ums.ac.id, SURAKARTA – Suara riuh rendah anak-anak terdengar memenuhi ruang belajar Sanggar Bimbingan (SB) Kelana Jaya, Malaysia, pada Kamis, 11 Juni 2026. Di sekeliling meja belajar yang tertata rapi, mata-mata kecil berbinar penuh rasa ingin tahu saat dua mahasiswi dari Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) mengangkat selembar uang kertas berwarna merah ke udara. Itulah momen awal dari program “Mengenal Uang Indonesia” yang dilaksanakan oleh mahasiswa KKN Internasional Batch 3 UMS sebagai bagian dari program kerja edukatif mereka di Malaysia.
Program ini digagas dan dilaksanakan oleh Dhini Hilyati dari Program Studi Ilmu Gizi dan Asrofi Noor Masithoh dari Program Studi Keperawatan, keduanya tergabung dalam KKN Internasional Batch 3 UMS yang bertugas di Malaysia. Kegiatan ini menyasar murid-murid Sanggar Bimbingan Kelana Jaya, yang sebagian besar merupakan anak-anak dari keluarga pekerja migran Indonesia.
Melalui pendekatan interaktif, para mahasiswi memperkenalkan berbagai pecahan mata uang rupiah kepada peserta, mulai dari nominal terkecil hingga terbesar, disertai penjelasan mengenai gambar dan simbol yang tercetak di setiap lembarnya. Respon para siswa sangat unik dan menarik yang menunjukkan keingintahuannya tentang Indonesia.

Saat Dhini menunjukkan uang pecahan Rp10.000 bergambar Pahlawan Frans Kaisiepo yang merupakan pahlawan Indonesia asal Papua, seorang murid bernama Rafi langsung mengangkat tangannya dan bertanya penuh semangat, “Kak, itu gambar siapa? Kenapa wajahnya ada di uang?” Pertanyaan sederhana itu memantik diskusi hangat di antara anak-anak, yang tak henti-hentinya saling bertukar tebakan tentang gambar-gambar yang tercetak pada setiap lembar uang rupiah yang dipegang oleh para mahasiswi.
“Kami tidak menyangka mereka sebegitu antusiasnya. Ada yang bertanya kenapa di uang ada gambar bunga, ada yang penasaran kenapa warnanya berbeda-beda. Pertanyaan-pertanyaan mereka justru membuat sesi ini jadi lebih hidup dan menyenangkan,” ujar Dhini mengenang kegiatannya, Senin (15/6/2026).
Kegiatan yang berlangsung selama kurang lebih dua jam tersebut dirancang seinteraktif mungkin. Selain sesi tanya jawab, para mahasiswi juga mengajak anak-anak bermain kuis menebak nominal uang dan menceritakan gambar yang ada di dalamnya. Antusiasme peserta tidak pernah surut hingga akhir sesi. Bahkan beberapa anak masih berkerumun meminta melihat lebih dekat lembaran-lembaran uang rupiah tersebut, seolah enggan beranjak dari kegiatan yang terasa baru bagi mereka.
Asrofi Noor Masithoh menjelaskan bahwa metode pembelajaran melalui media konkret seperti uang asli dinilai jauh lebih efektif dibandingkan hanya menampilkan gambar di layar. Menurutnya, ketika anak-anak bisa melihat, memegang, dan mengamati langsung setiap detail pada uang rupiah, mereka menjadi lebih mudah memahami dan menyimpan informasi yang disampaikan. Asrofi juga menyampaikan bahwa banyak peserta yang baru pertama kali memegang uang rupiah secara langsung, mengingat keseharian mereka di Malaysia lebih sering berinteraksi dengan ringgit.
“Ada anak yang bilang, ‘Kak, uangnya bagus! Gambarnya banyak dan warna-warni.’ Mendengar itu rasanya haru, karena kita sadar betapa pentingnya mengenalkan simbol-simbol kebangsaan kepada mereka sejak dini, meski mereka ada di luar negeri,” ungkap Asrofi Noor Masithoh.
Program “Mengenal Uang Indonesia” menjadi salah satu wujud nyata pengabdian mahasiswa UMS dalam memperkenalkan identitas dan simbol-simbol kebangsaan kepada anak-anak diaspora Indonesia di luar negeri. Lebih dari sekadar mengenalkan alat tukar, kegiatan ini menanamkan rasa cinta tanah air melalui cara yang paling dekat dengan keseharian, lewat pertanyaan-pertanyaan kecil penuh rasa ingin tahu yang terlontar dari mulut anak-anak. Menurut Asrofi, ini menjadi tanda bahwa benih kecintaan pada Indonesia masih tumbuh, meski di bumi orang.
Sanggar Bimbingan Kelana Jaya merupakan salah satu lembaga pendidikan non-formal yang menjadi mitra program KKN Internasional UMS di Malaysia. Sanggar ini menampung anak-anak dari keluarga pekerja migran Indonesia di kawasan Kelana Jaya, sekaligus menjadi jembatan penting bagi mereka untuk tetap mendapatkan akses pendidikan dan pembinaan karakter di perantauan.
Syaiba selaku pengelola Sanggar Bimbingan turut menyambut baik program yang dibawakan oleh mahasiswa UMS tersebut. Ia menyatakan kegembiraannya melihat antusiasme anak-anak selama kegiatan berlangsung. “Saya melihat anak-anak sangat senang. Dengan adanya pengenalan uang Indonesia ini, mereka jadi tahu bahwa ada banyak hal menarik di balik selembar rupiah yang selama ini mungkin belum pernah mereka perhatikan,” tutur Syaiba. (Maysali/Humas)




