Klanceng Edufarm Mahasiswa UMS Siapkan Ekspansi Usai Raih Juara Nasional, Bidik Pasar Internasional

(kiri) Produk Klanceng Edufarm, (kanan) Tim Klanceng Edufarm UMS
(kiri) Produk Klanceng Edufarm, (kanan) Tim Klanceng Edufarm UMS

ums.ac.id, SURAKARTA – Prestasi yang diraih Tim Klanceng Edufarm Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) dalam ajang Studentpreneur Bootcamp 2026 Muhammadiyah Center for Entrepreneurship and Business Incubator (MCEBI) menjadi pijakan baru untuk memperluas pengembangan usaha. Tidak berhenti pada capaian sebagai Juara 1 Business dan Juara 2 Proposal kategori Budidaya, tim kini menargetkan peningkatan kapasitas produksi hingga menembus pasar internasional.

Klanceng Edufarm merupakan startup agribisnis yang digagas mahasiswa Program Studi Hukum Ekonomi Syariah (HES) Fakultas Agama Islam (FAI) UMS. Tim ini beranggotakan Hibatulloh Al-Mubarok, Oyan Sugiyanto, Wildan Iskandar, Riski Aldiansyah, dan Athifah Fabanyo yang mengembangkan budidaya lebah klanceng berbasis edukasi dan pelestarian lingkungan.

Hibatulloh Al-Mubarok mengungkapkan bahwa Klanceng Edufarm lahir pada Agustus 2024 dari keresahan melihat potensi lebah klanceng di Indonesia yang belum dimanfaatkan secara maksimal. Menurutnya, lebah klanceng memiliki nilai ekonomi tinggi sekaligus berperan penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem melalui proses penyerbukan.

“Kami ingin menghadirkan usaha yang tidak hanya menjual madu, tetapi juga memberikan nilai edukasi dan pemberdayaan kepada masyarakat. Karena itu, sejak awal kami membangun Klanceng Edufarm sebagai bisnis yang memberikan manfaat ekonomi sekaligus menjaga lingkungan,” ujarnya saat ditemui pada Jumat, (24/7/2026).

Konsep tersebut menjadi pembeda Klanceng Edufarm dengan usaha madu pada umumnya. Selain menghasilkan madu premium, tim juga mengembangkan inovasi Dual Chamber Trigona Hive System (DCTHS) untuk meningkatkan efektivitas budidaya. Lebah klanceng yang tidak memiliki sengat juga dimanfaatkan sebagai media edukasi bagi anak-anak, pelajar, hingga masyarakat umum.

Perjalanan bisnis Klanceng Edufarm pun menunjukkan perkembangan yang signifikan. Hingga saat ini, usaha tersebut telah memiliki lebih dari 200 koloni lebah, melayani lebih dari 600 pelanggan di berbagai daerah di Indonesia, membangun 9 reseller, bekerja sama dengan 4 mitra, serta membukukan omzet kumulatif sekitar Rp140 juta.

Hibatulloh menjelaskan, keikutsertaan tim dalam Studentpreneur Bootcamp MCEBI yang telah berlangsung pada 17-18 Juli 2026 di Universitas Muhammadiyah Malang itu bukan semata mengejar gelar juara. Mereka memanfaatkan program tersebut sebagai ruang belajar untuk memperoleh validasi model bisnis, memperluas jejaring, serta mendapatkan masukan dari mentor, praktisi, dan akademisi.

Masukan dari para mentor semakin menguatkan arah pengembangan Klanceng Edufarm. Tim didorong untuk memperkuat hilirisasi produk, meningkatkan nilai tambah melalui inovasi, serta membangun ekosistem usaha yang menghubungkan peternak, konsumen, dunia pendidikan, dan pelestarian lingkungan.

Berbekal capaian tersebut, Klanceng Edufarm kini menyiapkan sejumlah langkah strategis. Tim berencana menambah jumlah koloni budidaya, memperluas jaringan reseller dan mitra di berbagai daerah, membangun pusat edukasi budidaya lebah klanceng, hingga membuka cabang di sejumlah wilayah strategis sebagai bagian dari persiapan memasuki pasar ekspor.

Keberhasilan mahasiswa UMS ini juga mendapat dukungan penuh dari Wakil Rektor III UMS, Dr. Mutohharun Jinan, M.Ag., yang selama proses pendampingan terus mendorong mahasiswa membangun bisnis yang tidak hanya berorientasi pada keuntungan, tetapi juga memberikan dampak sosial dan lingkungan. Menurutnya, sebuah usaha akan memiliki daya saing yang kuat apabila mampu menjawab kebutuhan masyarakat sekaligus menciptakan kebermanfaatan yang berkelanjutan.

Hibatulloh berharap UMS terus memperkuat komitmennya dalam membangun ekosistem kewirausahaan yang melahirkan mahasiswa inovatif dan berdaya saing. Menurutnya, melalui Direktorat Kemahasiswaan dan Pengembangan Talenta-Inovasi (DKPTI) UMS, mahasiswa memperoleh ruang untuk mengembangkan kompetensi melalui berbagai program pembinaan, kompetisi, pendampingan, hingga pengembangan startup.

“Saya menilai dukungan DKPTI telah membangun kepercayaan diri, memperluas jejaring, serta memperkaya pengalaman tim dalam mengembangkan Klanceng Edufarm,” ungkapnya.

Ke depan, ia berharap DKPTI UMS terus memperluas program inkubasi bisnis, pendampingan berkelanjutan, akses terhadap investor dan dunia industri, serta kolaborasi dengan pemerintah maupun sektor swasta sehingga semakin banyak startup mahasiswa yang mampu berkembang menjadi usaha mandiri, berkelanjutan, dan memberikan dampak nyata bagi masyarakat.

Ia juga berharap semakin banyak mahasiswa UMS berani memulai usaha sejak di bangku kuliah sehingga UMS, melalui DKPTI, terus menjadi rumah bagi lahirnya entrepreneur muda yang unggul, berintegritas, dan mampu membawa nama baik universitas di tingkat nasional maupun internasional. (Yusuf/Humas)

Bagikan informasi ini kepada temanmu

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

News UMS kini hadir di Saluran WhatsApp dengan klik Universitas Muhammadiyah Surakarta