ums.ac.id, SURAKARTA – Fakultas Teknik (FT) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) mengenalkan kekayaan budaya Indonesia kepada mahasiswa internasional melalui kegiatan field study membatik di Batik MY, Bayat, Klaten, dalam rangkaian Science & Engineering Summer Camp 2026. Kegiatan ini menjadi bagian dari pembelajaran lintas budaya yang memadukan aspek seni, teknologi, kewirausahaan, dan keberlanjutan.
Pada hari kedua Kamis, (23/7/2026) pelaksanaan summer camp, peserta mendapatkan pengalaman langsung mempelajari seni membatik bersama pemilik Batik MY, Evi. Mereka memperoleh penjelasan mengenai sejarah berdirinya Batik MY, ragam jenis batik, hingga proses produksi batik tulis dan batik cap.

Evi menjelaskan kembali bahwa batik tulis dibuat secara manual menggunakan canting sehingga membutuhkan ketelitian tinggi dan waktu pengerjaan yang relatif lebih lama.
“Sementara itu, batik cap diproduksi menggunakan cetakan khusus yang memungkinkan proses pembuatan lebih cepat dengan motif yang lebih seragam. Peserta juga dikenalkan pada berbagai jenis kain yang digunakan dalam pembuatan batik, termasuk kain sutra sebagai salah satu material premium yang memiliki nilai jual tinggi,” ujarnya, Senin, (27/7/2026).
Setelah sesi teori, para peserta diajak menyaksikan secara langsung seluruh tahapan produksi batik. Mulai dari menggambar pola di atas kain, proses mencanting menggunakan malam, pewarnaan, hingga pengeringan kain yang masih mengandalkan sinar matahari alami. Melalui observasi tersebut, peserta memperoleh pemahaman mengenai ketelitian, kesabaran, dan keterampilan yang dibutuhkan dalam setiap proses membatik.
Selain mempelajari aspek budaya, mahasiswa internasional juga menunjukkan ketertarikan terhadap pengelolaan industri batik sebagai bagian dari ekonomi kreatif Indonesia. Berbagai pertanyaan disampaikan mengenai proses produksi, strategi pemasaran, hingga upaya menjaga keberlanjutan usaha batik yang dikelola pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Evi mengungkapkan bahwa salah satu tantangan terbesar industri batik saat ini adalah regenerasi pengrajin. Menurutnya, membatik membutuhkan keterampilan khusus sekaligus kecintaan terhadap budaya sehingga belum banyak generasi muda yang tertarik mendalami profesi tersebut.
“Regenerasi menjadi tantangan terbesar kami. Karena itu, kami aktif memberikan edukasi dan pelatihan kepada Generasi Z agar mereka mengenal, mencintai, sekaligus ikut melestarikan batik sebagai warisan budaya Indonesia,” jelas Evi.
Peserta juga diperkenalkan pada praktik produksi yang lebih ramah lingkungan. Batik MY memanfaatkan energi matahari untuk proses pengeringan kain serta menerapkan penggunaan eco enzyme dalam pengolahan limbah sebagai bentuk kepedulian terhadap lingkungan dan keberlanjutan industri batik.
Sebagai penutup kegiatan, seluruh peserta memperoleh kesempatan mempraktikkan langsung teknik dasar membatik. Mereka mencoba menggunakan canting untuk mengaplikasikan malam di atas kain serta merasakan secara langsung tingkat ketelitian yang diperlukan dalam pembuatan batik tulis.
Salah satu peserta asal Myanmar, David, mengaku mendapatkan pengalaman yang sangat berkesan selama mengikuti kegiatan tersebut.
“Saya merasa senang sekali karena hari ini belajar tentang budaya batik dari awal sampai akhir. Belajar di Batik MY sangat menyenangkan dan saya berharap semakin banyak orang dapat belajar serta mengunjungi tempat ini,” ujar David.
Kegiatan field study di Batik MY menjadi salah satu rangkaian pembelajaran berbasis budaya dalam Science & Engineering Summer Camp 2026 FT UMS. Melalui pengalaman ini, peserta tidak hanya memperoleh wawasan mengenai warisan budaya Indonesia, tetapi juga memahami keterkaitan antara pelestarian budaya, kewirausahaan UMKM, dan praktik produksi yang berkelanjutan.
Program tersebut sekaligus memperkuat komitmen FT UMS dalam menghadirkan pengalaman belajar internasional yang mengintegrasikan sains, rekayasa, budaya, dan pengabdian kepada masyarakat. (Basir/Fika/Humas)




