Prabowo Targetkan Swasembada Pangan 2025, Guru Besar UMS: Banyak Tantangan

Prabowo Targetkan Swasembada Pangan 2025, Guru Besar UMS: Banyak Tantangan

Esposin, SOLO — Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka menargetkan swasembada pangan tercapai pada 2025. Namun, mewujudkan kemandirian pangan pada tahun 2025 dinilai bukanlah perkara mudah.

Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Anton Agus Setyawan, mengatakan terdapat berbagai rintangan, baik di tingkat nasional maupun global, yang menghantui upaya Indonesia untuk menghentikan ketergantungan pada impor pangan.

“Isu ketahanan pangan semakin mendesak di tengah peningkatan jumlah penduduk dunia dan ancaman perubahan iklim yang mempengaruhi produktivitas pangan,” ungkapnya melalui keterangan tertulis yang diterima Espos, Selasa (21/1/2025).

Dia mengatakan Indonesia pernah mencicipi masa kejayaan swasembada pangan di era Orde Baru, bahkan mendapat penghargaan dari Food and Agriculture Organization (FAO), organisasi PBB di bidang pangan dan pertanian.

“Namun, kondisi berbalik 180 derajat. Kini, beras, jagung, kedelai, dan berbagai komoditas pangan lainnya masih harus diimpor dari luar negeri,” lanjutnya.

Anton menguraikan sejumlah tantangan yang mengadang jalan menuju swasembada pangan yang ditargetkan Prabowo-Gibran. Di sektor hulu, produktivitas pertanian yang fluktuatif menyebabkan pasokan pangan tidak stabil. “Fenomena harga anjlok saat panen raya dan melonjak di luar musim panen menjadi pemandangan yang berulang,” jelasnya.

Kondisi ini seringkali berujung pada kebijakan impor jangka pendek untuk menambal kekurangan pasokan. Sedangkan pada sektor hilir, sistem distribusi yang belum efisien juga menjadi problem krusial.

“Mendistribusikan pangan ke seluruh wilayah Indonesia, terutama ke Jawa sebagai pusat konsumsi, bukanlah hal yang mudah. Ini berdampak pada ketidakstabilan harga dan akses masyarakat terhadap pangan,” papar guru besar UMS tersebut.

Kebijakan food estate yang digalakkan pemerintah di Kalimantan dan Papua menawarkan secercah harapan untuk meningkatkan produksi pangan. Namun, Anton menyampaikan beberapa catatan penting.

Menurutnya, keberhasilan food estate sangat bergantung pada ketepatan pemilihan jenis tanaman, keterlibatan aktif petani lokal, dan dukungan infrastruktur yang memadai. Anton menekankan mencapai swasembada pangan sesuai target Presiden Prabowo membutuhkan lebih dari sekadar wacana dan rencana.

“Pemerintah harus fokus pada eksekusi yang cermat, memahami karakteristik lahan di tiap daerah, dan melibatkan petani sebagai aktor utama,” ujarnya.

Selain itu, pemerintah juga dituntut untuk memperbaiki sistem distribusi, mengantisipasi dampak perubahan iklim, dan merumuskan strategi yang efektif dalam mengendalikan harga pangan.


Sumber: https://solopos.espos.id/prabowo-targetkan-swasembada-pangan-2025-guru-besar-ums-banyak-tantangan-2051335