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/news.ums.ac.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=36872"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}