Tips dan Waktu Terbaik Olahraga selama Ramadan untuk Jaga Kebugaran Tubuh

Ilustrasi Olahraga saat Ramadan. Foto: Pexels

ums.ac.id, SURAKARTA – Selama bulan Ramadan, banyak orang yang ragu untuk tetap berolahraga karena khawatir akan mengganggu ibadah puasa. Namun, Kaprodi Pendidikan Jasmani Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Dr. Nur Subekti, M.Or., menegaskan bahwa olahraga bukan hanya bisa dilakukan, tetapi justru harus tetap dilakukan untuk menjaga kebugaran tubuh.

“Olahraga itu bukan sekadar bisa, tapi harus. Karena olahraga itu bukan obat, tetapi bagian dari menjaga kebugaran tubuh,” ujar Nur Subekti, Jumat (21/3).

Kaprodi Pendidikan Jasmani UMS, Dr. Nur Subekti, M.Or.

Menurutnya, berdasarkan literatur kesehatan, untuk mencapai kebugaran, seseorang perlu melakukan aktivitas fisik minimal tiga kali dalam seminggu. Namun, ia mengingatkan bahwa olahraga harus dilakukan dengan prinsip yang benar, termasuk memberi jeda untuk pemulihan (recovery) setelah latihan.

Dosen UMS itu juga menjelaskan bahwa waktu olahraga yang tepat saat Ramadan bisa disesuaikan dengan kondisi tubuh masing-masing.

“Jika tubuh terbiasa beraktivitas dalam kondisi puasa, olahraga di pagi hari tetap boleh dilakukan, tetapi dengan intensitas yang lebih ringan, seperti stretching atau latihan kelentukan. Bahkan, olahraga setelah sahur justru dapat mencegah rasa kantuk,” jelasnya.

Di sisi lain, waktu paling ideal untuk olahraga bagi semua kalangan adalah menjelang berbuka puasa. “Menanti berbuka bisa menjadi waktu terbaik untuk berolahraga. Tapi tetap harus disesuaikan dengan kondisi tubuh dan tidak memaksakan diri dengan intensitas tinggi,” tambahnya.

Ia merekomendasikan jenis olahraga yang ringan hingga sedang, terutama bagi masyarakat umum. Beberapa di antaranya adalah:
1. Stretching dan latihan kelentukan.
2. Latihan kekuatan dasar (bodyweight exercise): seperti push-up, sit-up, dan back-up.
3. Jogging ringan atau skipping, bagi usia di bawah 30 tahun.
4. Bersepeda atau berjalan kaki, untuk usia di atas 30 tahun.

Ia juga menekankan pentingnya memahami zona latihan, yang terbagi menjadi tiga: intensitas rendah, sedang, dan tinggi. “Di bulan puasa, latihan yang disarankan adalah intensitas rendah hingga sedang, karena metabolisme tubuh sedikit berbeda dibandingkan hari biasa,” ujarnya.

Meskipun manfaat olahraga sudah jelas, masih banyak masyarakat yang kurang menyadari pentingnya tetap aktif selama Ramadan. Nur Subekti menjelaskan bahwa di Program Studi Pendidikan Jasmani UMS, mahasiswa tetap menjalani mata kuliah praktik, hanya saja waktunya disesuaikan agar lebih nyaman.

“Jika biasanya latihan dilakukan pagi, selama Ramadan digeser ke sore hari. Ini membuktikan bahwa olahraga tetap bisa dilakukan dengan penyesuaian waktu tanpa mengganggu ibadah puasa,” tuturnya.

Menurutnya, masyarakat umum juga perlu lebih banyak edukasi mengenai pentingnya aktivitas fisik selama Ramadan. “Banyak yang menganggap puasa sebagai alasan untuk bermalas-malasan, padahal ini bisa berbahaya bagi sistem saraf. Jika tubuh tidak bergerak, sistem saraf bisa mengalami penurunan fungsi,” jelasnya.

Dalam kesempatan tersebut, ia memberikan tips berolahraga agar tetap fit selama Ramadan:
1. Niatkan olahraga sebagai bagian dari ibadah.
2. Kenali kondisi tubuh dan pilih waktu yang tepat untuk berolahraga.
3. Pastikan olahraga yang dilakukan aman dan sesuai kapasitas tubuh.
4. Lakukan olahraga sesuai dengan tahapan yang benar: pemanasan, latihan inti, dan pendinginan.

Dengan memahami pentingnya olahraga dan menerapkan pola latihan yang benar, umat Muslim tetap bisa menjaga kebugaran tubuh tanpa mengganggu ibadah puasa. “Allah mencintai Muslim yang kuat. Jadi, jangan jadikan puasa sebagai alasan untuk tidak beraktivitas,” tutupnya. (Fika/Humas)

Bagikan informasi ini kepada temanmu

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

News UMS kini hadir di Saluran WhatsApp dengan klik Universitas Muhammadiyah Surakarta