{"id":39539,"date":"2026-07-24T16:10:58","date_gmt":"2026-07-24T09:10:58","guid":{"rendered":"https:\/\/news.ums.ac.id\/id\/?p=39539"},"modified":"2026-07-24T16:10:58","modified_gmt":"2026-07-24T09:10:58","slug":"memahami-lgbtq-dari-perspektif-psikologi-dosen-ums-jangan-mudah-melabeli-orang","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/news.ums.ac.id\/id\/berita\/memahami-lgbtq-dari-perspektif-psikologi-dosen-ums-jangan-mudah-melabeli-orang\/","title":{"rendered":"Memahami LGBTQ dari Perspektif Psikologi, Dosen UMS: Jangan Mudah Melabeli Orang"},"content":{"rendered":"<p><strong>ums.ac.id, SURAKARTA<\/strong> &#8211; Di tengah derasnya informasi yang beredar di media sosial, pembahasan mengenai LGBTQ kerap diwarnai stigma dan pelabelan yang dilakukan tanpa pemahaman yang utuh. Padahal, dalam perspektif psikologi, persoalan tersebut jauh lebih kompleks dibanding sekadar memberikan penilaian berdasarkan penampilan seseorang.<\/p>\n<p>Dosen Psikologi <a href=\"http:\/\/ums.ac.id\">Universitas Muhammadiyah Surakarta<\/a> (UMS) Lusi Nuryanti, S.Psi., M.Si., Ph.D., Psikolog, menegaskan bahwa dalam psikologi, kondisi LGBTQ tidak serta-merta dipandang sebagai gangguan. Menurutnya, persoalan yang menjadi perhatian psikologi justru muncul ketika individu mengalami tekanan psikologis akibat kondisi yang dialaminya.<\/p>\n<p>\u201cLGBT merupakan singkatan dari Lesbian, Gay, Bisexual, dan Transgender. Terkadang ditambah huruf Q menjadi LGBTQ, yaitu Queer,\u201d jelasnya, Jumat (24\/7\/2026).<\/p>\n<figure id=\"attachment_39541\" aria-describedby=\"caption-attachment-39541\" style=\"width: 1920px\" class=\"wp-caption alignnone\"><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" class=\"size-full wp-image-39541\" src=\"https:\/\/news.ums.ac.id\/id\/wp-content\/uploads\/sites\/2\/2026\/07\/Memahami-LGBTQ-dari-Perspektif-Psikologi-Dosen-UMS_-Jangan-Mudah-Melabeli-Orang.jpg\" alt=\"Dosen Psikologi UMS Lusi Nuryanti, S.Psi., M.Si., Ph.D., Psikolog,\" width=\"1920\" height=\"1080\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-39541\" class=\"wp-caption-text\">Dosen Psikologi UMS Lusi Nuryanti, S.Psi., M.Si., Ph.D., Psikolog,<\/figcaption><\/figure>\n<p>Lusi menerangkan bahwa istilah tersebut bukanlah satu kelompok yang homogen. Lesbian, Gay, dan Bisexual berkaitan dengan orientasi seksual, yakni ketertarikan seseorang secara romantis maupun seksual kepada orang lain. Sementara itu, Transgender berbicara mengenai identitas gender, yaitu bagaimana seseorang memahami dan mengidentifikasi dirinya sebagai laki-laki atau perempuan. Adapun Queer merujuk pada individu yang masih berada dalam proses mempertanyakan atau mencari pemahaman mengenai orientasi seksual maupun identitas gendernya.<\/p>\n<p>Ia menjelaskan bahwa dalam pandangan Islam, orientasi seksual yang sesuai fitrah adalah laki-laki kepada perempuan dan perempuan kepada laki-laki. Karena itu, lesbian merujuk pada perempuan yang memiliki ketertarikan kepada sesama perempuan, gay adalah laki-laki yang tertarik kepada sesama laki-laki, sedangkan biseksual memiliki ketertarikan kepada laki-laki maupun perempuan.<\/p>\n<p>Meski demikian, Lusi mengingatkan agar masyarakat tidak mencampuradukkan antara jenis kelamin, orientasi seksual, dan identitas gender.<\/p>\n<p>Jenis kelamin ia sebutkan sebagai kondisi biologis yang melekat sejak lahir, sedangkan orientasi seksual berkaitan dengan ketertarikan seseorang. Berbeda lagi dengan identitas gender yang menyangkut bagaimana seseorang mempersepsikan dirinya.<\/p>\n<p>\u201cJadi identitas gender tadi merujuk pada transgender kalau di singkatan LGBT. Kalau identitas gender itu adalah bicara tentang bagaimana seseorang itu mengidentifikasi dirinya, memahami dirinya, mempersepsi dirinya itu laki-laki atau perempuan,\u201d jelas Lusi.