Kajian Tafsir UMS Kupas Strategi Dakwah Nabi Nuh di Tengah Penolakan Kaumnya

Ilustrasi semangat dakwah yang tak kenal lelah meski mendapat penolakan bertubi-tubi. (Foto: Canva)
Ilustrasi semangat dakwah yang tak kenal lelah meski mendapat penolakan bertubi-tubi. (Foto: Canva)

ums.ac.id, SURAKARTA – Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) kembali menggelar Kajian Tafsir Al-Qur’an secara daring pada Kamis (7/8). Kegiatan rutin yang diselenggarakan oleh Direktorat Sumber Daya Manusia Dan Organisasi (DSDMO) UMS ini menghadirkan pemateri Dr. Ainur Rha’in, S.Th.I, M.Th.I. Dalam kesempatan ini, ia membedah makna dan pelajaran dari Surat Nuh, salah satu surat yang mengabadikan perjuangan seorang rasul dalam mengemban amanat dakwah.

Mengawali kajian, Ainur Rha’in menekankan bahwa Surat Nuh mengandung nilai-nilai universal tentang pentingnya kesabaran, ketekunan, dan keikhlasan dalam berdakwah. Ia menjelaskan bahwa Allah SWT mengabadikan perjalanan dakwah Nabi Nuh sebagai pelajaran berharga bagi umat manusia, khususnya bagi mereka yang menempuh jalan dakwah di tengah berbagai tantangan.

Dr. Ainur Rha'in, S.Th.I, M.Th.I
Dr. Ainur Rha’in, S.Th.I, M.Th.I

“Surat ini menggambarkan dengan jelas bagaimana perjuangan Nabi Nuh berlangsung selama lebih dari 950 tahun, namun hanya sedikit yang mengikuti ajakannya. Ini adalah potret nyata kesabaran dalam skala yang luar biasa,” terang Ainur Rha’in yang juga sebagai dosen Fakultas Agama Islam (FAI) UMS.

Ia menambahkan bahwa Nabi Nuh telah menempuh berbagai pendekatan dakwah, baik secara sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan, siang dan malam. Namun, mayoritas kaumnya tetap berpaling dan bersikap keras kepala, bahkan saling mewariskan penolakan dari generasi ke generasi.

Menariknya, dalam Surat Nuh juga digambarkan bahwa penolakan kaum Nabi Nuh bukan hanya berupa pembangkangan, tetapi juga sikap menutup diri yang disengaja. Mereka menutup telinga dan menutupi wajah mereka dengan kain agar tidak mendengar kebenaran.

“Ini menggambarkan bagaimana kesombongan bisa menjadi penghalang utama menerima hidayah,” ujar Ainur.

Selain aspek dakwah, Surat Nuh juga mengandung ajaran penting mengenai istighfar atau memohon ampun kepada Allah. Dalam ayat 10–12, Nabi Nuh mengajarkan bahwa istighfar dapat membuka pintu-pintu keberkahan, seperti hujan yang deras, rezeki yang melimpah, anak-anak yang banyak, serta kebun dan sungai yang subur.

“Allah menunjukkan bahwa ampunan-Nya bukan sekadar menghapus dosa, tetapi juga membawa keberkahan dunia. Maka, memperbanyak istighfar adalah kunci perbaikan hidup pribadi maupun sosial,” jelas Ainur kepada para peserta.

Lebih lanjut, ia juga menyinggung peran akal dan ilmu dalam dakwah, sebagaimana disebutkan dalam ayat-ayat akhir surat tersebut. Kaum Nabi Nuh enggan berpikir dan merenungi penciptaan langit tujuh lapis, bulan, dan matahari yang teratur. Padahal, ajakan Nabi Nuh sangat rasional dan disampaikan dengan argumentasi yang kuat.

Surat Nuh pun ditutup dengan doa yang menggambarkan kepasrahan Nabi Nuh setelah seluruh upaya dakwah dilakukan. Ia mendoakan kehancuran bagi orang-orang zalim, namun juga memohon keselamatan bagi orang-orang beriman, termasuk keluarganya dan seluruh umat yang menerima ajarannya.

“Doa Nabi Nuh adalah bentuk permohonan keadilan. Ketika semua usaha tidak membuahkan hasil dan kebenaran terus ditolak, maka keadilan Allah menjadi harapan terakhir para nabi,” pungkasnya.

Kajian yang berlangsung selama lebih dari satu jam ini diikuti oleh dosen, tenaga kependidikan, serta civitas academica UMS secara daring melalui platform Zoom Meeting. Kegiatan ini merupakan bagian dari program pembinaan keislaman dosen dan karyawan UMS secara rutin. (Yusuf/Humas)

Bagikan informasi ini kepada temanmu

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

News UMS kini hadir di Saluran WhatsApp dengan klik Universitas Muhammadiyah Surakarta