ums.ac.id, SURAKARTA – Program Studi Magister Pendidikan Agama Islam (MPAI) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) menyelenggarakan Workshop Praktis Systematic Literature Review pada 24-25 Juli 2026 di Gedung Fakultas Agama Islam UMS.
Mengangkat tema “Dari Literatur Menjadi Naskah”, kegiatan ini bertujuan meningkatkan kemampuan riset akademik mahasiswa pascasarjana, khususnya dalam mengolah berbagai sumber ilmiah menjadi draf artikel yang sistematis, kritis, dan dapat dipertanggungjawabkan.
Workshop ini menghadirkan dua narasumber, yaitu Ketua Program Studi Magister Pendidikan Agama Islam UMS, Dr. Muh. Nur Rochim Maksum, S.Pd.I., M.Pd.I., dan mahasiswa Program Doktor Pendidikan Agama Islam UMS, Viky Nur Vambudi, S.Pd., M.Pd.

Ketua Program Studi MPAI UMS, Dr. Muh. Nur Rochim Maksum, menjelaskan bahwa kemampuan mengelola literatur secara sistematis menjadi bagian penting dalam penguatan kualitas penelitian mahasiswa pascasarjana.
“Workshop ini kami rancang untuk memperkuat kemampuan riset mahasiswa pascasarjana, khususnya dalam mengelola literatur ilmiah secara sistematis. Mahasiswa tidak cukup hanya membaca banyak referensi. Mereka harus mampu menyeleksi sumber yang relevan, menemukan kesenjangan penelitian, serta menyusun argumen akademik yang kuat berdasarkan bukti ilmiah,” kata Maksum, Selasa (28/7/2026).
Menurutnya, kegiatan tersebut tidak hanya menekankan pemahaman konseptual mengenai Systematic Literature Review atau SLR. Peserta juga diarahkan untuk mengembangkan hasil telaah literatur menjadi draf artikel sesuai dengan topik penelitian masing-masing.
“Melalui kegiatan ini, kami ingin memastikan bahwa mahasiswa tidak berhenti pada pemahaman teori tentang SLR. Mereka diarahkan untuk menghasilkan draf artikel yang dapat dikembangkan menjadi naskah publikasi. Pendekatan berbasis luaran ini penting untuk membangun budaya riset yang produktif, terukur, dan berkelanjutan,” ujarnya.
SLR merupakan metode penelitian yang digunakan untuk mengidentifikasi, menyeleksi, mengevaluasi, dan menyintesis hasil-hasil penelitian terdahulu melalui prosedur yang terencana.
Metode tersebut membantu peneliti memetakan perkembangan suatu bidang kajian, membandingkan hasil penelitian, menemukan kecenderungan pembahasan, serta mengidentifikasi persoalan yang masih memerlukan penelitian lebih lanjut.
Berbeda dengan kajian pustaka konvensional, SLR memerlukan proses penelusuran dan pemilihan literatur berdasarkan kriteria yang telah ditentukan. Setiap sumber perlu dianalisis secara sistematis agar hasil kajian memiliki dasar akademik yang jelas dan dapat ditelusuri.
Narasumber lainnya, Viky Nur Vambudi, menjelaskan bahwa salah satu persoalan yang sering dihadapi mahasiswa ialah kesulitan mengelola banyaknya sumber ilmiah yang telah dikumpulkan.
“Dalam praktiknya, banyak mahasiswa telah mengumpulkan berbagai artikel, tetapi masih mengalami kesulitan dalam menentukan sumber yang benar-benar relevan dengan fokus penelitian. Melalui SLR, proses pencarian, penyaringan, dan analisis literatur dilakukan dengan tahapan yang jelas sehingga hasil kajian menjadi lebih terarah dan dapat dipertanggungjawabkan,” kata Viky.
Ia menambahkan, literatur tidak seharusnya hanya digunakan untuk memenuhi kebutuhan teori atau memperbanyak daftar referensi. Peneliti perlu mengolah literatur sebagai sumber data akademik yang dapat menunjukkan pola, perbedaan temuan, dan peluang penelitian baru.
“Literatur harus diolah menjadi data akademik yang dapat menunjukkan pola penelitian, perbedaan hasil, kecenderungan kajian, dan ruang yang masih terbuka untuk diteliti. Dengan cara tersebut, mahasiswa dapat menyusun penelitian yang lebih fokus dan memiliki kontribusi ilmiah yang jelas,” ujarnya.
Selama workshop, mahasiswa pascasarjana diarahkan untuk mengembangkan topik penelitian, menentukan fokus kajian, menyeleksi sumber yang relevan, serta menyusun hasil analisis literatur menjadi kerangka naskah ilmiah.
Draf artikel menjadi hasil utama dari workshop tersebut. Luaran ini diharapkan dapat menjadi dasar bagi peserta untuk melanjutkan proses penulisan, memperkuat analisis, melakukan penyuntingan, dan mempersiapkan naskah menuju publikasi akademik.
Bagi mahasiswa MPAI, metode SLR dapat diterapkan untuk mengkaji berbagai isu, seperti pengembangan kurikulum, teknologi pembelajaran, pendidikan karakter, kompetensi guru, moderasi beragama, serta transformasi pendidikan Islam.
Kemampuan melakukan kajian literatur secara sistematis juga semakin penting di tengah pertumbuhan publikasi ilmiah yang cepat. Peneliti perlu memiliki kemampuan untuk memilih sumber yang kredibel, menilai kualitas penelitian, serta menyusun sintesis berdasarkan bukti yang tersedia.
Melalui workshop ini, MPAI UMS berupaya memperkuat budaya riset dan penulisan ilmiah di lingkungan pendidikan pascasarjana. Kegiatan tersebut juga menjadi bagian dari upaya meningkatkan kemampuan mahasiswa dalam menghasilkan karya akademik yang relevan dan memiliki peluang untuk dipublikasikan. (Fika/Humas)