<\/p>\n<p>Ia menambahkan bahwa identitas gender tidak dapat ditentukan hanya dari pengamatan orang lain.<\/p>\n<p>\u201cKita nggak bisa nge-judge seseorang, oh ini identitas gendernya laki-laki atau perempuan. Itu apa yang dia pahami tentang dirinya. Ini identitas gender. Sehingga kemudian ada laki-laki yang mengidentifikasi dirinya sebagai laki-laki, ada laki-laki yang mengidentifikasi dirinya sebagai perempuan, atau sebaliknya. Itu identitas gender,\u201d terangnya.<\/p>\n<p>Karena setiap individu memiliki pengalaman hidup yang berbeda, Lusi menilai pelabelan terhadap seseorang harus dilakukan dengan sangat hati-hati. Dampaknya bukan hanya pada kondisi psikologis, tetapi juga hubungan sosial individu tersebut.<\/p>\n<p>\u201cLGBT itu sangat tidak bisa kita kenali hanya dengan melihat sekali saja. Hanya dengan melihat seseorang dari luarnya saja itu nggak bisa,\u201d kata dia.<\/p>\n<p>Menurutnya, tidak ada dua individu di dunia yang memiliki kondisi psikologis yang sama. Karakter, pengalaman hidup, pola asuh keluarga, hingga lingkungan sosial membentuk respons setiap orang secara berbeda. Oleh karena itu, psikologi tidak pernah menarik kesimpulan bahwa suatu perilaku muncul hanya karena satu penyebab.<\/p>\n<p>Selain itu, LGBTQ pada dasarnya (an sich) tidak bisa digolongkan sebagai gangguan.<\/p>\n<p>\u201cSecara psikologi akan menjadi persoalan ketika kondisi tadi orientasi seksual yang berbeda itu kemudian menimbulkan stres, menimbulkan konflik internal maupun eksternal, menimbulkan permasalahan yang kemudian itu mengganggu fungsi hidup si individu,\u201d jelas Lusi.<\/p>\n<p>Bagi psikolog, fokus utama bukan semata-mata pada orientasi seksual seseorang, melainkan ketika kondisi tersebut berkembang menjadi sumber tekanan yang mengganggu kehidupan sehari-hari.<\/p>\n<p>Lusi menjelaskan bahwa individu yang masih berada dalam tahap queer sering kali mengalami proses pencarian jati diri yang panjang dan penuh tekanan. Di sinilah psikologi berperan membantu individu mengatasi stres, konflik batin, maupun persoalan sosial yang muncul.<\/p>\n<p>Ia juga menegaskan bahwa seseorang tidak dapat diidentifikasi hanya dari penampilannya.<\/p>\n<p>\u201cBahkan dengan menggunakan nilai-nilai Islam pun, kita nggak bisa tembak langsung. Kalau seseorang tidak menceritakan orientasi seksualnya, kita juga tidak tahu. Kita nggak bisa hanya dengan melihat,\u201d jelas Lusi.<\/p>\n<p>Ketika persoalan tersebut mulai berdampak pada kepercayaan diri, hubungan sosial, maupun kesehatan mental seseorang, menurut Lusi, pendampingan psikologis menjadi penting.<\/p>\n<p>\u201cKalau itu sudah muncul dalam bentuk perilaku, kemudian mengganggu, misalnya seseorang menjadi rendah diri, sulit bergaul karena takut dihakimi, nah psikolog akan menangani persoalan-persoalan ini,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p>Dalam konteks pendidikan tinggi, Lusi mengatakan kampus memiliki tanggung jawab untuk memberikan edukasi sekaligus pendampingan. Mengacu pada Putusan Tarjih Muhammadiyah, pendekatan yang dilakukan bukanlah menghakimi individu, melainkan memberikan layanan rehabilitasi melalui konseling maupun terapi.<\/p>\n<p>\u201cKalau kemudian ada mahasiswa misalnya yang seperti itu, kampus juga punya tanggung jawab untuk mengedukasi, untuk memberikan layanan rehabilitasi misalnya lewat konseling, lewat terapi,\u201d katanya.<\/p>\n<p>Lebih jauh, ia mengajak masyarakat untuk mengedukasi diri sebelum memberikan penilaian terhadap orang lain, terlebih di media sosial.