ums.ac.id, SURAKARTA – Dalam momentum peringatan Hari Asma Sedunia, Beti Kristinawati, S.Kep, Ns, M.Kep, Sp.Kep.M.B., dosen Program Studi Keperawatan, Fakultas Ilmu Kesehatan (FIK) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), mengingatkan pentingnya kesadaran masyarakat dalam mengenali, mencegah, dan mengendalikan penyakit asma. Menurutnya, asma merupakan penyakit kronis yang tidak dapat disembuhkan, namun gejalanya dapat dikendalikan melalui pengobatan yang tepat dan perubahan gaya hidup.
“Asma itu penyakit kronis. Artinya diderita dalam jangka panjang dan hanya bisa dikendalikan gejala-gejalanya, tidak bisa disembuhkan,” jelas Beti saat diwawancarai, Sabtu (10/5).
Berdasarkan data Kementerian Kesehatan, prevalensi asma di Indonesia mencapai 2,4%, angka yang cukup tinggi dan berimplikasi pada morbiditas (angka kesakitan) maupun mortalitas (angka kematian).

Beti yang memiliki pengalaman sebagai perawat selama 10 tahun sebelum akhirnya menambah profesi menjadi dosen, menyoroti besarnya dampak serangan asma atau asthma attack yang kerap membahayakan bahkan mengancam nyawa. Kondisi paling mengancam nyawa pada pasien asma ketika terjadi asthma attack.
“Kalau tidak cepat ditangani, bisa mengalami kegagalan pernafasan dan membutuhkan perawatan intensif di ICU,” ungkapnya.
Lebih jauh, Beti menekankan pentingnya mengenali gejala asma seperti sesak napas, bunyi napas seperti seruling (wheezing), dada terasa berat, hingga batuk. Faktor penyebabnya pun beragam, mulai dari genetik hingga lingkungan, termasuk paparan alergen dan iritan seperti asap rokok dan polusi udara. Ia juga mengingatkan, tren penggunaan vape di kalangan generasi muda dapat memperburuk kondisi penderita asma.
“Vape ini tidak hanya mengandung nikotin, tapi juga zat tambahan lain yang berbahaya. Saya bersama dua mahasiswa keperawatan telah melakukan penelitian terkait dampak vape pada kesehatan kardiorespirasi, hasilnya menunjukkan bahwa vape berdampak negatif pada kesehatan kardiorespirasi,” kata dia.
Dalam konteks edukasi, Beti menegaskan peran penting edukasi kesehatan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat dan deteksi dini. Edukasi ini diharapkan dapat mendorong perubahan gaya hidup, mengurangi paparan polutan, serta meningkatkan kepatuhan pengobatan penderita asma.
Sebagai bentuk kontribusi, UMS melalui para dosen dan mahasiswa telah aktif melakukan penelitian dan pengabdian masyarakat (PkM) terkait asma. “Kami di FIK sudah melakukan riset, bahkan kolaborasi lintas prodi seperti keperawatan, kedokteran, gizi, dan farmasi. Asma termasuk dalam bahasan pada Mata Kuliah Keperawatan Medikal Bedah di kurikulum Keperawatan, ” jelasnya.
Selain itu, UMS turut berperan dalam mendukung komunitas penderita asma dan berkolaborasi dengan Puskesmas maupun instansi kesehatan lain untuk meningkatkan literasi kesehatan di masyarakat.
Dalam pesannya, Beti berharap masyarakat dapat mulai dari langkah sederhana seperti menghindari paparan asap rokok, memakai masker saat di area berpolusi, menjaga kebersihan lingkungan, serta menyiapkan obat-obatan darurat seperti inhaler.
“Penderita asma harus siap siaga, misalnya membawa inhaler ke mana pun pergi dan mengenali faktor pemicu munculnya gejala,” ujarnya.
Di akhir, Beti juga mendorong generasi muda untuk tidak terjebak tren merokok maupun vape yang dapat merugikan kesehatan, serta meningkatkan kesadaran kolektif untuk mengurangi polusi demi menciptakan lingkungan yang lebih sehat.
“Asma ini bukan sekadar batuk atau sesak napas yang dapat sembuh dengan sendirinya. Edukasi menjadi kunci utama agar masyarakat paham dan peduli,” pungkasnya. (Fika/Humas)




