Guru Besar UMS Beri Tips Cara Mengurangi Dampak Negatif Gadget pada Anak

Guru Besar UMS Beri Tips Cara Mengurangi Dampak Negatif Gadget pada Anak

Esposin, SOLO — Guru Besar Psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Sri Lestari, mengingatkan dampak negatif gadget pada anak, termasuk potensi brain rot atau kemunduran fungsi otak dan speech delay atau keterlambatan bicara pada anak akibat kecanduan gadget.

Sri Lestari menyoroti fenomena anak-anak yang sudah diberi gadget sejak usia dini. Menurutnya, usia ideal anak baru boleh memiliki gadget pribadi di usia SMP, sekitar 12 tahun ke atas. Karena pada usia itu anak sudah memiliki kontrol diri dan kemampuan memilah informasi yang beredar di sosial media.

“Sayangnya, kenyataan di lapangan berbeda. Banyak orang tua yang memberikan gadget pada anak balita,” kata dia ketika dihubungi Espos, belum lama ini.

Sri Lestari menjelaskan dampak negatif pada anak yang terlalu banyak terpapar gadget di antaranya cenderung pasif. Waktu mereka habis untuk menatap layar, minim interaksi dengan lingkungan, dan kurangnya stimulasi yang diperlukan untuk perkembangan otak dan bicara.

Dia menekankan anak-anak butuh interaksi dan stimulasi, seperti diajak bicara, bernyanyi, dan bermain. Stimulasi ini merangsang perkembangan organ bicara dan melatih mereka untuk berbicara

“Ketika anak fokus pada gadget, mereka hanya melihat dan meniru, tanpa didorong untuk berkomunikasi secara aktif,” kata guru besar UMS tersebut.

Dampak negatif lain penggunaan gadget berlebih pada anak bisa mengakibatkan speech delay. Anak yang mengalami keterlambatan bicara akan mengalami kesulitan dalam bersosialisasi, berinteraksi dengan teman sebaya, dan mengekspresikan diri.

Mereka rentan menjadi sasaran ejekan, merasa minder, dan frustrasi karena tidak dapat menyampaikan keinginan dan perasaannya. Terapi wicara dapat membantu mengatasi speech delay. Namun, Sri Lestari menekankan pentingnya peran keluarga dan pola asuh yang tepat.

Orang tua harus aktif berinteraksi dengan anak, memberikan stimulasi yang sesuai dengan usia dan tahap perkembangannya, serta menghindari meniru cara bicara anak yang belum jelas.

Role Model

“Orang tua adalah model bagi anak. Jika anak bicara cadel, jangan ditiru. Berikan contoh yang benar dan dukung mereka untuk belajar berbicara dengan baik,” papar ahli psikologi keluarga itu.

Untuk mencegah dampak negatif gadget pada anak, Sri Lestari menyebut ada beberapa cara yang bisa dilakukan orang tua. Pertama, membatasi screen time anak. Anak usia dini sebaiknya tidak diberi gadget. Jika memang diperlukan, batasi penggunaannya maksimal 30 menit per hari dengan konten yang mendidik dan sesuai usia.

Kedua, memperbanyak aktivitas di luar gadget. Ajak anak bermain, membaca buku, berolahraga, dan melakukan aktivitas lain yang merangsang kreativitas dan perkembangan mereka.

Ketiga, menjadi role model yang baik. Orang tua juga harus membatasi penggunaan gadget dan menunjukkan kepada anak bahwa ada banyak hal menarik yang dapat dilakukan di luar dunia digital.

Keempat, membacakan cerita. Kegiatan ini tidak hanya merangsang perkembangan bahasa, tetapi juga menanamkan kecintaan terhadap buku dan membangun ikatan emosional antara orang tua dan anak.

Selain itu, Sri Lestari juga menegaskan pentingnya peran negara dalam mengendalikan dampak negatif gadget pada anak. Pemerintah perlu membuat aturan yang jelas tentang screen time pada anak, khususnya di bawah usia 6 tahun, dan melakukan sosialisasi secara masif kepada masyarakat.

Sementara untuk media sosial, meskipun memiliki potensi negatif, dapat juga memberikan manfaat jika digunakan dengan bijak dan terkontrol. Media sosial dapat menjadi sarana untuk mengakses informasi, berkomunikasi, belajar, dan mengembangkan kreativitas.

“Namun, orang tua harus mendampingi dan membimbing anak dalam menggunakan media sosial agar mereka terhindar dari konten negatif dan kecanduan,” kata dia.


Sumber: https://news.espos.id/guru-besar-ums-beri-tips-cara-mengurangi-dampak-negatif-gadget-pada-anak-2051243