<\/p>\n<p>\u201cKalau saya sangat menekankan bahwa kita perlu mengedukasi diri kita sendiri sebelum memberi judgment kepada orang lain. Pahami dulu. Mereka tetap manusia, tetapi memang perilakunya yang diharamkan. Sehingga tetap hormati dan hargai mereka sebagai manusia, dan banyak dari mereka yang membutuhkan bantuan. Kalau mereka datang, bantulah mereka, dengarkan mereka,\u201d pesannya.<\/p>\n<p>Menurutnya, perguruan tinggi memiliki tanggung jawab menghadirkan edukasi yang benar, berbasis ilmu pengetahuan, serta mendorong masyarakat kampus untuk membangun pemahaman secara komprehensif, bukan berdasarkan asumsi atau informasi yang belum tentu benar. Salah satu langkah paling mendasar adalah menghindari pelabelan terhadap seseorang hanya berdasarkan penampilan, karena memahami manusia membutuhkan proses yang jauh lebih mendalam daripada sekadar apa yang tampak di permukaan. (Maysali\/Humas)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>ums.ac.id, SURAKARTA &#8211; Di tengah derasnya informasi yang beredar di media sosial, pembahasan mengenai LGBTQ kerap diwarnai stigma dan pelabelan yang dilakukan tanpa pemahaman yang utuh. Padahal, dalam perspektif psikologi, persoalan tersebut jauh lebih kompleks dibanding sekadar memberikan penilaian berdasarkan penampilan seseorang. Dosen Psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) Lusi Nuryanti, S.Psi., M.Si., Ph.D., Psikolog, menegaskan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":8,"featured_media":39540,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[2,287],"tags":[173,279,9,11],"class_list":["post-39539","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-berita","category-kata-pakar","tag-psikologi","tag-kata-pakar","tag-opini","tag-terkini","entry","has-media"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v28.0 - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-wordpress\/ -->\n<title>Memahami LGBTQ dari Perspektif Psikologi, Dosen UMS: Jangan Mudah Melabeli Orang - Berita UMS<\/title>\n<meta name=\"description\" content=\"ums.ac.id, SURAKARTA - Di tengah derasnya informasi yang beredar di media sosial, pembahasan mengenai LGBTQ kerap diwarnai stigma dan pelabelan yang dilakukan tanpa pemahaman yang utuh. Padahal, dalam perspektif psikologi, persoalan tersebut jauh lebih kompleks dibanding sekadar memberikan penilaian berdasarkan penampilan seseorang.\" \/>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/news.ums.ac.id\/id\/berita\/memahami-lgbtq-dari-perspektif-psikologi-dosen-ums-jangan-mudah-melabeli-orang\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Memahami LGBTQ dari Perspektif Psikologi, Dosen UMS: Jangan Mudah Melabeli Orang - Berita UMS\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"ums.ac.id, SURAKARTA - Di tengah derasnya informasi yang beredar di media sosial, pembahasan mengenai LGBTQ kerap diwarnai stigma dan pelabelan yang dilakukan tanpa pemahaman yang utuh. Padahal, dalam perspektif psikologi, persoalan tersebut jauh lebih kompleks dibanding sekadar memberikan penilaian berdasarkan penampilan seseorang.\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/news.ums.ac.id\/id\/berita\/memahami-lgbtq-dari-perspektif-psikologi-dosen-ums-jangan-mudah-melabeli-orang\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Berita UMS\" \/>\n<meta property=\"article:publisher\" content=\"https:\/\/www.facebook.com\/umsofficialid\/?locale=id_ID\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2026-07-24T09:10:58+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/news.ums.ac.id\/id\/wp-content\/uploads\/sites\/2\/2026\/07\/Memahami-LGBTQ-dari-Perspektif-Psikologi-Dosen-UMS_-Jangan-Mudah-Melabeli-Orang-2.