ums.ac.id, SURAKARTA – Penyuluhan kesehatan pada lansia umumnya masih didominasi metode ceramah sehingga peserta cenderung pasif dalam mengikuti materi. Berangkat dari kondisi tersebut, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Interprofessional Education (KKN IPE) Kelompok 65 Fakultas Ilmu Kesehatan (FIK) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) menghadirkan inovasi edukasi melalui Games “Lampu Sehat Lansia” untuk menjelaskan tentang penyakit hipertensi dan diabetes.
Inovasi tersebut diterapkan dalam program SERUNI (Sehat Rutin Mengontrol Hipertensi dan Diabetes Mellitus) yang dilaksanakan di Posyandu Lansia Nusa Indah pada 20 Juni 2026 dan Posyandu Lansia Kamboja pada 22 Juni 2026 di Desa Plumbon, Kecamatan Mojolaban, Kabupaten Sukoharjo.

Koordinator Kelompok 65 Afiza Fitriana Sabilla menerangkan bahwa permainan “Lampu Sehat Lansia” terinspirasi dari konsep lampu lalu lintas yang telah akrab dalam kehidupan sehari-hari masyarakat. “Konsep tersebut kemudian diadaptasi menjadi media pembelajaran sederhana dengan tiga pilihan jawaban, yaitu kartu hijau yang berarti benar, kartu kuning yang berarti ragu-ragu, dan kartu merah yang berarti salah,” jelasnya, Rabu (1/7/2026).
Pelaksanaan kegiatan diawali dengan penyampaian materi menggunakan lembar balik (flipchart) A3 dengan tulisan besar, ilustrasi menarik, dan bahasa sederhana agar mudah dipahami lansia. Materi disampaikan bertahap, meliputi pengertian hipertensi dan diabetes, faktor risiko, gejala, pola makan sehat, pembatasan gula, garam, dan lemak, aktivitas fisik, kepatuhan minum obat, pemeriksaan rutin, serta pencegahan komplikasi.
Setiap selesai satu subtopik, peserta diminta menjawab pernyataan pada flipchart dengan mengangkat kartu berwarna sesuai pilihan jawaban. Pemateri kemudian membahas jawaban yang benar sebelum melanjutkan materi berikutnya.

Metode ini digunakan sebagai evaluasi formatif untuk mengetahui pemahaman peserta secara langsung selama penyuluhan, sehingga pemateri dapat segera meluruskan jika terdapat kekeliruan pemahaman.
“Pendekatan ini dipilih karena mempertimbangkan karakteristik lansia yang umumnya mengalami penurunan kemampuan penglihatan, daya ingat, maupun motorik halus. Dibandingkan harus mengisi lembar soal, peserta hanya perlu mengangkat kartu berwarna sesuai jawaban yang dipilih. Cara sederhana tersebut membuat lansia lebih percaya diri untuk berpartisipasi, menciptakan suasana belajar yang menyenangkan, sekaligus menjaga fokus peserta selama penyuluhan berlangsung,” tambah Afiza.
Program SERUNI juga menjadi implementasi nyata konsep Interprofessional Education (IPE), yaitu kolaborasi mahasiswa dari berbagai disiplin ilmu kesehatan dalam memberikan pelayanan kesehatan yang komprehensif kepada masyarakat. Mahasiswa FIK yang terlibat dalam KKN IPE ini berasal dari prodi Kesehatan Masyarakat, Ilmu Gizi, Keperawatan, dan Fisioterapi.
Selain penyuluhan, kegiatan juga dilengkapi dengan pemeriksaan kesehatan berupa pengukuran tekanan darah, kadar gula darah, dan kolesterol sebagai upaya deteksi dini sekaligus pemantauan kondisi kesehatan peserta.
Untuk mendukung keberlanjutan program, mahasiswa KKN IPE Kelompok 65 juga menyerahkan media lembar balik (flipchart) kepada kader Posyandu Lansia Desa Plumbon. Media tersebut diharapkan dapat dimanfaatkan kembali sebagai sarana edukasi pada kegiatan posyandu maupun penyuluhan kesehatan berikutnya, sehingga manfaat program tidak berhenti setelah kegiatan KKN selesai, tetapi dapat terus dirasakan oleh masyarakat.
Berdasarkan wawancara yang dilakukan setelah kegiatan, para peserta mengungkapkan bahwa metode Games “Lampu Sehat Lansia” membuat materi lebih mudah dipahami karena penyampaian dilakukan secara bertahap dan diselingi permainan sederhana yang melibatkan seluruh peserta. Penggunaan kartu berwarna membantu mereka lebih mudah membedakan informasi yang benar dan keliru, sedangkan media flipchart dengan tulisan besar dan ilustrasi yang jelas membuat materi lebih nyaman untuk dibaca dan diikuti. (Maysali/Humas)




