
Oleh: Main Sufanti
LITERASI merupakan isu yang sering dibahas dalam berbagai kesempatan. Banyak informasi yang menyatakan bahwa literasi masyarakat Indonesia rendah.
Dalam rangka merawat literasi, tiga Program Studi (PBSI S1, MPBI S2 dan PBIPB S3) FKIP Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) mengadakan The 4th Icollit (International Conference on Language Literature and Teaching) pada 12 Juni 2025 di Gedung Edutorium KH Ahmad Dahlan kampus setempat.
Tema seminar itu adalah Revitalizing Literazy Culture. Tema yang dipilih mencerminkan kepedulian bersama terhadap menurunnya budaya literasi di era digital. Harapannya, apa yang dibahas dalam konferensi dapat mendorong lahirnya inovasi dan kolaborasi lintas bidang untuk menguatkan minat baca, tulis dan berpikir kritis masyarakat.
Salah seorang pembicara, Dr Ganjar Harimansyah SS MHum menyatakan bahwa dalam rangka menghadapi era VUCA dibutuhkan literasi yang bukan biasa-biasa, yang sering dipahami sebagai keterampilan membaca dan menulis. Namun masyarakat perlu memiliki literasi digital dan literasi multimodal.
Kegiatan merawat literasi juga dilakukan tim Program Kreativitas Mahasiswa Universiats Muhammadiyah Surakarta (PKM UMS) dengan judul “ Penguatan Literasi Jurnalistik Digital Berbasis Majalah Sekolah sebagai Pembentuk Jiwa Wirausaha Siswa SMK di Era Ekonomi Digital”. PKM yang didanai Kemendikti Saintek itu diketuai Dr Main Sufanti MHum, didukung dosen dan mahasiswa dari tiga program studi yaitu PBSI, Teknok Elektro dan Teknik Informatika.
Dua kegiatan tersebut menunjukkan begitu pentingnya masyarakat memiliki literasi digital yang memadai. Informasi hadir begitu cepat dengan media yang semakin beragam, canggih dan mempesona. Informasi tidak perlu dicari dengan susah payah, tetapi hadir begitu mudah, bahkan datang tanpa diundang. Masyarakat perlu memiliki kemampuan yang cerdas dalam menghadapi informasi-informasi tersebut.
Literasi digital adalah kemampuan untuk mengakses, memahami dan menggunakan informasi melalui perangkat teknologi. Dengan demikian, literasi digital bukan hanya tentang kemampuan teknis menggunakan perangkat digital, tetapi mencakup kemampuan berpikir kritis, menerapkan etika dan melindungi diri dari potensi bahaya di dunia maya.
Apakah masyarakat Indonesia sudah memiliki literasi digital yang memadai? Media massa dan media sosial sering mengabarkan adanya dampak negatif dari internet. Kasus penipuan pinjol, kecanduan game, konten pornografi, kekerasan verbal merupakan dampak internet.
Dampak negatif semakin masif jika masyarakat memperlakukan internet sebagai dunia tanpa batas, dunia tanpa aturan dan dunia penuh kebebasan. Perlakuan masyarakat seperti itu perlu segera diluruskan. Bahwa penggunaan internet harus menerapkan etika yang membuat manusia semakin manusiawi.
Banyaknya dampak negatif tersebut menunjukkan, masyarakat Indonesia telah memiliki literasi digital yang tinggi, tetapi literasi dasarnya rendah. Masyarakat antusias menggunakan internet, tetapi kemampuan membaca dan menulisnya rendah. Inilah yang perlu mendapat perhatian semua elemen masyarakat, terutama dunia pendidikan.
Literasi dasar berupa kemampuan membaca dan menulis menjadi dasar literasi digital. Membaca dan menulis perlu dirawat untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis dan berfikir tingkat tinggi untuk menghindari dampak negatif dalam berliterasi digital.**
Penulis adalah Dr Main Sufanti MHum, Dosen Program Studi PBSI FKIP Universitas Muhammadiyah Surakarta
Sumber: https://solo.suaramerdeka.com/opini/0515444756/merawat-literasi