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"1920\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"1080\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Humas UMS\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Ditulis oleh\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"Humas UMS\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Estimasi waktu membaca\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"5 menit\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/news.ums.ac.id\\\/id\\\/berita\\\/memahami-lgbtq-dari-perspektif-psikologi-dosen-ums-jangan-mudah-melabeli-orang\\\/#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/news.ums.ac.id\\\/id\\\/berita\\\/memahami-lgbtq-dari-perspektif-psikologi-dosen-ums-jangan-mudah-melabeli-orang\\\/\"},\"author\":{\"name\":\"Humas UMS\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/news.ums.ac.id\\\/id\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/685558eb10f5715113bc9a1fccfd82c7\"},\"headline\":\"Memahami LGBTQ dari Perspektif Psikologi, Dosen UMS: Jangan Mudah Melabeli Orang\",\"datePublished\":\"2026-07-24T09:10:58+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/news.ums.ac.id\\\/id\\\/berita\\\/memahami-lgbtq-dari-perspektif-psikologi-dosen-ums-jangan-mudah-melabeli-orang\\\/\"},\"wordCount\":861,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/news.ums.ac.id\\\/id\\\/#organization\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/news.ums.ac.id\\\/id\\\/berita\\\/memahami-lgbtq-dari-perspektif-psikologi-dosen-ums-jangan-mudah-melabeli-orang\\\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/news.ums.ac.id\\\/id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/sites\\\/2\\\/2026\\\/07\\\/Memahami-LGBTQ-dari-Perspektif-Psikologi-Dosen-UMS_-Jangan-Mudah-Melabeli-Orang-2.jpg\",\"keywords\":[\"Fakultas Psikologi\",\"Kata Pakar\",\"Opini\",\"Terkini\"],\"articleSection\":[\"Berita\",\"Kata Pakar\"],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/news.ums.ac.id\\\/id\\\/berita\\\/memahami-lgbtq-dari-perspektif-psikologi-dosen-ums-jangan-mudah-melabeli-orang\\\/\",\"url\":\"https:\\\/\\\/news.ums.ac.id\\\/id\\\/berita\\\/memahami-lgbtq-dari-perspektif-psikologi-dosen-ums-jangan-mudah-melabeli-orang\\\/\",\"name\":\"Memahami LGBTQ dari Perspektif Psikologi, Dosen UMS: Jangan Mudah Melabeli Orang - Berita UMS\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/news.ums.ac.id\\\/id\\\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/news.ums.ac.id\\\/id\\\/berita\\\/memahami-lgbtq-dari-perspektif-psikologi-dosen-ums-jangan-mudah-melabeli-orang\\\/#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/news.ums.ac.id\\\/id\\\/berita\\\/memahami-lgbtq-dari-perspektif-psikologi-dosen-ums-jangan-mudah-melabeli-orang\\\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/news.ums.ac.id\\\/id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/sites\\\/2\\\/2026\\\/07\\\/Memahami-LGBTQ-dari-Perspektif-Psikologi-Dosen-UMS_-Jangan-Mudah-Melabeli-Orang-2.jpg\",\"datePublished\":\"2026-07-24T09:10:58+00:00\",\"description\":\"ums.ac.id, SURAKARTA - Di tengah derasnya informasi yang beredar di media sosial, pembahasan mengenai LGBTQ kerap diwarnai stigma dan pelabelan yang dilakukan tanpa pemahaman yang utuh. Padahal, dalam perspektif psikologi, persoalan tersebut jauh lebih kompleks dibanding sekadar memberikan penilaian berdasarkan penampilan seseorang.