ums.ac.id, SURAKARTA – Mahasiswa Praktik Lapangan Persekolahan (PLP) 2 Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) menghidupkan kembali fungsi majalah dinding (mading) di SMP Negeri 3 Kartasura sebagai media informasi, edukasi, ajakan, dan dakwah. Dengan mengangkat tema “Stop Bullying”, mading tersebut menjadi sarana bagi mahasiswa untuk mengajak siswa dan seluruh warga sekolah bersama-sama menciptakan lingkungan pendidikan yang aman, nyaman, dan saling menghargai.
Program revitalisasi mading tersebut merupakan salah satu kegiatan yang dilakukan mahasiswa selama menjalankan PLP 2 di SMP Negeri 3 Kartasura. Kegiatan PLP 2 ini diikuti oleh mahasiswa dari dua fakultas di UMS, yaitu Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) serta Fakultas Agama Islam (FAI).
Selama pelaksanaan PLP 2, mahasiswa tidak hanya terlibat dalam kegiatan pembelajaran di kelas, tetapi juga turut berpartisipasi dalam berbagai aktivitas sekolah. Salah satunya melalui program pengaktifan kembali mading yang diharapkan dapat menjadi media komunikasi sekaligus sarana penyampaian pesan positif bagi siswa.
Mahasiswa PLP 2 UMS yang sekaligus koordinator pembuatan mading, Eldina Nurdiana, menjelaskan bahwa tema bullying dipilih sebagai bentuk kepedulian terhadap pentingnya menciptakan lingkungan sekolah yang aman dan nyaman.
“Tema bullying dipilih karena masih menjadi isu yang perlu mendapat perhatian di lingkungan sekolah. Melalui mading ini, diharapkan siswa semakin memahami dampak bullying serta terdorong untuk saling menghargai, peduli, dan bersama-sama menciptakan lingkungan sekolah yang aman dan nyaman,” ujarnya, Selasa, (11/8/2026).
Menurut Eldina, mading tersebut tidak hanya ditujukan sebagai pajangan di lingkungan sekolah. Keberadaannya diharapkan dapat mengembalikan fungsi mading sebagai media yang mampu menyampaikan informasi sekaligus mengajak siswa melakukan berbagai hal positif.
“Selain mengangkat isu anti-bullying, revitalisasi mading juga menjadi upaya kami untuk menghadirkan media komunikasi yang dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan oleh sekolah. Mading dapat digunakan untuk menyampaikan berbagai informasi sekolah, menampilkan karya siswa, memberikan edukasi, serta menyampaikan pesan moral dan keagamaan,” ungkapnya.
Mahasiswa UMS memilih menjadikan mading sebagai salah satu media untuk membangun kesadaran siswa mengenai pentingnya menghargai dan menjaga hubungan dengan sesama. Pesan-pesan yang disampaikan di mading dikemas menggunakan bahasa yang santun serta desain yang menarik agar dapat diterima dan dipahami oleh siswa dengan lebih mudah.
Melalui kampanye anti-bullying tersebut, mahasiswa PLP 2 UMS berharap mading dapat menjadi pengingat bagi siswa untuk lebih berhati-hati dalam bersikap, berbicara, dan berinteraksi dengan teman-temannya.
Program tersebut mendapat apresiasi dari pihak sekolah. Dra. Wahyuni Puji Rahayu, selaku bagian kurikulum sekaligus guru penanggung jawab mahasiswa PLP 2 di SMP Negeri 3 Kartasura, menilai mading yang dibuat mahasiswa memiliki konsep yang kreatif dan pesan yang relevan dengan kehidupan siswa.
“Mading yang dibuat oleh mahasiswa PLP II sudah sangat kreatif dan menarik. Pemilihan tema Stop Bullying juga sangat relevan dengan kehidupan siswa di lingkungan sekolah. Pesan yang disampaikan tidak hanya berupa ajakan untuk menghentikan bullying, tetapi dikemas melalui bahasa yang santun, desain yang menarik, dan pesan-pesan moral yang mudah dipahami oleh siswa,” kata Wahyuni.
Ia juga berharap mading tersebut dapat memberikan manfaat yang lebih luas bagi sekolah dan tetap dimanfaatkan setelah mahasiswa menyelesaikan kegiatan PLP 2.
“Kami berharap mading ini tidak hanya menjadi media informasi, tetapi juga dapat menjadi langkah awal untuk mengajak siswa bersama-sama menciptakan lingkungan sekolah yang aman, nyaman, dan saling menghargai,” lanjut Wahyuni.
Apresiasi tersebut menunjukkan bahwa program revitalisasi mading mendapat respons positif dari pihak sekolah. Bagi mahasiswa, kegiatan tersebut juga menjadi bagian dari pengalaman selama menjalankan PLP II, khususnya dalam melihat bahwa kontribusi terhadap pendidikan tidak hanya dilakukan melalui kegiatan pembelajaran di dalam kelas, tetapi juga melalui berbagai kegiatan yang mendukung lingkungan sekolah.
(Irsyad/Adi/Humas)




