Webinar PSLD UMS, Wujudkan Kampus Inklusif bagi Penyandang Disabilitas

ums.ac.id, SURAKARTA – Pusat Studi Layanan Disabilitas (PSLD) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) menggelar webinar bertajuk “Menuju Kampus Inklusi yang Ramah Disabilitas”.

Ketua PSLD UMS Dr. Minsih, M.Pd., mengatakan webinar tersebut bertujuan untuk menyosialisasikan komitmen UMS menjadi kampus inklusi. UMS telah memiliki dokumen kebijakan untuk mendukung langkah tersebut.

“Apalagi gedung-gedung di UMS, mulai dari Gedung Induk Siti Walidah, kampus I, dan kampus II sudah sangat aksesibel untuk penyandang disabilitas,” ujar Minsih, Jumat (11/4).

Adapun narasumber yang hadir dalam webinar tersebut, antara lain Kepala Pusat Studi Disabilitas Universitas Sebelas Maret Prof. Dr. Munawir Yusuf; peneliti pendidikan inklusif dan disabilitas dari Universitas Djuanda, Bogor, Prof. Dr. Rasmitadila, M.Pd.; serta peneliti dan pemerhati disabilitas dari Hiroshima University, Jepang, Nurul Hidayati Rofiah M.Pd.I., Ph.D.

Munawir Yusuf mengemukakan gagasan urgensi kampus di Indonesia menjadi kampus inklusi yang ramah terhadap disabilitas. Dirinya juga membagikan pengalaman UNS selama 38 tahun sebagai kampus yang menerima orang-orang disabilitas yang melanjutkan studi di UNS.

Pusat studi berperan dalam memberikan pelayanan perkuliahan bagi mahasiswa penyandang disabilitas, hingga aksesibilitas sarana dan prasarana kuliah. Munawir membeberkan tiga kunci keberhasilan kampus inklusi, yakni kebijakan, praktik, dan budaya.

“Jika ketiganya dijalankan dengan baik, maka kampus inklusi pasti ramah terhadap disabilitas,” jelas Munawir.

Pemateri kedua, Rasmitadila, membagikan pengalamannya melakukan riset di negara-negara maju, seperti Amerika serikat, Belanda, maupun Finlandia. Ia turut membagikan pengalamannya dan mendiseminasikan hasil risetnya terkait model layanan terpadu bagi perguruan tinggi yang akan menerapkan pendidikan inklusif di kampusnya agar lebih ramah terhadap disabilitas.

Sementara pemateri ketiga, Nurul Hidayati Rofiah, membagikan pengalamannya selama mengajar di Hiroshima University. Kampus tersebut terbilang sangat ramah terhadap disabilitas.

Nurul mengaku pernah mengajar mahasiswa yang memiliki hambatan dalam berbicara. Salah satu teknik mengajar yang ia gunakan adalah memberikan kesempatan penyandang disabilitas untuk berbicara di depan publik.

“Tujuannya agar mahasiswa tersebut dapat membangun kepercayaan dirinya,” kata Nurul.

Hadirnya dua orang juru bahasa isyarat menjadi daya tarik tersendiri dalam webinar kali ini. Kedua juru bahasa tersebut adalah Bilal dan Wafi. Ketua PSLD UMS mengatakan keduanya berasal dari Program Studi Pendidikan Luar Biasa UNS.

“Alhamdulillah para peserta sangat antusias mengikuti kegiatan ini sampai selesai, terlihat pada animo peserta yang bertanya sangat banyak,” tambah Minsih.

Dalam acara yang digelar pada secara darinKamis (10/4).Dia berharap UMS dapat bertransformasi menjadi kampus inklusi. Sebab, pendidikan tinggi harus menyentuh berbagai lapisan dan golongan masyarakat, termasuk kaum penyandang disabilitas.

“Semoga UMS dapat menciptakan budaya inklusif dan membangun kesadaran sivitas akademika agar lebih peduli terhadap kebutuhan penyandang disabilitas,” pungkas Minsih. (Gede/Humas)

Bagikan informasi ini kepada temanmu

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

News UMS kini hadir di Saluran WhatsApp dengan klik Universitas Muhammadiyah Surakarta