ums.ac.id, SURAKARTA – Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) melalui Lembaga Pengembangan Pondok Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (LPPIK) menyelenggarakan Kajian Tafsir dengan menghadirkan Dr. Ainur Rha’in, S.Th., M.Th.I., membahas surat Al-Baqarah ayat 87-96.
Rha’in-sapaan kerapnya, mengawali kajian dengan menjelaskan bahwa bani israil diberikan nikmat yang sangat besar berupa petunjuk. Petunjuk itu berupa kitab Taurat yang diturunkan kepada Nabi Musa, dan kitab Injil yang diturunkan kepada Nabi Isa.
“Dua Kitab yang diberikan Allah kepada mereka sebagai petunjuk melalui dua nabi yang berbeda menjadikan sebuah kenikmatan terbesar hamba,” ungkapnya Sabtu, (3/1).

Allah telah mengutus beberapa nabi untuk membawa risalah kebenaran kepada mereka. Namun, dengan segala keangkuhan bani israil, mereka tidak menerima kedatangan para nabi dengan membunuh nabi-nabi yang telah diutus un`1tuk mereka, diantaranya, yaitu: Nabi Zakaria, Yahya, Isa, dan lain sebagainya.
“Kebengisan dan kedustaan bani israil dituturkan dalam Al-Qur’an sebagai pengingat generasi/umat yang akan datang,” ujarnya.
Dalam ayat 88, menjelaskan bahwa bangsa israil tipologi manusia yang merasa paling beriman dan paling mulia. Namun Allah membantah dengan melaknat mereka karena kekufuran mereka. Ayat ini juga membongkar klaim palsu spiritualitas bani israil.
Rha’in menegaskan pada ayat 88 bahwa laknat Allah itu datang karena kekufuran seorang hamba.

“Allah itu melaknat itu tidak melihat suku, ras, warna kulit, kekayaan, dan kedudukan. Tapi Allah melaknat atas kekufuran seorang hamba,” tegasnya.
Pada ayat 89, menceritakan bangsa yahudi yang merupakan bagian dari bani israil merasa percaya bahwa nabi yang akan diutus berasal dari bangsa/suku mereka, tapi Allah berkata lain dengan mengutus Nabi Muhammad sebagai nabi yang bukan dari bangsa mereka, sehingga mereka menolak untuk mempercayai Nabi Muhammad sebagai seorang nabi.
Kata Rha’in, ayat ini membongkar paradoks keimanan palsu. Terkadang banyak bicara tentang iman, ikhlas, ihsan, waro’ padahal sejatinya mereka mencari legitimasi untuk personal atau kelompok.
Memasuki ayat 90, Bani Israil rela mengejar kenikmatan duniawi dengan menggadaikan akhirat. Perbuatan ini atas dasar kedengkian dan kezaliman yang melampaui batas. Rha’in menuturkan bahwa segala sesuatu yang dibangun atas kedengkian dan kezaliman akan berakhir dengan keburukan.
Ia menekankan bahwa kebenaran itu berasal dari Al-qur’an dan sunnah, bukan diasosiasikan terhadap kelompok tertentu.
“Ukuran kebenaran itu bukan fanatisme kelompok, tapi kebenaran sesungguhnya itu dari Al-Qur’an dan hadits,” tuturnya.
Kemudian ayat 91 terdapat anjuran untuk mengimani Al-Qur’an, tapi bani israill menolak dengan dalih mereka mengimani kitab yang diturunkan oleh Musa. Padahal Al-qur’an merupakan penyempurna kitab-kitab sebelumnya.
Rha’in mengatakan bahwa pada ayat tersebut terdapat bantahan Allah terhadap bani israil atas argumen yang mereka bangun untuk menghindari ajaran Nabi Muhammad.
Ayat 92 menjelaskan kesyirikan bani israil dengan menjadikan anak sapi sebagai tuhan mereka. Kata Rha’in orang yang berbuat syirik akan melekat kezaliman pada dirinya. Orang yang berbuat kesyirikan akan cenderung mudah melakukan kezaliman.
Allah kembali mengingatkan perjanjian mereka pada ayat 93. Bani israil berjanji berpegang teguh pada ajaran yang diberikan oleh Allah, namun mereka sekedar mendengarkan tanpa menaatinya.
Lebih lanjut, pada ayat 94 Allah memerintahkan kepada Nabi Muhammad untuk meminta hujjah (alasan) terhadap argumen yang dibagun oleh bani israil. Dalam ayat ini, kata Rha’in terdapat metode berbicara atau diskusi ilmiah dengan memindahkan wacana narasi ke debat terbuka yang menuntut bukti.
“Dengan pertanyaan seperti itu meminta bani israil untuk membuktikan kemuliaan mereka,” katanya.
Bani israil sangat takut dengan kematian, hal itu dijelaskan pada ayat 95. Mereka menyadari bahwa dirinya banyak melakukan kesyirikan dan kemunafikan, sehingga menyebabkan mereka takut akan kematian.
Sebagai penutup, ia menyampaikan bahwa pada ayat 96 menjelaskan bahwa bangsa yahudi merupakan bangsa yang paling rakus, bahkan kerakusan mereka melebihi kerakusan orang musyrik. Ayat ini mencela orientasi kehidupan mereka selama di muka bumi ini. (Affiq/Humas)