\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/news.ums.ac.id\\\/id\\\/berita\\\/memahami-lgbtq-dari-perspektif-psikologi-dosen-ums-jangan-mudah-melabeli-orang\\\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/news.ums.ac.id\\\/id\\\/berita\\\/memahami-lgbtq-dari-perspektif-psikologi-dosen-ums-jangan-mudah-melabeli-orang\\\/\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/news.ums.ac.id\\\/id\\\/berita\\\/memahami-lgbtq-dari-perspektif-psikologi-dosen-ums-jangan-mudah-melabeli-orang\\\/#primaryimage\",\"url\":\"https:\\\/\\\/news.ums.ac.id\\\/id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/sites\\\/2\\\/2026\\\/07\\\/Memahami-LGBTQ-dari-Perspektif-Psikologi-Dosen-UMS_-Jangan-Mudah-Melabeli-Orang-2.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/news.ums.ac.id\\\/id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/sites\\\/2\\\/2026\\\/07\\\/Memahami-LGBTQ-dari-Perspektif-Psikologi-Dosen-UMS_-Jangan-Mudah-Melabeli-Orang-2.jpg\",\"width\":1920,\"height\":1080,\"caption\":\"Ilustrasi (Canva)\"},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/news.ums.ac.id\\\/id\\\/berita\\\/memahami-lgbtq-dari-perspektif-psikologi-dosen-ums-jangan-mudah-melabeli-orang\\\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\\\/\\\/news.ums.ac.id\\\/id\\\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Memahami LGBTQ dari Perspektif Psikologi, Dosen UMS: Jangan Mudah Melabeli Orang\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/news.ums.ac.id\\\/id\\\/#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/news.ums.ac.id\\\/id\\\/\",\"name\":\"Berita UMS\",\"description\":\"Mencerahkan Unggul Mendunia\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/news.ums.ac.id\\\/id\\\/#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/news.ums.ac.id\\\/id\\\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"Organization\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/news.ums.ac.id\\\/id\\\/#organization\",\"name\":\"Berita UMS\",\"url\":\"https:\\\/\\\/news.ums.ac.id\\\/id\\\/\",\"logo\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/news.ums.ac.id\\\/id\\\/#\\\/schema\\\/logo\\\/image\\\/\",\"url\":\"https:\\\/\\\/news.ums.ac.id\\\/id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/sites\\\/2\\\/2021\\\/08\\\/logo-news-ums-v2.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/news.ums.ac.id\\\/id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/sites\\\/2\\\/2021\\\/08\\\/logo-news-ums-v2.jpg\",\"width\":1920,\"height\":1080,\"caption\":\"Berita UMS\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/news.ums.ac.id\\\/id\\\/#\\\/schema\\\/logo\\\/image\\\/\"},\"sameAs\":[\"https:\\\/\\\/www.facebook.com\\\/umsofficialid\\\/?locale=id_ID\"]},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/news.ums.ac.id\\\/id\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/685558eb10f5715113bc9a1fccfd82c7\",\"name\":\"Humas UMS\",\"sameAs\":[\"http:\\\/\\\/news.ums.ac.id\"],\"url\":\"https:\\\/\\\/news.ums.ac.id\\\/id\\\/author\\\/adn466\\\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Memahami LGBTQ dari Perspektif Psikologi, Dosen UMS: Jangan Mudah Melabeli Orang - Berita UMS","description":"ums.ac.id, SURAKARTA - Di tengah derasnya informasi yang beredar di media sosial, pembahasan mengenai LGBTQ kerap diwarnai stigma dan pelabelan yang dilakukan tanpa pemahaman yang utuh. Padahal, dalam perspektif psikologi, persoalan tersebut jauh lebih kompleks dibanding sekadar memberikan penilaian berdasarkan penampilan seseorang.","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/news.ums.ac.id\/id\/berita\/memahami-lgbtq-dari-perspektif-psikologi-dosen-ums-jangan-mudah-melabeli-orang\/","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"Memahami LGBTQ dari Perspektif Psikologi, Dosen UMS: Jangan Mudah Melabeli Orang - Berita UMS","og_description":"ums.ac.id, SURAKARTA - Di tengah derasnya informasi yang beredar di media sosial, pembahasan mengenai LGBTQ kerap diwarnai stigma dan pelabelan yang