ums.ac.id, BOYOLALI – Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) melalui Direktorat Kemahasiswaan dan Pengembangan Talenta-Inovasi (DKPTI) menggelar audiensi Program Penguatan Kapasitas Organisasi Kemahasiswaan (PPK Ormawa) 2026 bersama Pemerintah Kabupaten Boyolali di Aula Badan Perencanaan Pembangunan, Riset, dan Inovasi Daerah (Bapperida) Kabupaten Boyolali, Jumat (7/8/2026).
Audiensi tersebut menjadi langkah awal untuk memperkuat kolaborasi antara UMS dan Pemerintah Kabupaten Boyolali dalam mendukung pelaksanaan program pemberdayaan masyarakat yang dijalankan mahasiswa melalui PPK Ormawa.
Direktur Direktorat Kemahasiswaan dan Pengembangan Talenta-Inovasi (DKPTI) UMS, Ir. Ahmad Kholid Alghofari, S.T., M.T., menyampaikan bahwa pada tahun 2026 UMS berhasil meloloskan lima tim PPK Ormawa yang memperoleh pendanaan dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Tahun 2026. Capaian tersebut menempatkan UMS sebagai salah satu perguruan tinggi dengan jumlah proposal didanai terbanyak secara nasional.

Menurutnya, program PPK Ormawa menjadi laboratorium pembelajaran nyata bagi mahasiswa. Melalui program tersebut, mahasiswa tidak hanya memperoleh pengalaman akademik di ruang kuliah, tetapi juga belajar memetakan potensi desa, berkomunikasi dengan masyarakat, serta merancang solusi atas berbagai persoalan yang dihadapi mitra.
“Mahasiswa tidak hanya belajar di kampus, tetapi juga belajar langsung bersama masyarakat. Mereka mengimplementasikan ilmu yang dimiliki sekaligus mengembangkan kemampuan berkomunikasi, berkolaborasi, dan menyelesaikan persoalan di lapangan,” ujarnya.
Tim Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Fakultas Ilmu Kesehatan (FIK) mengembangkan program Musuk Ibupreneur Village di Desa Musuk. Program tersebut berfokus pada transformasi ibu rumah tangga menjadi wirausaha melalui inovasi produk olahan alpukat dan susu berbasis agroindustri kreatif. Kegiatan pemberdayaan meliputi pelatihan pengolahan produk, penguatan kelompok ibu rumah tangga dan BUMDes, manajemen keuangan, pemasaran digital, legalitas usaha, peningkatan mutu produk, branding, hingga perluasan jejaring pemasaran.
Sementara itu, IMM Fakultas Psikologi menghadirkan program Catur CERDAS (Ciptakan Edukasi, Resiliensi, Digitalisasi, dan Kemandirian Masyarakat melalui Pendekatan Handarbeni sebagai Nguri-uri Kampung Tani) di Desa Catur. Program ini mengembangkan lima fokus pemberdayaan, yaitu Pojok Tani, Pojok Ceria, Pojok UMKM Go Digital, Pojok Harmoni, dan Pojok Budaya untuk memperkuat sektor pertanian, literasi masyarakat, digitalisasi UMKM, kesehatan mental, partisipasi generasi muda, serta pelestarian budaya lokal.
Adapun Himpunan Mahasiswa Program Studi Pendidikan Teknik Informatika (HMP PTI) menginisiasi program Seboto Smart Farming di Desa Seboto. Program tersebut menerapkan teknologi Internet of Things (IoT) dalam sistem budidaya bibit kopi untuk mendukung pertanian berkelanjutan. Selain pemanfaatan teknologi pemantauan bibit secara digital, mahasiswa juga memberikan pendampingan kepada petani dalam penguatan kapasitas budidaya berbasis data dan pengembangan pertanian kopi yang berkelanjutan.

Ia menambahkan, keberhasilan program tidak dapat dicapai tanpa dukungan pemerintah daerah dan berbagai pemangku kepentingan. Sinergi antara perguruan tinggi, pemerintah, masyarakat, hingga organisasi lokal menjadi faktor penting dalam memastikan setiap program memberikan manfaat yang berkelanjutan.
Ahmad Kholid juga mengungkapkan bahwa keberhasilan program tahun sebelumnya di Desa Jembungan, Boyolali, menjadi motivasi bagi tim tahun ini. Desa mitra tersebut berhasil meraih penghargaan sebagai Desa Mitra Terbaik dalam ajang Abdidaya Ormawa, yang menunjukkan bahwa kolaborasi kampus dan pemerintah daerah mampu menghasilkan dampak nyata bagi masyarakat.
Sementara itu, Kepala Bapperida Kabupaten Boyolali, Drs. Khusnul Hadi, M.M., menyambut baik pelaksanaan audiensi tersebut. Ia berharap program-program PPK Ormawa dapat diselaraskan dengan agenda pembangunan daerah sehingga mampu mengoptimalkan potensi lokal dan menjawab kebutuhan masyarakat.
Menurutnya, kolaborasi antara pemerintah daerah dan perguruan tinggi merupakan bentuk nyata pembangunan berbasis inovasi yang membutuhkan dukungan dari berbagai pihak agar manfaatnya dapat dirasakan secara lebih luas.
Kasubdit Talenta, Inovasi, dan Prestasi DKPTI UMS, Muhammad Al Fatih Hendrawan, S.T., M.T., menjelaskan bahwa pelaksanaan PPK Ormawa berlangsung selama empat bulan, mulai Juli hingga Oktober 2026. Setiap tim memiliki indikator keberhasilan yang telah ditetapkan oleh kementerian sehingga membutuhkan pendampingan intensif dari dosen, universitas, pemerintah daerah, pemerintah desa, hingga tokoh masyarakat.
“Program ini tidak bisa berjalan sendiri. Kolaborasi menjadi syarat utama keberhasilan sehingga dukungan pemerintah kabupaten, pemerintah desa, dan seluruh mitra menjadi sangat penting,” katanya.
Melalui audiensi tersebut, lanjutnya, akan terbangun sinergi yang semakin kuat dengan Pemerintah Kabupaten Boyolali sehingga berbagai program pemberdayaan yang dijalankan mahasiswa mampu memberikan dampak berkelanjutan bagi masyarakat sekaligus memperkuat peran perguruan tinggi dalam mendukung pembangunan daerah. (Fika/Humas)




