Ekonom UMS Soroti Risiko Ritel dan Tantangan Sektor Riil di Tengah Euforia Pasar

Ilusrasi retail. (Foto Canva)
Ilusrasi retail. (Foto Canva)

ums.ac.id, SURAKARTA – Di tengah optimisme pasar yang ditandai dengan menguatnya IHSG atau Indeks Harga Saham Gabungan, Ekonom Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Prof. Dr. Anton Agus Setyawan, S.E., M.Si, mengingatkan bahwa sektor ritel domestik masih menghadapi tekanan berat. Daya beli yang belum pulih sepenuhnya dan perubahan perilaku belanja masyarakat dinilai menjadi faktor utama yang membebani ritel konvensional.

Menurutnya, pergeseran belanja ke platform digital membuat banyak pedagang pasar tradisional kehilangan transaksi. “Bahkan di pasar-pasar tradisional, pedagang fashion datang hanya untuk ngobrol karena hampir tidak ada transaksi. Masyarakat desa sekalipun belanjanya lewat online,” ujarnya, Senin (15/12).

Masalahnya, dominasi produk impor di platform e-commerce membuat industri manufaktur domestik tidak menikmati efek peningkatan transaksi digital. Produk fesyen murah dari luar negeri membanjiri pasar dan memotong mata rantai industri tekstil nasional, sehingga kontribusi terhadap penyerapan tenaga kerja juga rendah.

Guru Besar Ilmu Manajemen Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Prof. Dr. Anton Agus Setyawan, M.Si.,
Guru Besar Ilmu Manajemen Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Prof. Dr. Anton Agus Setyawan, M.Si.,

Ia menilai upaya pemerintah menekan thrifting dan pengetatan impor pakaian merupakan langkah yang tepat untuk melindungi industri dalam negeri. Namun penegakan aturan harus cermat agar tidak melanggar kesepakatan perdagangan bebas. Jika ekosistem marketplace dapat didominasi produk lokal, efek rambatannya akan jauh lebih panjang dan berkelanjutan bagi industri dalam negeri.

Di lapangan, perubahan perilaku konsumen dan lemahnya daya beli saling menguatkan tekanan pada sektor ritel. Banyak pelaku usaha memilih menunda ekspansi setelah periode panjang wait and see, dan baru sebagian kecil industri yang mulai bergerak. Kondisi ini membuat pemulihan ritel tidak dapat mengandalkan momentum pasar modal semata.

Dibanding sektor ritel, efek kebijakan fiskal seperti penurunan suku bunga dan penyaluran kredit Rp 200 triliun masih membutuhkan waktu untuk terasa. Industri juga belum agresif mengambil pembiayaan baru karena kondisi global masih tidak stabil. “Perlu waktu sampai sektor riil menangkap kembali kepercayaan pasar. Setidaknya kita lihat lagi di triwulan pertama 2026,” jelasnya.

Ia juga menyoroti pentingnya rekayasa kebijakan untuk mencegah banjir produk impor di platform digital. Kebijakan perlindungan industri, menurutnya, harus ditempatkan sebagai agenda mendesak karena hanya itu yang dapat mengembalikan fungsi manufaktur sebagai penyerap tenaga kerja besar.

Kendati demikian, ia melihat adanya peluang jangka panjang jika pemerintah mampu menyeimbangkan perlindungan industri dengan transformasi digital. Pemulihan ritel juga harus melibatkan penguatan industri hulu agar rantai pasok domestik kembali hidup dan menyehatkan struktur ekonomi nasional secara menyeluruh.

Meski banyak tantangan, Anton menyebut perbaikan bertahap mulai terlihat di beberapa sektor, termasuk pertanian yang ikut terdorong oleh program pangan nasional. Namun pemulihan menyeluruh tetap membutuhkan arah kebijakan yang konsisten dan berpihak pada industri dalam negeri.

Menurutnya, euforia IHSG hari ini tidak boleh menutup pandangan bahwa kekuatan ekonomi Indonesia sesungguhnya berada pada sektor riil. Ia menegaskan bahwa keberhasilan pertumbuhan ekonomi 2026 sangat bergantung pada kemampuan pemerintah mendorong aktivitas industri, mengendalikan impor, dan memulihkan daya beli masyarakat. (Al/Humas)

Bagikan informasi ini kepada temanmu

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

News UMS kini hadir di Saluran WhatsApp dengan klik Universitas Muhammadiyah Surakarta