Peserta Indo-Austay Antusias Jajal Permainan Tradisional

Lucia Bates tampak antusias melihat murid SMP Muhammadiyah 7 Bayat yang memainkan permainan congklak.

ums.ac.id, KLATEN – Dalam kunjungan di SMP Muhammadiyah 7 Desa Bayat, Klaten, Jawa Tengah, Jumat (10/1), rombongan peserta Indo-Austay Adult Immersion Program turut mencoba sejumlah permainan tradisional, seperti egrang, congklak, dan lompat tali.

Diketahui sebelumnya, Indo-Austay Adult Immersion Program merupakan program yang bekerja sama dengan Lembaga Bahasa dan Ilmu Pengetahuan (LBIPU) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS). Peserta Indo-Austay akan mempelajari bahasa Indonesia dan budaya Jawa selama dua pekan, yakni 6 sampai 20 Januari 2025.

Didampingi murid dan guru, seorang peserta Indo-Austay, Collin Style (66), tampak antusias menjajal permainan egrang. Tampak guru membantunya memegangi egrang untuk menjaga keseimbangan.

Collin Style mencoba berbain egrang dengan bantuan seorang guru SMP Muhammadiyah 7 Bayat. Ini adalah kali pertamanya bermain egrang.

Collin mengaku belum pernah memainkan permainan tradisional egrang. Meskipun telah berusia lanjut, pria berambut putih itu tetap semangat menjajal egrang.

Tak sampai di situ, Collin juga menjajal lompat tali bersama sejumlah murid perempuan di lapangan SMP Muhammadiyah 7 Bayat. Saat berhasil melompati tali yang dibentangkan, murid yang mengelilingi mereka pun bertepuk tangan semangat.

Dua warga Australia peserta Indo-Austay tengah menjajal permainan lompat tali.

“Saya senang meskipun agak kesulitan, tapi dengan bantuan para murid, ini adalah pengalaman yang menyenangkan,” ungkap pria asal Melbourne itu.

Tak mau kalah, guru dan murid turut menjajal permainan lompat tali itu. Mereka juga memperkenalkan teknik dan tingkat kesulitan permainan lompat tali.

Lain halnya dengan Lucia Bates dan Malcolm Rogers yang mempelajari permainan congklak di lorong kelas. Perempuan berkaca mata itu tampak serius memperhatikan lawan mainnya. Sejumlah murid SMP Muhammadiyah 7 Bayat terlihat mengajari Lucia dengan sabar.

Salah seorang peserta Indo-Austay, Malcolm, tengah asyik bermain congklak bersama para murid.

Panas terik tak menghalangi Lucia mempelajari congklak. Sorak sorai para murid tak menyurutkan semangatnya.

“Panas sekali tapi sambutan anak-anak tampak meriah,” kata Lucia.

Sedangkan Colin mengaku pernah memainkan congklak di Australia. Pengalaman kali ini membuatnya harus memahami lagi permainan congklak.

Baginya, congklak sama seperti catur. “Melatih strategi untuk mengumpulkan biji paling banyak agar menang,” kata Malcolm. (Gede/Humas)

Bagikan informasi ini kepada temanmu

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

News UMS kini hadir di Saluran WhatsApp dengan klik Universitas Muhammadiyah Surakarta