ums.ac.id, SURAKARTA – Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Siti Munjiyah Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) menggelar Masa Ta’aruf (Masta) IMM bertajuk “IMM Sebagai Homebase Mubaligh Akademisi” di halaman gedung FKIP selama dua hari pada tanggal 22-23 Agustus 2025.
Ketua Umum IMM Siti Munjiyah UMS, Muhammad Faris Abid Muwaffaq menyebut Masta IMM ini hadir sebagai orientasi awal atau pengenalan kepada mahasiswa baru mengenai keislaman, kemuhammadiyahan, dan ke-IMM-an.
“Sehingga dapat menumbuhkan sense of belong mahasiswa terhadap organisasi dan perguruan tinggi Muhammadiyah. Masta IMM juga menjadi ruang awal tumbuhnya watak kritis, kolaboratif, serta semangat mahasiswa,” ujar Muhammad Faris, Jumat (29/8).

Acara ini dibuka dengan pertunjukan tari Gambyong khas Surakarta sebagai penyambut tamu yang ditampilkan oleh Immawati Sherly. Kemudian dilanjutkan tilawah, lalu sambutan oleh Wakil Dekan FKIP, Dr. Miftahul Huda, M.Pd., Ketua Umum IMM Siti Munjiyah UMS, Muhammad Faris Abid Muwaffaq, dan Ketua Panitia Masta IMM Siti Munjiyah 2025, Fadly Imamuddin.
Mengangkat tema “IMM Sebagai Homebase Mubaligh Akademisi”, Faris selaku ketua umum menyampaikan bahwa tema ini dipilih sebagai penegasan bahwa IMM tidak hanya berperan sebagai organisasi biasa, tetapi juga bisa menjadi wadah pembinaan kader yang berorientasi pada 2 peran utama. Pertama, sebagai penyampai risalah Islam, sebagai mubaligh. Kedua, sebagai akademisi atau pengembang ilmu pengetahuan.
“Sehingga IMM dimaknai sebagai homebase karena menjadi rumah atau wadah bagi mahasiswa untuk mengintegrasikan nilai-nilai keislaman dengan budaya keilmuan. IMM juga melahirkan kader-kader yang religius, kritis, dan solusional terhadap umat maupun bangsa,” ungkap Faris.
Dihadiri 875 peserta yang tersebar dalam 24 kelas, Masta IMM Siti Munjiyah 2025 mendapat antusiasme tinggi dari mahasiswa baru untuk mengikuti perkaderan di perguruan tinggi Muhammadiyah.
“Acara ini berjalan lancar berkat koordinasi panitia dan partisipasi aktif mahasiswa. Walaupun ada beberapa kendala seperti keterlambatan peserta, komunikasi panitia di lapangan, serta manajemen waktu,” ungkap Faris.
Faris berharap peserta tidak hanya memaknai IMM sebagai organisasi tetapi juga sebagai ruang pengembangan diri yang seimbang antara nilai-nilai islam, kompetensi akademik, dan juga kepekaan sosial.
“Sehingga lulusan masta IMM ini dapat tumbuh menjadi pribadi yang berkarakter, berdaya kritis, dan memiliki komitmen untuk mengabdi kepada umat, bangsa, dan kemanusiaan secara luas,” harapnya.
Muhammad Farhan, selaku peserta Masta IMM Siti Munjiyah 2025 menyampaikan bahwa suasana selama Masta IMM kemarin cukup seru karena dapat berkenalan dengan mahasiswa program studi lainnya. Terutama ketika inagurasi, mahasiswa sangat antusias ketika menyampaikan orasi. (Irsyada/Humas)




