Hadiri Awalussanah MIM Digdaya Bolon, Wakil Dekan I FKIP UMS Tekankan Pentingnya Sinergi Penanaman Adab di Era Digital

ums.ac.id, SURAKARTA – Wakil Dekan I Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) , Dr. Miftakhul Huda, M.Pd., hadir sebagai Keynote Speaker dalam agenda Awalussanah Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah (MIM) Digdaya Bolon pada Sabtu (11/7/2026).

Dalam kesempatan tersebut, beliau membawakan materi bertajuk “Sinergi Orang Tua dan Madrasah dalam Penanaman Adab” dengan mengusung semangat bahwa adab dan prestasi harus berjalan berdampingan.

Miftakhul Huda mengajak para wali murid untuk berrefleksi mengenai kebiasaan sehari-hari bersama anak, seperti rutinitas sarapan bersama dan keteladanan yang ditiru anak dari orang tuanya. Beliau memaparkan bahwa generasi anak saat ini dibesarkan oleh lingkungan yang sangat berbeda, di mana mereka terpapar smartphone, media sosial, kecerdasan buatan (AI), game online, hingga YouTube.

“Anak-anak kita sedang hidup pada zaman yang belum pernah dialami oleh generasi mana pun. Namun, tidak ada teknologi yang mampu menggantikan pendidikan adab dari orang tua dan guru,” tegasnya, Rabu, (15/7/2026).

Lebih lanjut, Akademisi UMS ini menyoroti fenomena di mana banyak anak memiliki IQ dan wawasan tinggi, namun kurang memiliki empati dan rasa hormat. Menurutnya, hal ini terjadi karena lingkungan sering kali lebih sibuk menanyakan “Berapa nilainya?” dibandingkan menanyakan “Hari ini kamu sudah berbuat baik kepada siapa?”. Beliau mengingatkan bahwa prestasi memang bisa membuat anak diterima di sekolah terbaik, namun adab lah yang membuat anak diterima di mana saja.

Dalam pemaparannya, ia juga menggarisbawahi mengapa sinergi antara rumah dan madrasah sangat vital. Beliau menjelaskan beberapa poin penting terkait hal ini:

1. Anak bisa menjadi bingung apabila nilai yang diajarkan di rumah dan di madrasah tidak sejalan atau berbeda arah.
2. ⁠Pendidikan adab tidak boleh hanya diserahkan kepada pihak sekolah, mengingat anak hanya menghabiskan waktu sekitar 6-7 jam di sekolah, sementara lebih dari 17 jam dihabiskan di rumah.
3. ⁠Orang tua memegang peran sebagai madrasah pertama bagi anak, sedangkan guru di sekolah berfungsi sebagai penguat.

Untuk menanamkan karakter secara efektif, Miftakhul Huda membagikan “Formula Penanaman Adab”, yang porsinya terdiri dari 10% nasihat, 30% pembiasaan, dan 60% keteladanan. Beliau menekankan bahwa anak lebih mudah meniru apa yang mereka lihat daripada sekadar mendengarkan instruksi.

Selain itu, pendidikan adab di madrasah tidak hanya dibebankan kepada guru yang mengajar di kelas. “Budaya madrasah dibangun oleh semua warga sekolah. Satpam, petugas kebersihan, tenaga administrasi, hingga penjaga kantin semuanya adalah pendidik, karena anak belajar dari siapa pun yang mereka temui,” urainya.

Menyesuaikan dengan konteks kekinian, Wakil Dekan I FKIP UMS ini juga menyinggung pentingnya menanamkan “Adab di Era Digital”. Orang tua dan pendidik didorong untuk mengajarkan anak agar berkomentar dengan santun, tidak menyebarkan hoaks, menghargai privasi, menghindari bullying, dan menggunakan AI secara bertanggung jawab.

Menutup presentasinya yang menggugah, Miftakhul Huda memberikan pesan menyentuh kepada seluruh wali murid tentang hakikat mendidik anak sebagai investasi masa depan.

“Mungkin kita tidak mampu mewariskan miliaran rupiah. Namun kita semua mampu mewariskan kejujuran, tanggung jawab, kesantunan, dan cinta kepada Allah. Warisan itulah yang nilainya tidak pernah habis,” pungkasnya. (Fika/Humas)

Bagikan informasi ini kepada temanmu

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

News UMS kini hadir di Saluran WhatsApp dengan klik Universitas Muhammadiyah Surakarta