ums.ac.id, SURAKARTA – Program Studi Pendidikan Biologi Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) kembali menggelar International Conference on Biology Education, Natural Science, and Technology (Incobest) untuk ketiga kalinya. Konferensi virtual yang digelar pada Sabtu (5/7), menandai puncak rangkaian acara tahunan itu.
Konferensi Incobest 2025 bertujuan untuk mengeksplorasi kemajuan ilmiah terkini dalam ilmu pengetahuan alam dan lingkungan, membahas implikasi pendidikannya, dan berbagi praktik pedagogis yang inovatif.
Incobest menyediakan platform penting untuk bertukar pengetahuan, mendorong kolaborasi, dan mempromosikan metode pembelajaran inovatif untuk mempersiapkan generasi mendatang menghadapi lanskap ilmiah yang berkembang pesat.
Ketua panitia Incobest 2025, Muhammad Luthfi Hidayat, S.Pd.Si., M.Pd., Ph.D., menuturkan gelaran tahun ini mengangkat tema “Emerging Issues on Natural Science, Environment, and Its Learning Innovation”.
“Tahun ini kami fokus ke climate change (perubahan iklim). Kami mengundang aktivis dan pakar yang terkait topik tersebut,” ujar Luthfi saat dijumpai di sela acara.
Konferensi virtual Incobest 2025 menghadirkan tiga pembicara ahli, yakni Assoc. Prof. Peta J. White, Ph.D. dari Deakin University Australia, Dr. Wee Hin Boo dari Universiti Kebangsaan Malaysia, dan Dr. Santhyami, M.Si. dari UMS.
Peta J. White memaparkan pentingnya edukasi mengenai pembangunan berkelanjutan dan perubahan iklim. Wee Hin Boo menjelaskan topik seputar perubahan iklim di pesisir. Sementara Santhyami mengupas potensi tanaman lokal untuk melestarikan lingkungan dan kaitannya dengan budaya lokal.
Incobest 2025 turut menerima makalah ilmiah atau submit paper yang terbit di dua prosiding bereputasi, yakni BIO Web of Conferences yang terindeks Scopus dan Proceeding of International Conference on Biology Education, Natural Science, and Technology yang terindeks Garuda dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah RI.
Luthfi melanjutkan, paper yang dikirimkan juga akan terbit di tiga jurnal bereputasi terindeks SINTA, yakni Bioedukasi (SINTA 3), Bioeksperimen (SINTA 2), dan Edubiotik (SINTA 2). Jumlah pengirim makalah ilmiah tahun ini, kata Luthfi, mencapai 173 makalah. Pemakalah berasal dari Indonesia maupun mancanegara, meliputi Uzbekistan, Belarusia, Kazakhstan, Rusia, India, Malaysia, dan Thailand.
“Kami menerima makalah ilmiah dari dosen maupun mahasiswa,” sambung dosen Pendidikan Biologi UMS itu.
Luthfi membeberkan sejumlah mahasiswa Pendidikan Biologi UMS turut mengirimkan makalah ilmiah ke dalam Incobest 2025. Peserta mahasiswa umumnya didominasi mahasiswa semester akhir.
Makalah mahasiswa yang diikutsertakan dalam Incobest 2025 juga mendukung program pendidikan berbasis luaran (Outcome-Based Education/OBE). Makalah tersebut, terangnya, dapat menggantikan skripsi mahasiswa Pendidikan Biologi UMS.
“Memang salah satunya juga kami mendukung programnya UMS, yakni lulus berbasis luaran, ya (OBE). Alhamdulillah itu banyak sekali yang bisa memenuhi syarat OBE, sehingga dapat menjadi syarat kelulusan,” beber dia.
Melalui konferensi tersebut, Luthfi menyebut Incobest 2025 menargetkan diseminasi penelitian biologi dan pendidikan biologi agar lebih berdampak kepada komunitas masyarakat dan lingkungan.
“Kami ingin penelitian ini membawa manfaat untuk akademisi biologi. Juga kita ingin menunjukkan bagaimana penelitian terakhir sekarang terkait dengan isu climate change,” tutup Luthfi. (Gede/Humas)




