ums.ac.id, SURAKARTA – Mahasiswa Program Studi Geografi Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) kembali menorehkan prestasi di tingkat internasional. Hian Risnandar, mahasiswa Geografi angkatan 2023, bersama Rafif Allaam Dhiyaulhaq, mahasiswa Geografi angkatan 2024, berhasil meraih Bronze Medal dalam ajang World Innovation for Sustainability Essay Competition (WISEC) 2026 melalui inovasi pengelolaan sampah organik yang mendukung pembangunan berkelanjutan.
Prestasi tersebut menjadi bukti komitmen mahasiswa Geografi UMS dalam menghadirkan solusi inovatif terhadap persoalan lingkungan global. Dalam kompetisi itu, keduanya didampingi oleh dosen Program Studi Geografi UMS, Dr. Choirul Amin, S.Si., M.M., yang memberikan pendampingan sejak penyusunan gagasan hingga proses presentasi di tingkat internasional.
WISEC 2026 mengangkat subtema Sustainable Environment sebagai wadah bagi generasi muda untuk menghadirkan inovasi yang mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya tujuan ke-11 tentang Sustainable Cities and Communities serta tujuan ke-13 mengenai Climate Action.
Pada kompetisi tersebut, Hian dan Rafif mengusung inovasi berjudul “Optimization of the Organic Quarantine Zone (OQZ) Tool for Organic Waste Management in Sawahan Village.” Gagasan tersebut berangkat dari kepedulian terhadap persoalan pengelolaan sampah organik rumah tangga yang masih menjadi tantangan di berbagai wilayah pedesaan.
“Organic Quarantine Zone (OQZ) merupakan sistem pengelolaan sampah organik berbasis wadah tertutup yang memungkinkan proses dekomposisi berlangsung secara alami dan lebih terkontrol,” jelas Hian, Selasa (30/6/2026).
Melalui sistem tersebut, proses penguraian sampah organik dapat berlangsung lebih efektif sekaligus mengurangi bau tidak sedap, mencegah gangguan hama, serta meminimalkan potensi pencemaran tanah maupun udara.
Selain menawarkan solusi praktis bagi pengelolaan limbah rumah tangga, inovasi tersebut juga mendukung implementasi SDGs 11 melalui upaya menciptakan lingkungan permukiman yang lebih sehat dan layak huni. Di sisi lain, pengurangan penumpukan sampah organik yang berpotensi menghasilkan emisi gas rumah kaca turut berkontribusi terhadap pencapaian SDGs 13 dalam mitigasi perubahan iklim.
Hian menilai bahwa inovasi yang sederhana dan mudah diterapkan justru memiliki peluang besar untuk memberikan dampak yang lebih luas. Menurutnya, peningkatan kesadaran masyarakat terhadap pengelolaan sampah merupakan salah satu kunci dalam mewujudkan lingkungan yang berkelanjutan.
Sementara itu, Rafif Allaam Dhiyaulhaq mengungkapkan bahwa partisipasi dalam kompetisi internasional tersebut menjadi pengalaman yang memperkaya kemampuan akademik sekaligus memperluas perspektifnya dalam memecahkan persoalan lingkungan.
“Ajang ini memberikan ruang bagi kami untuk belajar menghubungkan keilmuan geografi dengan solusi nyata atas permasalahan lingkungan yang dihadapi masyarakat,” ujarnya.
Dosen pendamping, Dr. Choirul Amin, S.Si., M.M., mengapresiasi capaian yang diraih kedua mahasiswa tersebut. Ia menilai keberhasilan ini menunjukkan bahwa mahasiswa Geografi UMS mampu bersaing di tingkat internasional sekaligus menghasilkan inovasi yang relevan dengan tantangan pembangunan berkelanjutan.
“Prestasi ini menunjukkan kapasitas mahasiswa Geografi UMS dalam mengembangkan gagasan yang tidak hanya memiliki nilai akademik, tetapi juga memberikan solusi bagi persoalan lingkungan yang dihadapi masyarakat,” ungkapnya.
Melalui raihan Bronze Medal pada WISEC 2026, Hian dan Rafif berharap inovasi Organic Quarantine Zone dapat terus dikembangkan dan diimplementasikan secara lebih luas. Mereka juga berharap prestasi ini dapat memotivasi mahasiswa UMS lainnya untuk terus berkarya, berinovasi, dan berkontribusi dalam menghadirkan solusi bagi berbagai tantangan global melalui bidang keilmuan masing-masing. (Fika/Humas)




