Industri Tekstil Indonesia, Bangkit atau Mati?

Oleh : Prof Dr Anton A Setyawan, SE,MSi (Guru Besar Ilmu Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis UMS)

INDUSTRI tekstil dan produk tekstil (TPT) adalah salah satu industri padat karya yang berkontribusi penting pada perekonomian nasional. Pada Maret 2023, ekspor tekstil Indonesia mengalami kenaikan sebesar 16,87 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Namun, data ini masih perlu dicermati karena belum merujuk pada kinerja tahunan industri TPT Indonesia. Data 2022 menunjukkan industri ini menyerap kurang lebih 3,6 juta orang tenaga kerja dan menyumbang 6,38 persen PDB dari sektor nonmigas. Namun demikian, kinerja industri tekstil Indonesia sepanjang 2022 mengalami penurunan.

Data Badan Pusat Statistik (BPS), ekspor tekstil dan produk tekstil Indonesia hanya mencapai 1,5 juta ton, atau turun 17 persen dibandingkan pada 2021. Angka ini jauh lebih rendah dibandingkan dengan pada awal pandemi Covid-19. Pada level global memang terjadi penurunan permintaan terhadap produk tekstil, namun terjadi kenaikan nilai ekspor. Hal ini ditunjukkan dari nilai ekspor tekstil pada 2022 yang hanya turun 6,5 persen menjadi US$ 4,3 miliar.

Industri TPT Indonesia pernah menjadi primadona pada masa kejayaannya, yaitu pada dekade 1980-an. Namun saat ini para pelaku bisnis tekstil dan produk tekstil di Indonesia harus bertahan mati-matian untuk menjaga kelangsungan hidup bisnis mereka. Pelaku bisnis tekstil saat ini mengalami banyak masalah internal maupun eksternal yang menyebabkan penurunan kinerja bisnis mereka.

Masalah eksternalnya penurunan permintaan global karena perlambatan ekonomi. Perang antara Rusia dan Ukraina yang sampai saat ini belum usai berdampak pada kondisi ekonomi global, terutama terkait dengan ancaman inflasi yang mengurangi daya beli negara-negara Eropa dan AS. Masalah eksternal kedua adalah iklim investasi yang tidak bersahabat. Upah minimum yang di masa lalu menjadi keunggulan industri ini saat ini adalah variabel eksternal yang paling susah dikendalikan. Daya tawar serikat buruh yang semakin kuat menjadi penyebab upah minimum tidak lagi menjadi daya saing.

Permasalahan internal industri tekstil terkait dengan efisiensi produksi. Pergeseran industri ini dari padat karya ke padat modal dengan penemuan mesin-mesin dan pemanfaatan teknologi produksi menyebabkan pabrik tekstil di Indonesia harus melakukan penyesuaian.

Aktivitas dan Kebijakan Inovasi

Saat ini Indonesia menjadi produsen tekstil peringkat 21 yang menyuplai pasar dunia. Urutan teratas negara penyuplai tekstil saat ini adalah China, Bangladesh, Vietnam, Pakistan, dan India. Huong (2022) dalam sebuah kajian tentang industri TPT di China, Bangladesh, Vietnam, Pakistan dan India menemukan bahwa pelaku industri tekstil di lima negara tersebut melakukan aktivitas inovasi berupa pengembangan produk dengan mengombinasikan penerapan teknologi baru dan penggunaan baru dalam industri tekstil. Kedua, pengembangan produk baru berdasarkan eksplorasi pengetahuan baru tentang penggunaan produk akhir tekstil. Ketiga, pengembangan produk tekstil baru berdasarkan penggunaan bahan mentah baru dengan proses produksi yang terus menerus diperbaiki. Keempat, secara periodik perusahaan melakukan evaluasi terhadap proses bisnis dan melakukan perbaikan terus menerus.

Para pelaku bisnis tekstil di China, Bangladesh, Vietnam, Pakistan dan India selanjutnya melakukan beberapa kebijakan untuk tindak lanjut dari aktivitas inovasi di atas. Antara lain meningkatkan kualitas sumber daya manusia untuk mendukung aktivitas inovasi. Kedua, mendorong diversifikasi produk sesuai dengan kesepakatan perdagangan tekstil di level global. Ketiga, mendorong aktivitas pengembangan desain produk. Keempat, mendorong inovasi bahan baku lokal. Kelima, pengembangan prosedur pembiayaan untuk investasi baru dalam bisnis tekstil.

Secara umum, kunci sukses dari industri tekstil adalah inovasi dalam produksi, desain produk, proses bisnis serta strategi pemasaran. Empat negara ini bahkan mulai mengembangkan teknologi produksi tekstil yang ramah lingkungan. Ketika diproduksi massal bisa menghasilkan harga yang lebih murah (Van De Venn, 2022).

Tekstil Indonesia?

Sejak awal industri tekstil dan produk tekstil di Indonesia memang mempunyai fondasi yang lemah. Hal ini dikarenakan hampir semua bahan mentah dan bahan baku dari industri ini, mulai dari kapas dan pewarna tekstil masih impor. Mesin-mesin tekstil juga masih didatangkan dari luar negeri, sehingga ketergantungan impor industri TPT tinggi. Keunggulan kompetitif di masa lalu yang bersumber dari biaya tenaga kerja yang murah tidak ada lagi karena posisi tawar serikat pekerja semakin kuat. Beberapa pabrik tekstil di Indonesia saat ini melakukan strategi bertahan hidup dengan memindahkan operasionalnya ke daerah-daerah dengan upah minimum provinsi/kabupaten yang rendah untuk mengurangi biaya produksi. Beban biaya produksi bisnis tekstil juga semakin tinggi karena ekonomi biaya tinggi yang muncul dari pungutan liar dari oknum birokrat. Pemerintah juga kurang memberikan insentif pada pelaku bisnis tekstil di Indonesia.

Dalam kondisi seperti ini para pelaku industri TPT di Indonesia harus melakukan perbaikan internal. Pelaku industri harus berpikir tentang efisiensi produksi dan mengurangi ketergantungan terhadap impor bahan mentah dan bahan baku. Pengembangan produk yang berbasis serat bahan lokal serta pewarna alami lokal sudah seharusnya dikaji dengan kerjasama dengan perguruan tinggi agar dapat diproduksi secara masal. Pada sisi lain industri TPT juga memerlukan bantuan dari pemerintah berupa pemberian insentif, misalnya adanya pemotongan pajak bagi perusahaan tekstil yang menggunakan kandungan lokal 80 persen. Selain itu, kebijakan pemerintah untuk menghilangkan pungutan liar juga bisa membantu industri TPT nasional. Kita semua berharap industri tekstil bisa bangkit kembali, mengingat perannya yang strategis bagi perekonomian nasional. (*)

Sumber : https://radarsolo.jawapos.com/opini/24/05/2023/industri-tekstil-indonesia-bangkit-atau-mati/