Kejahatan Tanpa Niat: Saat “Sok Tahu” Menghancurkan Hidup Orang Lain

Ilustrasi (Foto: Canva)
Ilustrasi (Foto: Canva)

Antara Niat dan Dampak: Sebuah Paradoks Moral

Konsep mens rea, atau pikiran jahat, dianggap sebagai komponen kejahatan dalam hukum kontemporer. Namun, realitas sosial sangat kompleks. Mereka yang merasa benar tetapi tidak tahu sering kali merupakan orang yang paling berbahaya bagi masyarakat.

Al-Qur’an tidak sekadar berbicara tentang niat, tetapi lebih dalam dari itu: tentang tanggung jawab epistemis — kewajiban seseorang untuk mendasarkan tindakannya pada pengetahuan yang benar dan terverifikasi (Nurrohim, 2019). Dalam pandangan ini, bertindak berdasarkan asumsi yang belum terverifikasi bukanlah sekadar kekeliruan intelektual, ia adalah pelanggaran moral.

Al-Jahl dalam Al-Qur’an: Lebih dari Sekadar Kebodohan

Kata Arab jahl (جهل) sering diterjemahkan sebagai “kebodohan,” tetapi pemahaman itu terlalu sempit. Kajian semantik Al-Qur’an mengungkap dimensi yang jauh lebih kaya. Jahl dalam Al-Qur’an, menurut penafsiran kontemporer, tidak merujuk semata pada ketiadaan pengetahuan, melainkan pada sikap bertindak tanpa ilmu yang memadai, bahkan bisa terjadi pada orang yang berpendidikan tinggi sekalipun (Ummah, 2023).

Makna jahl dalam Al-Qur’an menggunakan pendekatan tafsir bi al-ma’tsur, menekankan bahwa term ini dalam Al-Qur’an mencakup tiga dimensi: (a) ketidaktahuan intelektual, (b) penolakan terhadap kebenaran meskipun bukti sudah ada, dan (c) tindakan sembrono yang merusak tanpa pertimbangan memadai (Nurrohim, 2025). Dimensi ketiga inilah yang paling relevan dengan fenomena “sok tahu” di era digital.

Tabayyun: Kewajiban Epistemis yang Dilupakan

Al-Qur’an memiliki banyak solusi. Ayat enam dalam surah Al-Hujurat adalah salah satu ayat paling efektif yang pernah ditulis. Ayat ini berisi bukan hanya nasihat moral yang abstrak, tetapi juga langkah-langkah praktis yang dapat diterapkan untuk menghentikan tindakan jahat tanpa niat.

Bi-jahālah adalah frasa kunci dalam ayat ini, yang berarti “karena kebodohan” atau “dalam keadaan tidak tahu”. Al-Qur’an dengan jelas menyatakan bahwa tindakan yang dilakukan dalam keadaan tidak tahu adalah yang paling mungkin menyebabkan kerusakan. Ini adalah pengakuan yang sangat canggih tentang psikologi manusia bahwa orang yang merasa paling yakin sering melakukan kesalahan paling fatal.

Konsep tabayyun dalam Al-Hujurat 6 memiliki relevansi praktis yang sangat tinggi dalam konteks media sosial: dampak hoaks bukan sekadar ketidaknyamanan informatif, tetapi dapat “menimbulkan rasa panik, memicu kesalahpahaman, menyulut kebencian, dan memecah belah publik.” (Parhan, 2021) Ini adalah dampak kejahatan nyata yang terjadi tanpa niat kejahatan dari pelakunya.

Konsep tabayyun juga ditelaah dalam konteks etika komunikasi Al-Qur’an yang lebih luas. Etika komunikasi Al-Qur’an dan relevansinya dengan komunikasi modern, tabayyun ditempatkan sebagai satu dari prinsip-prinsip etis fundamental yang mendukung kesehatan sosial komunitas (Nurrohim, 2024). Ia bukan sekadar anjuran adab, melainkan fondasi epistemis yang membedakan masyarakat yang beradab dari yang tidak.

Hikmah Sebagai Antitesis “Sok Tahu”

Jika jahl adalah penyakitnya, Al-Qur’an menawarkan hikmah sebagai obatnya. Konsep hikmah dalam Tafsir Al-Mizān karya Thabathabā’i menemukan bahwa kata ini memiliki tiga dimensi makna yang saling mengikat: dimensi ontologis (hikmah sebagai anugerah Ilahi), dimensi epistemologis (pemahaman mendalam terhadap agama dan realitas), dan dimensi aksiologis (hikmah sebagai panduan tindakan kebaikan) (Nurrohim, 2019).

