Kajian UMS Ungkap Cara Islam Mengatasi Dampak Negatif Konten Digital

ums.ac.id, SURAKARTA – Gema Kampus Ramadhan (GKR) 1446 H Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) menggelar kajian well-being bertajuk “Ketika Otak Kebanjiran Konten: Brainrot dan Solusinya dalam Psikologi Islam” pada hari Jumat, (21/3) di Masjid Hj. Sudalmiyah Rais, Kampus 2 UMS. Kajian ini membahas dampak digitalisasi terhadap kesehatan mental di tengah derasnya informasi yang masuk ke otak setiap harinya.

Pemateri kajian, Ust. Afriza Animawan Arifin, S.Psi., M.A., menjelaskan bahwa fenomena kebanjiran konten digital menjadi salah satu penyebab utama gangguan keseimbangan mental di era modern. Setiap hari, kita terpapar ribuan informasi yang mempengaruhi pikiran dan perasaan kita. Tanpa pengelolaan yang baik, hal ini bisa berujung pada kelelahan mental.

Ust. Afriza mengenalkan konsep ‘Brainrot’, yang merupakan gangguan yang terjadi akibat kebiasaan menerima informasi secara cepat dan instan. Hal ini menyebabkan otak kehilangan kemampuan untuk fokus dalam tugas yang lebih mendalam, seperti riset atau membaca buku. “Otak kita terbiasa dengan konten singkat seperti TikTok dan YouTube Shorts, yang membuat kita sulit berkonsentrasi pada tugas kompleks,” ujarnya.

Fenomena ini semakin diperburuk dengan data yang menunjukkan bahwa pengguna media sosial di Indonesia didominasi oleh usia 18-34 tahun, yang mencapai 54,1% dari total pengguna. Kelompok usia ini rentan terhadap pengaruh media sosial yang berlebihan, yang dapat mengganggu kesehatan mental, terutama jika tidak disaring dengan bijak.

Ust. Afriza juga menekankan pentingnya cara kita memfilter konten yang masuk untuk menjaga kesehatan mental dan emosional. “Brainrot mengajarkan kita untuk menyaring informasi dengan bijak agar tidak merusak keseimbangan mental kita,” tambahnya. Islam mengajarkan untuk menjaga ketenangan hati melalui pengelolaan pikiran dan hati yang penuh kesadaran, serta tidak membiarkan diri terjebak dalam kebanjiran konten yang merugikan.

Lebih lanjut, Ust. Afriza juga membahas dampak negatif dari “rebranding” di ruang maya, seperti munculnya Real Selves, yaitu diri kita yang asli di dunia nyata yang dipindah ke dunia maya, dan Virtual Selves, yaitu idealisasi diri kita di dunia maya, bahkan terkadang menciptakan False Selves, yaitu diri yang “berbohong” demi mendapatkan perhatian atau konten viral. Fenomena ini berpotensi merusak kesehatan mental seseorang jika identitas yang dibangun tidak autentik.

Kajian ini mendapat sambutan antusias dari mahasiswa dan masyarakat sekitar yang hadir. Mereka mengapresiasi penyampaian materi yang memberikan pemahaman tentang pentingnya keseimbangan mental di tengah era digital ini. Mereka berharap kajian ini bisa menjadi panduan dalam menjaga kesehatan mental agar tetap produktif dan bahagia. (Al/Humas)

Bagikan informasi ini kepada temanmu

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

News UMS kini hadir di Saluran WhatsApp dengan klik Universitas Muhammadiyah Surakarta