ums.ac.id, SURAKARTA – Mahasiswa Fakultas Teknik (FT) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) menggelar presentasi hasil rancangan mata kuliah Tugas Perancangan Multi Disiplin (TPMD), Senin (6/7/2026) di Gedung H Fakultas Teknik. Mata kuliah tersebut pada semester ini melibatkan mahasiswa lintas Program Studi Teknik Mesin, Teknik Kimia, dan Teknik Sipil untuk berkolaborasi memecahkan persoalan yang dihadapi mitra industri.
Sebanyak 54 mahasiswa yang mengambil mata kuliah pilihan TPMD dibagi menjadi delapan kelompok. Masing-masing kelompok terdiri atas gabungan mahasiswa dari ketiga program studi tersebut sehingga setiap rancangan yang dihasilkan memadukan berbagai perspektif keilmuan teknik.
Pada kesempatan tersebut, Dekan Fakultas Teknik UMS Prof. Mochamad Solikin, S.T, M.T, Ph.D., turut memberikan penilaian sekaligus menguji hasil pemikiran para mahasiswa. Ia menjelaskan bahwa TPMD merupakan salah satu perkuliahan yang ada di seluruh program studi di Fakultas Teknik.

Solikin menerangkan bahwa mahasiswa yang mengambil mata kuliah pilihan tugas multidisiplin pada semester genap berasal dari Teknik Mesin, Teknik Kimia, dan Teknik Sipil. Sebanyak 54 mahasiswa tersebut kemudian dikelompokkan menjadi delapan tim yang anggotanya merupakan gabungan dari tiga program studi.
Setelah pembagian kelompok, mahasiswa diajak melakukan observasi ke Balai Yasa Kereta Api di Yogyakarta untuk melihat langsung kondisi di lapangan dan mengidentifikasi berbagai persoalan yang dapat diberikan solusi.
“Mereka membuat ide untuk perbaikan kondisi yang di sana. Idenya, tentu saja karena mereka gabungan dari masing-masing prodi, maka idenya itu adalah hasil pemikiran multidisiplin,” jelasnya.
Menurutnya, multidisiplin dalam kegiatan ini berarti adanya perpaduan dari berbagai program studi di Fakultas Teknik sehingga solusi yang dirancang diharapkan dapat menggambarkan kontribusi masing-masing bidang keilmuan.
Sebelum turun ke lapangan, mahasiswa terlebih dahulu mengikuti rangkaian workshop dan perkuliahan dalam empat sesi yang meliputi pembukaan, design thinking, teamwork, dan communication skill. Pembekalan tersebut diberikan agar mahasiswa memiliki dasar dalam bekerja sama, berkomunikasi, dan menyusun rancangan pemecahan masalah.
Usai kegiatan di Balai Yasa, mahasiswa mendapatkan pembimbingan secara intensif baik dari dosen maupun pihak mitra. Mahasiswa juga didorong untuk membangun komunikasi secara langsung dengan pihak Balai Yasa ketika menyusun ide, mengidentifikasi permasalahan, dan menawarkan solusi yang relevan.
Solikin menyampaikan bahwa kunjungan ke Balai Yasa dilakukan tepat setelah Ujian Tengah Semester (UTS). Selama kurang lebih tujuh minggu berikutnya, mahasiswa menyusun ide dan solusi atas permasalahan yang ditemukan hingga akhirnya dipresentasikan.
Salah satu mahasiswa Teknik Mesin, Eko Kusumane Madun, bersama timnya merancang desain jalur hijau untuk Balai Yasa. Berdasarkan hasil pengamatan mereka, workshop Balai Yasa memiliki aktivitas alat berat dan kendaraan operasional yang tinggi.
Eko menjelaskan bahwa pengunjung diwajibkan mengikuti jalur hijau sebagai jalur keselamatan. Namun, kondisi eksisting menunjukkan bahwa jalur tersebut masih terputus di beberapa titik sehingga berpotensi membahayakan pengunjung.
“Redesain dilakukan untuk keselamatan, kenyamanan, dan kemudahan navigasi pengunjung sesuai prinsip K3,” jelas Eko. (Maysali/Humas)




