ums.ac.id, SURAKARTA – Al-Quran menyerukan kepada hamba Allah untuk menjadi umat yang bertakwa, dalam artian senantiasa menjalankan perintah syariat dan menjauhi segala larangannya. Pada penghujung ayat-ayat surat Al-Furqan. Allah menjelaskan karakteristik orang yang beriman dan bertakwa secara autentik yang disebut dengan ibadurrahman.
Salah satu karakteristik ibadurrahman yaitu senantiasa mendoakan pasangan dan anak keturunannya menjadi keluarga yang bertakwa. Dosen Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) Dr. Hakimuddin Salim, Lc., M.A., menerangkan metode tarbiyah islamiyah berupa mendidik dengan doa lewat tafsir Q.S Al-Furqan ayat 74.
وَالَّذِيْنَ يَقُوْلُوْنَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ اَزْوَاجِنَا وَذُرِّيّٰتِنَا قُرَّةَ اَعْيُنٍ وَّاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِيْنَ اِمَامًا ٧٤
“Dan orang-orang yang berkata, Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami penyejuk mata dari pasangan dan keturunan kami, serta jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.”
Hakimuddin menjelaskan pada ayat tersebut terdapat kalimat doa yang familiar di telinga umat muslim, pasalnya seringkali doa tersebut seringkali dipanjatkan pada kegiatan-kegiatan keagamaan umat muslim. Doa tersebut termasuk salah satu doa yang paling penting dalam kehidupan berkeluarga.

“Orang yang memanjatkan doa yang tercantum pada surat Al-Furqan ayat 74, termasuk dalam karakteristik ibadurrahman, karena peduli dengan generasi yang akan datang,” terangnya, Rabu (15/7/2026).
Menurutnya, kebiasaan memanjatkan doa tersebut menunjukkan seorang hamba yang tidak hanya memperkuat kesalehan dalam dirinya sendiri atau memiliki hubungan kuat secara vertikal dengan Allah. Namun, memiliki hubungan sosial dan memperhatikan ketahanan hubungan keluarga yang kokoh.
Makna qurrota a’yun dipahami secara sederhana yaitu ketika orang tua senang melihat keturunannya meraih capaian-capaian duniawi. Tetapi, Hakimuddin mengutip tafsir Imam Thabari yang menjelaskan makna qurrota a’yun bagi orang beriman yakni mewujudkan keturunan yang meraih capaian ubudiyah.
“Capaian duniawi hanya sementara dan akan sirna. Tapi capaian ubudiyah akan berlanjut dan menghantarkan orang tua dalam kehidupan abadi di akhirat,” jelasnya
Sedangkan As-sa’di menguatkan kriteria qurota ayun. Menurut As-sa’di, obsesi dan cita-cita orang tua yang beriman yaitu memanifestasikan dan melihat keturunannya taat kepada Allah serta beramal sesuai dengan ilmunya.
As-sa’di juga menyebut keberadaan doa pada Q.S Al-Furqan ayat 74 yang hakikatnya untuk diri sendiri dan umat muslim pada umumnya. Hakimudin memahami kebaikan sebuah keluarga akan memberikan dampak baik untuk masyarakat luas.
“Keluarga itu miniatur sebuah bangsa. Jika ingin melihat bangsa yang baik, maka kita perbaikan miniatur kecil berupa keluarga itu terlebih dahulu,” ujarnya.
Pada ayat ini terdapat hierarki penyebutan antara pasangan dan anak. Penyebutan pasangan yang terletak lebih dulu menunjukkan isyarat bahwa pasangan yang baik akan menentukan keturunan yang baik juga, begitu sebaliknya. Rasulullah juga menjadikan parameter orang terbaik yaitu orang yang paling baik kepada pasangannya.
Sebagai orang tua, lantunan doa baik yang dipanjatkannya termasuk dalam doa yang mustajab atau dikabulkan oleh Allah SWT. Hakimuddin mengutip hadits Rasulullah yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah bahwasanya Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Tiga doa yang mustajab, yang tidak diragukan lagi, yaitu doa orang yang dizalimi, doa orang yang sedang safar dan doa baik orang tua untuk anaknya.” (H.R. Ibnu Majah)
“Maka jika kita ingin untuk sukses, maka hendaknya kita meminta doa orang tua agar setiap langkah perjalanan kita dimudahkan oleh Allah,” tambahnya.
Ia juga menekankan agar orang tua menghindari perkataan-perkataan yang buruk. Menurutnya, ucapan-ucapan buruk itu dapat menjadi doa yang bisa jadi dikabulkan oleh Allah SWT.
“Ubahlah perkataan umpatan kepada anak dengan perkataan-perkataan yang baik, agar tidak menghadirkan konsekuensi yang buruk kepada anak-anak kita,” pungkasnya.
Lebih lanjut, Hakimuddin mengatakan bahwa doa orang tua sebagai bukti cinta tulus kepada anak-anaknya sebab dilakukan tanpa sepengetahuan anak-anaknya. Berbeda dengan kebaikan orang tua yang bersifat material, karena di setiap kebaikan itu terdapat rasa pamrih.
“Doa orang tua atau guru sebagai orang tua di dunia pendidikan menjadi bukti ketulusan mengajar dan mencintai yang autentik,” pungkasnya. (Affiq/Humas)




