ums.ac.id, SURAKARTA – Program Studi Pendidikan Matematika Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) terus memperkuat komitmennya dalam menghadirkan pendidikan yang relevan dengan perkembangan zaman. Upaya tersebut diwujudkan melalui Forum Group Discussion (FGD) Kurikulum yang digelar pada Selasa (7/7/2026) di Hotel Mercure, Surakarta.
Kegiatan ini menjadi ruang strategis bagi program studi untuk mengevaluasi sekaligus merancang kurikulum yang lebih adaptif, relevan, dan berorientasi pada kebutuhan masa depan. FGD melibatkan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari pakar pendidikan, pimpinan, dosen, tenaga kependidikan, praktisi, pengguna lulusan, alumni, hingga mahasiswa.
Kepala Program Studi Pendidikan Matematika FKIP UMS, Rita Pramujiyanti Khotimah, M.Sc., Ph.D., menyampaikan bahwa proses revitalisasi kurikulum perlu memperhatikan berbagai perspektif, baik dari internal maupun eksternal program studi.
“Perubahan yang terjadi di dunia pendidikan berlangsung sangat cepat. Karena itu, kurikulum harus terus diperbarui agar mampu menjawab tantangan dan kebutuhan masyarakat serta perkembangan teknologi,” ujarnya, Senin, (13/7/2026).

Pada kesempatan tersebut, Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret (UNS) sekaligus Ketua Pengembangan Kurikulum dan Pembelajaran Ikatan Masyarakat Edukasi Sains (IMES), Dr. Imam Sujadi, M.Si., hadir sebagai narasumber utama. Ia menekankan bahwa kurikulum masa depan tidak hanya berorientasi pada capaian akademik, tetapi juga pada penguatan kompetensi nyata mahasiswa.
Menurutnya, fleksibilitas pembelajaran menjadi salah satu kunci dalam pengembangan kurikulum baru. Melalui skema major dan minor, mahasiswa diharapkan memiliki ruang lebih luas untuk mengeksplorasi minat dan potensi yang dimiliki.
“Rencana Pembelajaran Semester (RPS) ke depan perlu lebih fleksibel sehingga mahasiswa dapat mengembangkan kompetensinya sesuai dengan kebutuhan dan minat masing-masing,” ungkap Imam.
Salah satu isu yang mengemuka dalam diskusi adalah pentingnya integrasi teknologi, khususnya akal imitasi (AI), dalam pembelajaran. Perwakilan alumni, Ike, menilai bahwa mahasiswa tidak cukup hanya memiliki kemampuan mengajar, tetapi juga perlu dibekali keterampilan mengembangkan inovasi pembelajaran berbasis AI.
“Kita tidak lagi hanya berbicara tentang mengajar, tetapi bagaimana mahasiswa mampu membuat asisten pembelajaran berbasis AI. Pengenalan Lapangan Persekolahan (PLP) harus menjadi ruang inovasi, bukan sekadar praktik mengajar konvensional,” ujar salah satu alumni.
Ike juga menilai pemanfaatan AI merupakan sebuah keniscayaan. Meski demikian, ia menegaskan bahwa peran dosen tetap sangat penting sebagai fasilitator dalam membangun literasi AI yang etis, kemampuan riset, serta menjaga arah pengembangan sesuai visi program studi.
Selain penguatan literasi digital, FGD juga menyoroti pentingnya pengembangan jiwa kewirausahaan bagi mahasiswa. Alumni Program Studi Pendidikan Matematika UMS angkatan 2012, Indah, mengusulkan agar materi entrepreneurship tidak hanya diberikan secara teoritis, tetapi juga melalui pengalaman praktis yang dapat membentuk mentalitas bisnis lulusan.
Di sisi lain, mahasiswa turut memberikan masukan terkait penguatan layanan akademik. Perwakilan mahasiswa angkatan 2024, Jabbar, mengusulkan penyederhanaan Sistem Informasi Program Studi (SIMPRO) guna meningkatkan transparansi informasi dan mempercepat proses penyelesaian studi.
Seluruh masukan yang diperoleh dalam FGD tersebut akan menjadi bahan penyusunan kerangka kurikulum baru Program Studi Pendidikan Matematika FKIP UMS. Langkah ini sekaligus menegaskan komitmen program studi dalam menghadirkan pendidikan yang responsif terhadap perubahan dan kebutuhan masyarakat. (Fika/Humas)




