ums.ac.id, SURAKARTA – Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) berikhtiar terus untuk turut andil dalam memperkuat ekosistem masjid-masjid Muhammadiyah, lewat Tim Pemberdayaan Ekonomi Masjid (TPEM) UMS ingin memberikan pelatihan ke beberapa masjid, sehingga masjid dapat menyelenggarakan kegiatan yang berdampak.
Kegiatan yang bertempat di Ruang Pertemuan Pesantren Mahasiswa (Pesma) UMS, Sabtu, (25/6/2026), TPEM-UMS mengundang lima masjid untuk mengikuti pelatihan tersebut, di antaranya Masjid Al Falah Sragen, Masjid Baitul Muchlisin Ponorogo, Masjid Ar Rohman Klaten, Masjid Al Mujahidin Banyuraden Sleman, dan Masjid Nurul Hidayah Semanggi.
Prof. Kussudyarsana, S.E., M.Si., Ph.D., selaku ketua TPEM-UMS mengatakan bahwa UMS sejak bulan Juni telah mulai menggencarkan kegiatan-kegiatan pemberdayaan masjid-masjid Muhammadiyah.
“Kegiatan pemberdayaan masjid kami mulai dengan explore lapangan atau berkunjung ke masjid untuk bertemu dan berdiskusi dengan para pengurus masjid secara langsung,” ujarnya.

Menurutnya, masjid bukan sekedar tempat pelaksanaan kegiatan ritual ibadah semata, tapi masjid memiliki tugas besar sebagai pusat sentral kegiatan umat muslim dari segala aspek, aspek ekonomi, sosial dan spiritual.
“Banyak masjid yang hanya dijadikan sebagai tempat kegiatan peribadatan semata, ini merupakan sebuah ketimpangan yang perlu kita pahami, agar peran masjid yang sebenarnya dapat terwujudkan,” tuturnya.
Ia berharap lewat kegiatan ini, masjid-masjid Muhammadiyah mampu menjadi masjid yang mewadahi aktivitas masyarakat, sehingga nantinya dapat dijadikan sebagai role model atau masjid percontohan bagi masjid-masjid yang ada di Indonesia.
“Menularkan kebaikan, sebagai investasi amal jariyah kita nantinya. Maka, mari kita tunjukan semangat kita dalam bermuhammadiyah lewat memberdayakan ekonomi masjid,” jelasnya.
Ahmad Mardalis, S.E., MBA., selaku perwakilan Lembaga Pengembangan Cabang Ranting dan Pembinaan Masjid (LPCRM) Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah mengapresiasi penuh inisiasi UMS dalam upaya memberdayakan masjid-masjid Muhammadiyah. Menurutnya, kegiatan ini menjadi dorongan untuk mengembangkan dakwah akar ramput di Muhammadiyah.
“Kita rasa-rasakan perjuangan Muhammadiyah dalam berdakwah itu berat, tapi perlu kita ingat bahwa In tansurullaha yansurukum (jika kamu menolong agama Allah, niscaya dia akan menolongmu), sehingga kita tidak perlu pesimis dalam menjalankan tugas ini,” ungkapnya.
Dengan semangat Muhammadiyah dalam mengusung gerakan internasionalisasi, Mardalis mengatakan perlunya pemberdayaan masjid sebagai pusat aktivitas masyarakat.
“Berjuang untuk mewujudkan masjid yang makmur memakmurkan,” ujarannya
Dalam sesi pemaparan materi, Lutfi Orbani, Direktur Badan Usaha Milik Masjid Al Falah menjelaskan kebanyakan problematika masjid terkendala pada aspek pendanaan. Akan tetapi menurut Lutfi, problematika masjid terletak pada tidak adanya sistem yg mumpuni untuk mengelola masjid.
Ia juga menegaskan perlunya transformasi paradigma masjid, yang dulunya membangun masjid dimulai pada peningkatan bangunan, tapi sekarang dimulai dari pemberdayaan jamaah/SDM yang kemudian didukung oleh sistem yang unggul.
“Masjid bukan tempat pengumpulan dana donatur, tetapi masjid menjadi pusat sentral peradaban,” jelasnya.
Lutfi menilai pembangunan masjid juga perlu dimulai dari penguatan fondasi spiritual takmir atau pengurus. Menurutnya, spiritualitas pengurus menjadi faktor utama dalam menjadikan masjid yang berdampak.
“Dari penguatan spiritual pengurus, masjid akan berjalan dan memberikan keberdampakan, karena pengurus menjalankan amanah dengan baik,” pungkasnya. (Affiq/Humas)




