UMS Mantapkan Bekal Spiritual Jamaah Haji lewat Kajian Tarjih

Kabid Pengamalan AIK dan Kaderisasi Pondok Lembaga Pengembangan Pondok Islam dan Kemuhammadiyahan (LPPIK) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Yayuli, S.Ag., M.P.I. (Foto Humas UMS)

ums.ac.id, SURAKARTA – Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) melalui Biro Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) secara rutin menyelenggarakan Kajian Tarjih secara daring. Pada hari Selasa, (29/4), merupakan lanjutan dari kajian pekan sebelumnya yang memaparkan secara mendalam mengenai tuntunan manasik haji berdasarkan Keputusan Musyawarah Nasional (Munas) Tarjih ke-28.

Kajian yang disampaikan oleh Narasumber Utama, Yayuli, S.Ag., M.P.I., ini menjadi bagian dari ikhtiar universitas dalam memberikan edukasi keislaman yang mendalam dan sesuai dengan perkembangan fikih tarjih Muhammadiyah. Materi kajian difokuskan pada rukun haji berupa tawaf, salah satu amalan inti dalam pelaksanaan ibadah haji.

“Tawaf secara bahasa berarti mengelilingi sesuatu. Dalam istilah syariat, tawaf adalah mengelilingi Ka’bah sebanyak tujuh kali dengan tata cara tertentu,” jelas Yayuli yang juga sebagai Dosen di Fakultas Agama Islam (FAI) UMS.

Ia menyampaikan bahwa tawaf diklasifikasikan menjadi tiga jenis, yakni Tawaf Qudum, Tawaf Ifadhah, dan Tawaf Wada’, masing-masing memiliki waktu dan fungsi tersendiri dalam rangkaian ibadah haji.

Yayuli juga menjelaskan bahwa pelaksanaan tawaf memiliki kesamaan dengan salat, yakni mensyaratkan kesucian dari hadas maupun najis, baik kecil maupun besar. Namun demikian, ada fleksibilitas dalam pelaksanaan tawaf apabila kondisi darurat tidak memungkinkan seseorang menjaga kesucian secara penuh.

“Dalam situasi jamaah sangat padat dan sulit untuk berwudhu kembali, syariat Islam memberikan keringanan agar ibadah tetap bisa dilaksanakan tanpa membebani jamaah. Ini sesuai dengan prinsip memudahkan dan menghindari kesulitan sebagaimana tercantum dalam Al-Baqarah ayat 185,” ujar Dosen UMS itu.

Kajian ini menjadi sangat relevan mengingat pada tahun ini UMS memberangkatkan 8 dosen dan tenaga kependidikan (tendik) ke Tanah Suci untuk menunaikan ibadah haji. Hal ini menjadi bentuk nyata komitmen UMS dalam memfasilitasi ibadah dan pengembangan spiritual sivitas akademika.

Dalam kesempatan tersebut, Yayuli menyampaikan doa agar para jamaah dari UMS diberikan kesehatan, kekuatan, dan kemudahan selama menjalankan rangkaian ibadah di Tanah Suci.

“Semoga mereka dapat meraih predikat haji yang mabrur,” tambahnya.

Kegiatan kajian ini juga membuka ruang diskusi dan tanya jawab dari peserta, sehingga pemahaman tentang manasik haji menjadi lebih komprehensif. UMS berharap melalui kajian ini, jamaah calon haji maupun sivitas akademika dapat memahami esensi ibadah haji secara mendalam sesuai tuntunan syariat. (Yusuf/Humas)

Bagikan informasi ini kepada temanmu

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

News UMS kini hadir di Saluran WhatsApp dengan klik Universitas Muhammadiyah Surakarta