Dimensi epistemologis ini paling dekat dengan fenomena sok tahu. Dalam hal ini, hikmah bukan sekadar kecakapan atau hafalan; itu adalah kemampuan untuk menahan diri dari bertindak ketika Anda belum tahu cukup. Paradoksnya, orang yang bijak ditandai dengan kemampuan untuk mengatakan, “Saya tidak tahu” dalam situasi di mana mereka benar-benar tidak tahu.

Psikologi modern menyebut kualitas ini sebagai epistemic humility, kerendahan hati intelektual. Sebuah studi meta-analisis yang diterbitkan di Psychological Bulletin(Krumrei-Mancuso & Rouse, 2021) menemukan bahwa individu dengan tingkat epistemic humility yang tinggi menunjukkan korelasi positif yang signifikan dengan kualitas pengambilan keputusan, integritas moral, dan harmoni interpersonal. Dengan kata lain, kemampuan untuk berkata “aku tidak yakin” bukan tanda kelemahan, ia adalah tanda kematangan intelektual dan moral.

Moderasi Beragama dan Etika Informasi

Konsep moderasi Islam dalam tafsir an-Nur dan tafsir Kementerian Agama RI menemukan bahwa moderasi sejati mengandung dimensi epistemis yang kuat: ia menuntut seseorang untuk tidak berlebihan dalam keyakinan dan terbuka terhadap kemungkinan bahwa pemahamannya mungkin tidak lengkap (Nurrohim, 2024). Ini secara langsung berbanding terbalik dengan sikap “sok tahu” yang justru ditandai oleh keyakinan berlebihan terhadap pengetahuan yang tidak terverifikasi.

Dalam surah Al-Hujurat, etika sosial Al-Qur’an terdiri dari larangan merendahkan (ayat 11), memata-matai (ayat 12), dan tabayyun (ayat 6). Sistem ini menunjukkan bahwa kerusakan sosial biasanya dimulai dari kebiasaan kecil yang tidak terkontrol, seperti suka membicarakan orang lain, terlalu cepat mengambil kesimpulan, dan terlalu percaya pada asumsi sendiri.

Ujaran kebencian di era digital adalah manifestasi paling berbahaya dari absennya tabayyun dan hikmah dalam komunikasi dan hampir semuanya dilakukan oleh orang yang merasa sedang menyebarkan “kebenaran.” (Lubis, 2023).

Psikologi Konfirmasi: Sains di Balik “Sok Tahu”

Bagaimana bisa begitu banyak orang cerdas terjebak dalam pola sok tahu? Psikologi kognitif telah menemukan dengan tepat mekanismenya. Bias pengakuan, yaitu kecenderungan untuk mencari informasi yang mengonfirmasi keyakinan yang sudah ada, membuat kita secara selektif mengambil berita yang “masuk akal” menurut perspektif dunia kita tanpa benar-benar memverifikasinya.

Masalah utama penyebaran misinformasi bukan ketidakmampuan berpikir kritis, melainkan kegagalan untuk mengaktifkan kemampuan berpikir kritis itu ketika menerima informasi yang menarik secara emosional (Pennycook, 2021). Ini persis yang Al-Qur’an peringatkan dengan frasa “janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui” karena kita cenderung mengikuti apa yang menarik emosi kita, bahkan tanpa menyadarinya.

Episteme dan Akuntabilitas di Era Pasca-Kebenaran

Kita hidup di era paradoks di mana kepercayaan pada kebenaran semakin rapuh, sementara akses informasi belum pernah semudah ini. Dalam situasi seperti ini, “sok tahu” bukan sekadar kelemahan pribadi; itu adalah bencana kultural yang memerlukan respons intelektual dan spiritual yang serius.

Al-Qur’an memberikan dasar yang kuat untuk menangani situasi ini. Tabayyun adalah caranya. Kualitas yang dimaksud adalah hikmah. Mas’ūliyyah al-qawl, prinsip yang menggerakkan keduanya, adalah tanggung jawab atas setiap kata. Dan kesadaran bahwa kita akan dimintai pertanggungjawaban bukan hanya atas tindakan tetapi juga atas cara kita mengolah pengetahuan kita adalah dasar untuk mengubah cara kita berbicara dan bertindak.

Seorang ibu di kota kecil itu gagal memperbaiki reputasi anaknya. Karena tidak ada bukti niat jahat, penyebar pesan tidak pernah dihukum. Namun, Al-Qur’an sudah tahu ribuan tahun sebelum psikologi kognitif bahwa kejahatan yang paling sulit dilawan bukan yang berasal dari hati yang jahat, tetapi dari mulut yang terlalu yakin.


Nama : Aqdam Aufa Qisthi
NIM: G100240063
Fakultas Agama Islam
Universitas Muhammadiyah Surakarta

Bagikan informasi ini kepada temanmu

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

News UMS kini hadir di Saluran WhatsApp dengan klik Universitas Muhammadiyah Surakarta