Tingkat Kepercayaan Pemilih Muda Pemilu 2024 Meningkat, Ini Pemicunya

Prof. Ihwan Susila, yang dikukuhkan sebagai guru besar bidang manajemen FEB UMS, bersama dua guru besar FEB lainnya, Prof. Farid Wajdi dan Prof. Zulfikar. (Tok Suwarto/Koran Gala)

KORAN GALA – Tingkat kepercayaan pemilih muda dalam pemilihan presiden dalam masa kampanye, sejak pemilihan umum yang digelar pada 2019 dan 2024 terus mengalami peningkatan.

Pemicu meningkatnya kepercayaan generasi muda terhadap partisipasi politik tersebut, di antaranya karena banyak partisipan Pemilu yang menggunakan komunikasi pemasaran politik untuk membangun merk politik.Guru besar bidang ilmu manajemen Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Prof. Dr. Ihwan Susila, mengungkapkan temuannya itu, ketika dikukuhkan sebagai guru besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) di Edutorium KH Ahmad Dahlan, Sabtu (17/2/2024).

“Kita baru saja melaksanakan Pemilu 2024 pada tanggal 14 Februari 2024. Saya menemukan, pada masa kampanye Pemilu 2019 tingkat kepercayaan pemilih muda sudah meningkatkan. Temuan tersebut berdasarkan pada persepsi pemilih muda Indonesia, terhadap komunikasi simbolik yang digunakan calon presiden sebagai bagian dari merk politik mereka,” katanya.

Prof. Ihwan Susila berpendapat, peningkatan kepercayaan pemilih muda dalam Pemilu, tergantung pada nilai budaya dan cerita yang tertanam dalam komunikasi, dan disajikan dalam format yang berhubungan dengan norma budaya.Guru besar FEB itu mengutip contoh, bentuk komunikasi yang terkait norma budaya antara lain saat politisi membangun reputasi menggunakan dialog, negosiasi dan persuasi.

“Komunikasi simbolik dengan tidak memaksa dalam mengelola pedagang kaki lima yang berpotensi konflik, itu mencerminkan kualitas budaya Jawa yang lembut. Kemudian, ada calon presiden yang terpilih berdasarkan platform anti korupsi. Dia terpilih karena dipandang sebagai pemimpin populis yang bersih dan memiliki kemampuan memimpin,” jelasnya.

Dalam kaitan itu, Prof. Ihwan Susila, melihat, komunikasi simbolik yang tertanam dalam referensi budaya juga diterapkan untuk membangun merk dan membantu membangun kepercayaan di kalangan pemilih muda.

Menurut dia, merk politik yang menarik kalangan pemilik muda muncul melalui disrupsi sosial. Politisi membangun merk mereka melalui lingkungan budaya dan menggunakan metafora, bahasa, dan pakaian untuk membantu membangun kepercayaan.

Dalam orasi ilmiah berjudul “Kepercayaan, Harapan dan Komunikasi Simbolik: Sebuah Kajian Perilaku Pemilih Muda dalam Perspektif Pemasaran Politik,” Prof. Ihwan menyebutkan hasil penelitiannya.

Dipaparkannya ada kandidat yang berupaya menampilkan gaya penanda karakter, dengan aksen dan penyampaian pesan yang menunjukkan kelembutan dan kesetiaan kepada masyarakat.

Sumber: https://www.koran-gala.id/news/58711899521/tingkat-kepercayaan-pemilih-muda-pemilu-2024-meningkat-ini-pemicunya