dilakukan tanpa pemahaman yang utuh. Padahal, dalam perspektif psikologi, persoalan tersebut jauh lebih kompleks dibanding sekadar memberikan penilaian berdasarkan penampilan seseorang.","og_url":"https:\/\/news.ums.ac.id\/id\/berita\/memahami-lgbtq-dari-perspektif-psikologi-dosen-ums-jangan-mudah-melabeli-orang\/","og_site_name":"Berita UMS","article_publisher":"https:\/\/www.facebook.com\/umsofficialid\/?locale=id_ID","article_published_time":"2026-07-24T09:10:58+00:00","og_image":[{"width":1920,"height":1080,"url":"https:\/\/news.ums.ac.id\/id\/wp-content\/uploads\/sites\/2\/2026\/07\/Memahami-LGBTQ-dari-Perspektif-Psikologi-Dosen-UMS_-Jangan-Mudah-Melabeli-Orang-2.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"Humas UMS","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Ditulis oleh":"Humas UMS","Estimasi waktu membaca":"5 menit"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/news.ums.ac.id\/id\/berita\/memahami-lgbtq-dari-perspektif-psikologi-dosen-ums-jangan-mudah-melabeli-orang\/#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/news.ums.ac.id\/id\/berita\/memahami-lgbtq-dari-perspektif-psikologi-dosen-ums-jangan-mudah-melabeli-orang\/"},"author":{"name":"Humas UMS","@id":"https:\/\/news.ums.ac.id\/id\/#\/schema\/person\/685558eb10f5715113bc9a1fccfd82c7"},"headline":"Memahami LGBTQ dari Perspektif Psikologi, Dosen UMS: Jangan Mudah Melabeli Orang","datePublished":"2026-07-24T09:10:58+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/news.ums.ac.id\/id\/berita\/memahami-lgbtq-dari-perspektif-psikologi-dosen-ums-jangan-mudah-melabeli-orang\/"},"wordCount":861,"publisher":{"@id":"https:\/\/news.ums.ac.id\/id\/#organization"},"image":{"@id":"https:\/\/news.ums.ac.id\/id\/berita\/memahami-lgbtq-dari-perspektif-psikologi-dosen-ums-jangan-mudah-melabeli-orang\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/news.ums.ac.id\/id\/wp-content\/uploads\/sites\/2\/2026\/07\/Memahami-LGBTQ-dari-Perspektif-Psikologi-Dosen-UMS_-Jangan-Mudah-Melabeli-Orang-2.jpg","keywords":["Fakultas Psikologi","Kata Pakar","Opini","Terkini"],"articleSection":["Berita","Kata Pakar"],"inLanguage":"id"},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/news.ums.ac.id\/id\/berita\/memahami-lgbtq-dari-perspektif-psikologi-dosen-ums-jangan-mudah-melabeli-orang\/","url":"https:\/\/news.ums.ac.id\/id\/berita\/memahami-lgbtq-dari-perspektif-psikologi-dosen-ums-jangan-mudah-melabeli-orang\/","name":"Memahami LGBTQ dari Perspektif Psikologi, Dosen UMS: Jangan Mudah Melabeli Orang - Berita UMS","isPartOf":{"@id":"https:\/\/news.ums.ac.id\/id\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/news.ums.ac.id\/id\/berita\/memahami-lgbtq-dari-perspektif-psikologi-dosen-ums-jangan-mudah-melabeli-orang\/#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/news.ums.ac.id\/id\/berita\/memahami-lgbtq-dari-perspektif-psikologi-dosen-ums-jangan-mudah-melabeli-orang\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/news.ums.ac.id\/id\/wp-content\/uploads\/sites\/2\/2026\/07\/Memahami-LGBTQ-dari-Perspektif-Psikologi-Dosen-UMS_-Jangan-Mudah-Melabeli-Orang-2.jpg","datePublished":"2026-07-24T09:10:58+00:00","description":"ums.ac.id, SURAKARTA - Di tengah derasnya informasi yang beredar di media sosial, pembahasan mengenai LGBTQ kerap diwarnai stigma dan pelabelan yang dilakukan tanpa pemahaman yang utuh. Padahal, dalam perspektif psikologi, persoalan tersebut jauh lebih kompleks dibanding sekadar memberikan penilaian berdasarkan penampilan