ums.ac.id, SURAKARTA – Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Republik Indonesia dengan menggelar upacara pengibaran Sang Saka Merah Putih, Senin (17/8/2026). Mengusung semangat “Indonesia Berdaulat, Adil, dan Makmur”, upacara tersebut menjadi momentum bagi sivitas akademika UMS untuk kembali melihat perjalanan yang telah dilalui sekaligus menyiapkan langkah ke depan.
Dalam amanatnya, Rektor UMS Prof. Dr. Harun Joko Prayitno, M.Hum., mengaitkan peringatan HUT RI ke-81 dengan Milad ke-68 UMS yang juga menjadi momentum untuk merefleksikan perjalanan dan perkembangan UMS.
Menurut Harun, ada tiga hal yang menjadi pijakan dalam memaknai momentum tersebut. Pilar pertama adalah bersyukur.

“Pilar yang pertama adalah pilar untuk senantiasa bersyukur,” tekan Harun.
Ia mengingatkan bahwa keberadaan Indonesia, Persyarikatan Muhammadiyah, ‘Aisyiyah, dan UMS merupakan bagian dari perjalanan panjang yang patut disyukuri. Karena itu, civitas academica UMS perlu terus menghormati para pendiri UMS, para pahlawan yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia, serta para pendiri Muhammadiyah-‘Aisyiyah sejak 1912.
Pilar kedua yang disampaikan Harun adalah doa. Menurutnya, doa menjadi bagian penting dalam memaknai kemerdekaan sekaligus perjalanan UMS ke depan.
Ia juga mengajak civitas academica untuk memberikan perhatian kepada masyarakat yang sedang menghadapi musibah di Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Flores.

“Secara khusus, pakaian yang saya kenakan pada hari ini dan teman-teman menunjukkan bagian dari keindonesiaan. Khusus yang saya pakai ini mencerminkan bagian dari mengingatkan, mendekatkan diri kita semua kepada saudara-saudara kita yang kena musibah di NTT dan Flores,” ujarnya.
Sementara itu, bentuk syukur berikutnya, lanjut Harun, dapat diwujudkan dengan menjaga dan mengembangkan UMS. Ia menilai perkembangan UMS selama 68 tahun merupakan hasil dari proses panjang yang perlu terus dirawat bersama.
“Salah satu wujud syukur itu adalah kita bisa mengelola, menjaga, mengembangkan, menumbuhkembangkan UMS ini sejak 68 tahun yang lalu,” kata dia.
Salah satu perkembangan tersebut terlihat dari jumlah program studi yang dimiliki UMS. Saat ini, UMS memiliki 86 program studi pada berbagai jenjang, mulai dari sarjana, profesi, magister, hingga doktor.
Harun juga mengingatkan bahwa keberadaan UMS bukan hanya soal jumlah program studi maupun perkembangan institusi. Ilmu dan keterampilan yang diperoleh selama berada di UMS diharapkan bisa dibawa keluar dan memberi manfaat bagi masyarakat.
Ia mengajak dosen, tenaga kependidikan, security, maupun outsourcing untuk ikut menyebarluaskan pengalaman dan pengetahuan yang diperoleh selama berinteraksi di lingkungan UMS.
“Karena hakikat pekerjaan adalah lillahi ta’ala yuhibbu. Jadi di dalam pekerjaan itu ada dua saya kira: yang pertama lillahi ta’ala, yang kedua yuhibbu. Untuk mencapai profesional itu harus lillahi ta’ala, dan untuk dasar lillahi ta’ala itu sebagai fondasi harus dikembangkan menjadi paripurna yaitu yuhibbu,” tuturnya.
Dalam amanatnya, Harun juga melaporkan perkembangan Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB) UMS. Hingga 17 Agustus 2026, jumlah pendaftar PMB UMS telah mencapai sekitar 27.900 orang, sedangkan mahasiswa yang telah melakukan registrasi mencapai 7.516 orang.
Menutup amanatnya, Harun mengajak seluruh unsur UMS untuk bergerak bersama. Menurutnya, sinergi dan potensi yang dimiliki masing-masing unsur perlu disatukan agar UMS tidak hanya memiliki reputasi, tetapi juga memberikan dampak yang nyata dan berkelanjutan. (Maysali/Humas)




