ums.ac.id, SURAKARTA – Upaya pencegahan stunting pada anak usia dini giat dilakukan oleh Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS). Melalui program Pengabdian kepada Masyarakat yang dilaksanakan oleh Dr. Junita Dwi Wardhani, S.E., M.Ed., bersama tim Kuliah Kerja Nyata Muhammadiyah Aisyiyah (KKNMAS) berkolaborasi dengan guru PAUD dan kader Posyandu di Desa Waru, Kecamatan Bendosari, Kabupaten Sukoharjo dirancang untuk meningkatkan edukasi kesehatan dan pemantauan tumbuh kembang anak secara terpadu.
Junita Dwi Wardhani menjelaskan bahwa permasalahan stunting tidak dapat diselesaikan hanya oleh sektor kesehatan, melainkan memerlukan dukungan dari sektor pendidikan, khususnya guru PAUD.
“Guru PAUD memiliki peran penting dalam deteksi dini tumbuh kembang anak. Oleh karena itu, sinergi dengan kader Posyandu menjadi langkah strategis dalam mencegah stunting sejak dini,” terang Junita, Kamis (19/6).

Kegiatan pengabdian ini mencakup penyuluhan edukasi tentang stunting, demonstrasi pembuatan Pemberian Makanan Tambahan (PMT) bergizi berupa puding buah naga, serta pelatihan keterampilan pemantauan tumbuh kembang anak. Guru PAUD juga dilibatkan aktif dalam menyampaikan informasi kepada orang tua terkait perkembangan anak dan memantau keterlibatan orang tua dalam pola pengasuhan di rumah.
Hasil kegiatan yang berlangsung mulai 1 Agustus hingga 10 September 2024, bertempat di Posyandu Desa Manisharjo, menunjukkan bahwa pendekatan edukatif dan demonstratif ini mampu meningkatkan pemahaman orang tua mengenai pentingnya gizi seimbang. Orang tua juga memahami praktik pengasuhan yang mendukung tumbuh kembang anak secara optimal.
Selama kegiatan pengabdian, para orang tua juga dibekali pemahaman mengenai pentingnya imunisasi dan kebersihan diri. Penyuluhan stimulasi motorik halus bagi anak usia dini juga dilakukan.
Meskipun menunjukkan hasil positif, Junita yang merupakan Kaprodi PG PAUD UMS itu mengakui bahwa kolaborasi lintas sektor ini masih menghadapi tantangan seperti keterbatasan waktu. Hal ini disebabkan belum adanya forum komunikasi berkelanjutan, serta belum tersedia pedoman kerja bersama.
“Ke depan, kami berharap adanya peningkatan koordinasi antara guru PAUD dan kader Posyandu, serta dukungan dari berbagai pihak untuk mengembangkan sistem pemantauan digital yang terintegrasi,” tambahnya.
Kegiatan ini turut didukung oleh Lembaga Pengabdian kepada Masyarakat dan Pengembangan Persyarikatan (LPMPP) UMS. Melalui kolaborasi ini diharapkan akan menjadi model praktik baik dalam pencegahan stunting berbasis komunitas yang dapat direplikasi di daerah lain. (Fika/Humas)




