ums.ac.id, SURAKARTA – Bulan Muharram merupakan bulan pertama dalam kalender Islam. Muharram termasuk juga dalam empat bulan yang diharamkan oleh Allah SWT untuk berperang karena termasuk dalam bulan yang sangat dimuliakan oleh Allah. Keutamaan bulan Muharram juga disebutkan oleh ulama bahwa amalan saleh akan dilipatgandakan.
Salah satu amalan di bulan Muharram yang sangat dianjurkan adalah puasa. Dosen Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) Yayuli, S.Ag., M.P.I., mengupas tuntunan pelaksanaan puasa sunnah di bulan Muharram dalam pandangan Muhammadiyah.
Mengawali pemaparan, Yayuli menyebut Majelis Tarjih dan Tajdid (MTT) Muhammadiyah menegaskan prinsip utama bahwa tidak ada perayaan atau ritual tahun baru khusus yang jatuh di bulan Muharram. Namun, MTT menegaskan untuk memperbanyak amalan ibadah pada bulan Muharram.
أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ
“Puasa yang paling utama setelah Ramadhan adalah puasa pada bulan Allah, yaitu Muharram.” (HR. Muslim dari Abu Hurairah ra.)
Hadis tersebut menganjurkan keutamaan untuk berpuasa sunnah, yakni puasa di bulan Muharram. Menurut Yayuli, hadis tersebut merupakan fondasi utama untuk memperbanyak amalan-amalan ibadah di bulan Muharram.
“Rasulullah menganjurkan untuk berpuasa pada tanggal 9 dan 10 pada bulan Muharram,” paparnya, Rabu (17/6/2026).
Mengenal puasa asyura, puasa asyura dilaksanakan pada tanggal 10 Muharram dan merupakan peringatan keselamatan Nabi Musa dan para pengikutnya dari kejaran Fir’aun. Puasa asyura merupakan ibadah sunnah muakkad atau sunnah yang tidak pernah ditinggalkan oleh Rasulullah SAW semasa hidupnya. Meninjau hadis Rasul, Yayuli mengatakan bahwa puasa asyura memiliki keutamaan luar biasa bagi orang yang melaksanakannya.
“Akan dihapus dosa satu tahun bagi orang yang melaksanakan puasa asyura,” jelasnya.
Selanjutnya, Rasul juga menganjurkan puasa pada tanggal 9 Muharram, yang disebut dengan puasa Tasu’a, sebagai penegas identitas dan pembeda dengan tradisi kaum Yahudi. Menurut yayuli, puasa tasu’a merupakan puasa yang dicita-citakan oleh Rasulullah semasa hidupnya, tapi belum sempat mengerjakannya.
“Rasulullah berimpian untuk melaksanakan puasa tasu’a sebagai bentuk pembeda atau cara menyelisihi ritual puasa kaum yahudi pada tanggal 10 Muharram,” terangnya.
Yayuli menambahkan bahwa para ulama juga menganjurkan untuk berpuasa pada tanggal 10 dan 11 Muharram sebagai alternatif puasa sebagai cara untuk menyelisihi tradisi puasa kaum Yahudi.
Namun, Yayuli menegaskan bahwa kombinasi puasa pada tanggal 9 dan 10 Muharram menjadi amalan puasa sunnah yang paling direkomendasikan oleh Muhammadiyah.
Yayuli juga menyinggung pergantian tahun sering kali identik dengan momen muhasabah diri. Namun, Yayuli menegaskan bahwa muhasabah diperintahkan untuk dilaksanakan terus menerus tanpa batas waktu.
“Muhasabah itu harus dilakukan di setiap waktu, bukan hanya pada momen-momen tertentu,” ujarnya.
Pada akhirnya, Yayuli mengatakan bahwa Muhammadiyah menganjurkan untuk memperbanyak melaksanakan ibadah yang telah dijelaskan secara autentik oleh Al-Qur’an dan hadis maqbullah, dengan melaksanakan ibadah puasa tasu’a dan asyura, memperbanyak amalan-amalan ibadah sunnah lainnya, dan menghindari kegiatan-kegiatan yang berbau kemaksiatan. (Affiq/Humas)