seseorang.","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/news.ums.ac.id\/id\/berita\/memahami-lgbtq-dari-perspektif-psikologi-dosen-ums-jangan-mudah-melabeli-orang\/#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/news.ums.ac.id\/id\/berita\/memahami-lgbtq-dari-perspektif-psikologi-dosen-ums-jangan-mudah-melabeli-orang\/"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/news.ums.ac.id\/id\/berita\/memahami-lgbtq-dari-perspektif-psikologi-dosen-ums-jangan-mudah-melabeli-orang\/#primaryimage","url":"https:\/\/news.ums.ac.id\/id\/wp-content\/uploads\/sites\/2\/2026\/07\/Memahami-LGBTQ-dari-Perspektif-Psikologi-Dosen-UMS_-Jangan-Mudah-Melabeli-Orang-2.jpg","contentUrl":"https:\/\/news.ums.ac.id\/id\/wp-content\/uploads\/sites\/2\/2026\/07\/Memahami-LGBTQ-dari-Perspektif-Psikologi-Dosen-UMS_-Jangan-Mudah-Melabeli-Orang-2.jpg","width":1920,"height":1080,"caption":"Ilustrasi (Canva)"},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/news.ums.ac.id\/id\/berita\/memahami-lgbtq-dari-perspektif-psikologi-dosen-ums-jangan-mudah-melabeli-orang\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/news.ums.ac.id\/id\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Memahami LGBTQ dari Perspektif Psikologi, Dosen UMS: Jangan Mudah Melabeli Orang"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/news.ums.ac.id\/id\/#website","url":"https:\/\/news.ums.ac.id\/id\/","name":"Berita UMS","description":"Mencerahkan Unggul Mendunia","publisher":{"@id":"https:\/\/news.ums.ac.id\/id\/#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/news.ums.ac.id\/id\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"id"},{"@type":"Organization","@id":"https:\/\/news.ums.ac.id\/id\/#organization","name":"Berita UMS","url":"https:\/\/news.ums.ac.id\/id\/","logo":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/news.ums.ac.id\/id\/#\/schema\/logo\/image\/","url":"https:\/\/news.ums.ac.id\/id\/wp-content\/uploads\/sites\/2\/2021\/08\/logo-news-ums-v2.jpg","contentUrl":"https:\/\/news.ums.ac.id\/id\/wp-content\/uploads\/sites\/2\/2021\/08\/logo-news-ums-v2.jpg","width":1920,"height":1080,"caption":"Berita UMS"},"image":{"@id":"https:\/\/news.ums.ac.id\/id\/#\/schema\/logo\/image\/"},"sameAs":["https:\/\/www.facebook.com\/umsofficialid\/?locale=id_ID"]},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/news.ums.ac.id\/id\/#\/schema\/person\/685558eb10f5715113bc9a1fccfd82c7","name":"Humas UMS","sameAs":["http:\/\/news.ums.ac.id"],"url":"https:\/\/news.ums.ac.id\/id\/author\/adn466\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/news.ums.ac.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/39539","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/news.ums.ac.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/news.ums.ac.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/news.ums.ac.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/8"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/news.ums.ac.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=39539"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/news.ums.ac.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/39539\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":39542,"href":"https:\/\/news.ums.ac.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/39539\/revisions\/39542"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/news.ums.ac.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/39540"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/news.ums.ac.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=39539"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/news.ums.ac.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=39539"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/news.ums.ac.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=39539"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}