Upaya Lestarikan Warisan Budaya Indonesia, Mahasiswa UMS Kenalkan Batik Jumputan di Selangor Malaysia

ums.ac.id, SURAKARTA – Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) mengikuti program Kuliah Kerja Nyata (KKN) Internasional Mangunsari Goes Abroad. Program ini merupakan kegiatan yang diselenggarakan oleh Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah VI Jawa Tengah.

Hanifah Herawati dan Naswa Labibah, dua mahasiswa UMS yang tergabung dalam KKN Internasional Mangunsari Goes Abroad menggelar kegiatan edukatif berupa pelatihan membatik dengan jenis batik Jumputan.

Batik jumputan, atau yang dikenal pula sebagai batik ikat celup, merupakan salah satu teknik membatik tertua di Indonesia yang memiliki nilai budaya tinggi. Berbeda dengan batik tulis dan batik cap yang menggunakan malam (lilin batik), batik jumputan dibuat dengan cara mengikat bagian-bagian kain menggunakan tali atau karet, kemudian mencelupkannya ke dalam larutan pewarna.

“Proses pengikatan atau jumput inilah yang menghasilkan motif-motif unik, simetris, dan khas yang tidak bisa diulang secara persis, sehingga setiap lembar batik jumputan menjadi karya yang benar-benar satu-satunya,” terang Hanifah, Selasa (23/06/2026).

Dalam pelaksanaannya, mahasiswa UMS dibantu oleh guru Sanggar Bimbingan (SB) Banting, Selangor, Malaysia, Kamis (11/6/2026). Mereka membimbing anak-anak dalam setiap tahapan, mulai dari tahap melipat dan mengikat kain, mencelup ke larutan pewarna, hingga membuka ikatan untuk mengungkap motif yang terbentuk. Keseluruhan proses ini dirancang agar mudah dipahami dan menyenangkan bagi anak-anak.

Kegiatan ini disambut antusias oleh seluruh peserta. Bagi sebagian besar anak, kegiatan ini merupakan pengalaman pertama mereka bersentuhan langsung dengan teknik membatik. Rasa penasaran dan kegembiraan terpancar jelas saat mereka mulai bereksperimen dengan pilihan warna dan cara mengikat kain untuk menghasilkan motif yang berbeda-beda.

Murid SB Banting, Josua mengungkapkan kesenangannya saat membatik. “Seru banget. Aku bisa eksperimen banyak warna dan motif biar batiknya cantik. sebelumnya juga belum pernah mencoba, tapi ternyata asik,” ujar Josua.

Lebih dari sekadar kegiatan seni, praktik membatik jumputan ini juga menjadi sarana pembelajaran multidimensi bagi anak-anak. Proses memilih warna, menentukan pola ikatan, dan mengolah kain, secara langsung melatih kreativitas, kesabaran, serta kemampuan pemecahan masalah secara sederhana.

“Tapi secara tidak langsung, anak-anak juga ditanamkan rasa bangga dan kecintaan terhadap budaya bangsa Indonesia, meski mereka tumbuh dan besar di perantauan,” ujar Naswa.

Melalui pendekatan edukasi yang menyenangkan, mahasiswa delegasi UMS berharap anak-anak binaan SB Banting tidak hanya memperoleh keterampilan baru, tetapi juga memahami bahwa warisan budaya adalah sesuatu yang berharga untuk dijaga dan dibanggakan. (Affiq/Humas)

Bagikan informasi ini kepada temanmu

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

News UMS kini hadir di Saluran WhatsApp dengan klik Universitas Muhammadiyah Surakarta