ums.ac.id, SURAKARTA – Di balik pelaksanaan penyembelihan hewan kurban Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) di Lapangan Timur Masjid Hj. Sudalmiyah Rais, Kampus 2 UMS, Kamis (28/5), tersimpan kisah pembelajaran yang tidak hanya berbicara tentang ibadah, tetapi juga keberanian, ketelitian, dan kepedulian terhadap sesama makhluk.
Bagi dua mahasiswa UMS, Muhammad Faris Abid Muwaffaq, mahasiswa semester 6 Program Studi Pendidikan Matematika FKIP UMS, dan Rifat Akhtar Rajwa, mahasiswa semester 6 Program Studi Ilmu Komunikasi UMS, keterlibatan dalam penyembelihan hewan kurban bukan sekadar tugas kepanitiaan. Kegiatan ini menjadi ruang belajar langsung tentang bagaimana syariat, ilmu, dan nilai kemanusiaan bertemu dalam satu proses ibadah.
Muhammad Faris yang akrab disapa dengan Faris itu menceritakan bahwa awal keterlibatannya dalam penyembelihan kurban dimulai dari pelatihan Juru Sembelih Halal (Juleha) Surakarta. Dari pelatihan tersebut, ia kemudian mengajak Rifat untuk ikut belajar lebih dalam mengenai tata cara penyembelihan yang sesuai syariat dan standar perlakuan hewan yang baik.

“Dulu saya ikut pelatihan dari Juru Sembelih Halal Surakarta. Kemudian dari sana saya ajak Mas Rifat untuk ikut pelatihan. Setelah itu saya juga ikut sekolah eksekutor di RPH (Rumah Penyembelihan Hewan) yang diadakan Juleha, sampai mendapatkan sertifikat,” ungkap Faris.
Pengalaman itu membuat Faris semakin percaya diri untuk terlibat langsung dalam pelaksanaan kurban di UMS. Pada tahun sebelumnya, proses penyembelihan masih didampingi oleh Ketua DPD Juleha Surakarta yang juga merupakan tenaga kependidikan di Fakultas Ilmu Kesehatan (FKI) UMS, Purwadi. Namun, tahun ini Faris dan rekan-rekannya mulai berani menangani proses tersebut secara lebih mandiri.
Bagi Faris, keterlibatannya dalam kurban di UMS telah memasuki tahun ketiga. Meski secara pribadi ia telah memiliki pengalaman menyembelih sejak 2024, suasana kurban di kampus tetap memberi kesan tersendiri. Hal yang paling membekas baginya adalah kebersamaan seluruh panitia, mulai dari takmir masjid, pejuang masjid, dosen, karyawan, hingga mahasiswa.
“Kebersamaannya sih. Itu yang paling berkesan,” ujar Faris singkat, menggambarkan suasana gotong royong yang terasa sejak persiapan hingga proses distribusi daging kurban.
Rifat menambahkan, kegiatan kurban di UMS memberinya pengalaman yang sangat edukatif. Menurutnya, mahasiswa tidak hanya belajar tentang cara menyembelih hewan, tetapi juga memahami bagaimana memperlakukan hewan dengan baik sejak sebelum penyembelihan hingga setelah proses selesai dilakukan.
“Setiap lini kegiatan di kepanitiaan ini sifatnya edukatif. Dari bagaimana memperlakukan hewan dengan baik sebelum disembelih, teknis penyembelihan, sampai pasca penyembelihan. Ilmu ini tidak hanya bermanfaat di sini, tapi juga ketika nanti kami turun ke masyarakat,” jelas Rifat.
Dalam prosesnya, Faris menjelaskan bahwa hewan kurban perlu mendapat perlakuan yang baik agar tetap tenang. Sapi yang datang sebelum hari penyembelihan diberi makan, minum, diajak berinteraksi, bahkan disikat agar lebih rileks. Menurutnya, perlakuan semacam itu menjadi bagian penting dalam menjaga kondisi hewan sebelum disembelih.
Tantangan terbesar, lanjut Faris, biasanya muncul dari karakter dan jenis sapi. Ia menyebut, beberapa jenis sapi memiliki karakter yang lebih tenang, sementara jenis lain membutuhkan penanganan lebih hati-hati. Pada kurban UMS tahun ini, salah satu sapi jenis Bali menjadi yang paling menantang baginya karena karakternya lebih aktif dibanding sapi lainnya.
Meski demikian, Faris menegaskan bahwa proses penyembelihan sebenarnya berlangsung cepat jika seluruh persiapan telah dilakukan dengan baik. Yang membutuhkan waktu lebih lama justru proses setelah penyembelihan, seperti pengulitan, pemotongan, dan pengemasan daging agar dapat segera didistribusikan kepada penerima manfaat.
Baginya, penyembelihan halal bukan hanya soal keterampilan teknis, tetapi juga niat dan ketepatan prosedur. Faris menjelaskan bahwa penyembelih harus memahami bahwa ibadah kurban dilakukan karena Allah SWT, diawali dengan ikrar, menyebut nama Allah, serta memastikan saluran utama pada leher hewan terputus dengan baik sesuai ketentuan syariat.
Melalui pengalaman ini, Faris dan Rifat berharap kegiatan kurban di UMS dapat terus berkembang menjadi sarana edukasi yang lebih luas. Ia ingin pengetahuan tentang sembelih halal tidak hanya dipahami oleh panitia internal kampus, tetapi juga dapat dibagikan kepada mahasiswa lain dan masyarakat, sehingga lahir budaya penyembelihan yang tidak hanya sah secara syariat, tetapi juga mencapai nilai ihsan dalam memperlakukan hewan kurban. (Yusuf/Humas)




