ums.ac.id, SURAKARTA – Mahasiswa Program Studi (Prodi) Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini (PG-PAUD) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) kembali menorehkan prestasi di tingkat nasional. Tim Sobat Ceria yang terdiri dari Deswita Winna Irshandy, Fatimah Azzahroh, dan Meisya Haya Anaswa mahasiswa angkatan 2023, berhasil meraih Juara 2 Kategori Jasa dan Perdagangan dalam ajang Expo dan Kompetisi Kewirausahaan Nasional (EKKN) ke-4 Tahun 2026 yang diselenggarakan oleh Universitas Tidar (UNTIDAR), Magelang.
EKKN ke-4 Tahun 2026 merupakan ajang kewirausahaan mahasiswa berskala nasional yang mengusung tema “Dari Lokal untuk Nasional: Wirausaha Mahasiswa Menuju Masyarakat Madani”. Kegiatan ini menghadirkan berbagai rangkaian acara, mulai dari gelar produk, pameran Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), hingga kompetisi wirausaha mahasiswa yang diikuti oleh ratusan perguruan tinggi dari berbagai daerah di Indonesia.
Tim Sobat Ceria hadir dengan inovasi layanan stimulasi tumbuh kembang dan pendidikan anak usia dini yang inklusif. Program ini berfokus pada metode play-based learning atau belajar melalui bermain, mindfulness, serta kolaborasi intensif dengan keluarga melalui pendekatan family co-creation. Melalui pendekatan tersebut, anak-anak diharapkan dapat berkembang secara optimal baik dari aspek kognitif, emosional, maupun sosial.

Deswita Winna Irshandy menjelaskan bahwa lahirnya Sobat Ceria didorong oleh kepedulian tim terhadap dunia pendidikan dan tumbuh kembang anak.
“Pendidikan inklusif dan ruang aman untuk tumbuh kembang merupakan hak bagi semua anak. Kami melihat masih terbatasnya ruang stimulasi yang memadukan pendekatan mindfulness serta minimnya ruang kolaborasi aktif antara anak dan orang tua, terutama di era digital saat ini. Karena itu, Sobat Ceria hadir sebagai solusi yang menghubungkan kebutuhan anak dan keluarga dalam satu program yang terintegrasi,” ujarnya, Rabu, (17/6/2026).
Dalam mempersiapkan diri menghadapi kompetisi nasional tersebut, tim Sobat Ceria menjalani berbagai tahapan persiapan secara intensif. Mereka mengikuti program kewirausahaan, menyusun materi pitching, mempersiapkan gelar produk, serta melakukan uji coba program secara berkelanjutan. Selain itu, tim juga menyiapkan rekapitulasi keuangan, cash flow, dan omzet dari usaha yang telah berjalan sebagai bentuk kesiapan dalam aspek bisnis.
Meski demikian, perjalanan menuju prestasi tersebut tidak lepas dari berbagai tantangan. Salah satu tantangan terbesar yang dihadapi adalah menyelaraskan konsep pendidikan inklusif agar dapat berkembang menjadi model bisnis yang berkelanjutan dan tidak hanya dipandang sebagai layanan sosial semata.
“Kami berusaha menjawab tantangan tersebut melalui pendekatan Family Co-Creation yang menargetkan orang tua secara langsung. Model ini membuat layanan kami memiliki nilai jual yang jelas, terstruktur, edukatif, sekaligus tetap memberikan dampak sosial yang kuat,” terang Deswita.
Keunggulan utama Sobat Ceria terletak pada pendekatan holistik yang menggabungkan play-based learning, mindfulness, dan pelibatan aktif orang tua dalam proses pembelajaran. Pendekatan ini menjadikan layanan tersebut inklusif karena mampu merangkul seluruh anak tanpa membatasi latar belakang maupun kondisi mereka, termasuk anak berkebutuhan khusus, dalam satu kegiatan yang menyenangkan dan bermakna.
Inovasi tersebut mendapat respons positif dari dewan juri maupun peserta lain selama kompetisi berlangsung. Program mindfulness yang dikembangkan dinilai mampu menumbuhkan kesadaran pada anak maupun orang tua, sementara pendekatan family co-creation dianggap relevan dalam mendukung stimulasi tumbuh kembang anak di masa kini.
Prestasi yang diraih tim Sobat Ceria juga tidak terlepas dari dukungan Universitas Muhammadiyah Surakarta melalui Direktorat Kemahasiswaan dan Pengembangan Talenta-Inovasi (DKPTI). Dukungan tersebut diwujudkan melalui fasilitasi pendanaan Program Pembinaan Mahasiswa Wirausaha (P2MW) serta pendampingan yang intensif. Tim Sobat Ceria juga mendapatkan bimbingan dari dosen ahli, Dr. Choiriyah Widyasari, S.Psi., M.Psi.
Melalui layanan yang dikembangkan, Sobat Ceria berhasil menciptakan ruang belajar yang aman dan efektif bagi anak. Program ini membantu orang tua dalam mendampingi tumbuh kembang emosional dan sosial anak secara tepat, sekaligus menanamkan nilai adab dan literasi digital sejak usia dini melalui metode pembelajaran yang menyenangkan.
Setelah meraih Juara 2 tingkat nasional, tim Sobat Ceria menargetkan pengembangan layanan yang lebih luas melalui pemanfaatan platform digital. Selain itu, mereka juga berencana memperkuat modul pembelajaran berjenjang serta menjalin kemitraan dengan berbagai lembaga pendidikan anak usia dini agar manfaat program dapat menjangkau lebih banyak keluarga di Indonesia.
Deswita berharap capaian tersebut dapat menjadi inspirasi bagi mahasiswa lain untuk terus berinovasi dan berani memulai usaha sejak dini.
“Prestasi ini membuktikan bahwa mahasiswa FKIP UMS dan program studi lainnya memiliki potensi besar untuk menciptakan perubahan melalui inovasi. Jangan ragu memulai wirausaha sedini mungkin, dan jadikan nilai kebermanfaatan sosial sebagai motor penggerak utama dalam menjalankan bisnis,” pungkasnya. (Adi/Humas)




