ums.ac.id, SURAKARTA – Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) menyelenggarakan webinar bertema kebencanaan bertajuk “Edukasi Lingkungan sebagai Upaya Mitigasi Bencana”, pada Rabu (7/1). Webinar ini menghadirkan narasumber Budi Setiawan, S.T., Ketua Lembaga Resiliensi Bencana (LRB) Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah atau yang biasa disebut Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC).
Webinar diawali dengan sambutan dari Wakil Rektor III, Dr. Mutohharun Jinan, M.Ag. Dalam sambutannya ia mengucapkan banyak berterima kasih atas terselenggaranya webinar ini dalam rangka pencerdasan mitigasi bencana.

“Tentu saja terima kasih kami ucapkan kepada Pak Budi Setiawan yang berkenan untuk bergabung bersama kami di UMS, dalam rangka untuk memberikan materi tentang pentingnya edukasi kebencanaan kepada masyarakat, kepada warga Muhammadiyah sejak dini,” ungkapnya.
Dalam mengawali pemaparannya, Budi Setiawan menjelaskan bahwa edukasi lingkungan merupakan langkah mendasar dalam membangun kesadaran masyarakat untuk mengurangi risiko bencana. Menurutnya, sebagian besar kejadian bencana yang terjadi di berbagai daerah tidak lepas dari ketidakseimbangan hubungan manusia dengan alam.
“Edukasi lingkungan menjadi bagian dari mitigasi sejak dini. Jangan sampai apa yang kita ketahui hanya berhenti pada pemahaman, tetapi harus ada tindakan nyata, baik secara individu maupun organisasi,” ujar Budi.
Budi menegaskan bahwa dalam perspektif Islam, manusia diamanahi sebagai khalifah di muka bumi. Artinya, manusia mempunyai kedudukan mulia sekaligus beban tanggung jawab besar untuk menjaga kelestarian alam, bukan justru merusaknya.

“Allah telah menjadikan manusia sebagai khalifah di bumi. Ini bukan hanya kedudukan yang istimewa, tetapi sekaligus tanggung jawab besar untuk menjaga alam semesta,” tuturnya.
Ia mencontohkan pengalaman MDMC dalam merespons berbagai bencana, termasuk longsor dan banjir di Sumatera. Dari berbagai peristiwa tersebut, terlihat bahwa kerusakan lingkungan seperti pembukaan hutan, alih fungsi lahan, dan eksploitasi sumber daya alam tanpa memperhatikan keseimbangan ekosistem menjadi faktor pendorong terjadinya bencana.
“Akibat keserakahan manusia, keseimbangan ekologi terganggu. Kerusakan itu kini nyata kita rasakan, dan ini harus menjadi peringatan bagi kita semua,” jelasnya.
Karena itu, Budi menekankan pentingnya mengembangkan edukasi lingkungan yang efektif di tingkat komunitas. Edukasi tersebut menurutnya harus melibatkan keluarga, sekolah, organisasi masyarakat, hingga struktur sosial terkecil di lingkungan warga. Dengan cara ini, masyarakat dapat memahami risiko sekaligus mengetahui langkah konkret dalam menjaga lingkungan.
“Partisipasi masyarakat sangat dibutuhkan. Edukasi lingkungan harus dimulai dari diri sendiri, keluarga, sekolah, hingga organisasi agar kita benar-benar siap menghadapi potensi bencana,” ungkapnya.
Menurut Budi, ekologi yang sehat akan melahirkan komunitas yang tangguh. Sebaliknya, kerusakan lingkungan akan berdampak luas, tidak hanya pada manusia tetapi juga pada hewan, sumber air, ketahanan ekonomi, hingga ketahanan sosial budaya.
Karena itu, ia mengajak seluruh elemen bangsa, khususnya warga Muhammadiyah, untuk memperkuat kesadaran ekologis sebagai bagian dari ibadah dan tanggung jawab moral.
“Jika ekologi terganggu, ketahanan komunitas juga akan melemah. Maka masyarakat harus disiapkan menjadi masyarakat siaga bencana, yang paham risiko dan tahu apa yang harus dilakukan,” tegasnya.
Dalam kesempatan tersebut, Budi juga menyebutkan bahwa MDMC terus mendorong gerakan pelestarian lingkungan dan mitigasi berbasis komunitas melalui berbagai program, termasuk melibatkan sekolah, relawan, pemuda, ibu-ibu PKK, dan unsur masyarakat lainnya. Gerakan ini diharapkan dapat membentuk budaya sadar bencana dan peduli lingkungan di tengah masyarakat.
Webinar ini diikuti oleh peserta dari berbagai latar belakang, mulai dari akademisi, mahasiswa, relawan, hingga masyarakat umum. Kegiatan ini menjadi sarana penguatan literasi kebencanaan sekaligus mengajak masyarakat untuk tidak hanya membicarakan isu lingkungan, tetapi juga mengambil langkah nyata dalam menjaga bumi sebagai amanah bersama. (Adi/Humas)




