ums.ac.id, SURAKARTA – Transformasi digital menjadi salah satu tantangan utama bagi pelaku usaha diaspora Indonesia dalam memperluas pasar di luar negeri. Menjawab kebutuhan tersebut, tim pengabdian Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) melaksanakan Program Pengabdian kepada Masyarakat Kemitraan Internasional (PkM-KI) di Auckland, Selandia Baru, melalui pendampingan digital marketing bagi pelaku usaha diaspora yang mengelola Fabolous Work Group Ltd., perusahaan induk Mill Bakery.
Program yang didanai oleh Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah melalui RisetMu itu berlangsung pada 25–29 Mei 2026. Tim pengabdian terdiri atas dosen Program Studi Pendidikan Teknik Informatika (PTI) dan Pendidikan Geografi UMS, yakni Hardika Dwi Hermawan, S.Pd., M.Sc. dan Siti Hadiyati Nur Hafida, S.Pd., M.Sc., Ph.D., dengan melibatkan praktisi digital marketing sekaligus content creator, Rian Fahardhi.
Ketua tim pengabdian, Hardika Dwi Hermawan, menjelaskan bahwa pendampingan diawali dengan pemetaan kebutuhan mitra. Hasil identifikasi menunjukkan bahwa usaha yang telah berkembang di Auckland tersebut memiliki potensi besar menjangkau pasar yang lebih luas, khususnya komunitas Asian–Kiwi. Akan tetapi, harapan pasar yang luas masih memerlukan penguatan strategi pemasaran digital dan pengelolaan media sosial.

“Kami ingin menunjukkan bahwa digital marketing bukan sekadar membuat postingan yang menarik, tetapi bagaimana menceritakan nilai, proses, dan perjuangan di balik sebuah usaha. Karena itu, kami terlibat langsung dalam aktivitas bisnis mitra agar konten yang dihasilkan lebih autentik dan memiliki daya tarik yang kuat,” ujar Hardika, Kamis (2/7/2026).
Sebagai bagian dari proses produksi konten, tim mengikuti secara langsung aktivitas operasional Mill Bakery sejak pukul 02.00 hingga 05.00 pagi waktu setempat. Seluruh tahapan produksi, mulai dari penyiapan bahan baku, pengolahan adonan, pembentukan produk, pemanggangan, hingga pengemasan, didokumentasikan sebagai materi utama pembuatan konten digital.
Selain pendampingan di tempat usaha, tim juga memperluas jejaring internasional melalui kunjungan ke sekolah di Auckland serta berdiskusi dengan komunitas Indonesia yang tergabung di Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM) Selandia Baru. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya UMS memperkuat kolaborasi internasional di bidang pendidikan dan pengabdian kepada masyarakat.
Puncak kegiatan berupa pelatihan digital marketing diikuti oleh 15 diaspora Indonesia di Auckland. Peserta memperoleh materi mengenai strategi pemasaran digital, pengelolaan media sosial, fotografi dan videografi menggunakan perangkat sederhana, penyusunan content plan, penulisan caption, pemanfaatan algoritma media sosial, hingga strategi meningkatkan engagement. Tidak hanya menerima materi, peserta juga langsung mempraktikkan pembuatan dan publikasi konten.
Pendampingan tersebut menunjukkan hasil yang signifikan. Salah satu konten yang diproduksi selama program berhasil memperoleh lebih dari 321 ribu tayangan dan menjangkau lebih dari 177 ribu akun. Dalam waktu kurang dari satu pekan, jumlah pengikut akun media sosial mitra meningkat dari 3.345 menjadi 4.224 pengikut, atau tumbuh sekitar 26,28 persen. Konten yang dipublikasikan juga memperoleh lebih dari 16 ribu likes, ratusan komentar, serta ribuan kali dibagikan dan disimpan.
Menurut Hardika, capaian tersebut didukung oleh penerapan strategi storytelling yang mengangkat proses bisnis secara autentik serta kolaborasi dengan akun yang memiliki jangkauan luas dan Key Opinion Leader (KOL), sehingga mampu memperluas eksposur usaha diaspora Indonesia di Selandia Baru.
Program ini juga membuka peluang kerja sama lanjutan antara Prodi PTI UMS dengan Fabolous Work Group Ltd. dalam bentuk pengembangan remote internship bagi mahasiswa UMS di bidang teknologi, digital marketing, dan pengembangan bisnis.
Pada kesempatan yang sama, Rektor UMS Prof. Dr. Harun Joko Prayitno, M.Hum., bersama Wakil Rektor Prof. Dr. Muhammad Da’i, M.Si., Apt., yang tengah berada di Auckland turut bertemu dengan pihak Fabolous Work Group Ltd. Pertemuan tersebut membahas peluang kolaborasi yang lebih luas di bidang pendidikan, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, serta pengembangan sumber daya manusia.(Fika/Humas)




